Keunggulan dan kelemahan teknologi EVDO

Berbeda dengan teknologi GSM yang berevolusi melalui EDGE -> WCDMA -> HSDPA/HSUPA -> HSPA+, CDMA berevolusi menjadi CDMA 2000 1x -> EVDO Rev. A -> EVDO Rev. B. EVDO awalnya singkatan dari Evolution Data Only, namun biar menjual diganti Evolution Data Optimized. Kata kuncinya adalah “data only”, artinya memisahkan saluran “data” dengan “suara”.

Keunggulan cara ini adalah saluran data tidak bersaing dengan saluran suara. Analoginya seperti jalur busway TransJakarta. Jalur ini (secara teoritis :D ) terpisah dari jalur lalu-lintas umum. Di saat jalur suara sibuk, misalnya menjelang Lebaran, jalur data tidak akan terpengaruh.

Namun hal ini juga menjadi kekurangannya. Saluran jadi tidak dinamis. Saat jalur suara kosong, jalur data yang padat tidak dapat mengunakan jalur suara. Demikian juga sebaliknya. Hal ini tentu berbeda dengan GSM, dimana jalur data dan suara bersaing menggunakan jalan, seperti sepeda motor yang bersaing dengan mobil :D .

Lalu mana yang lebih cepat? Sepertinya tidak berhubungan dengan teknologi, tetapi lebih kepada banyaknya umat yang memakai. Seperti kemacetan Jakarta, seberapapun jumlah jalan ditambah, tidak mampu mengimbangi jumlah pertumbuhan kendaraan. Itulah kenapa menggunakan operator “kecil” sering lebih cepat dari operator “besar”, tapi masalahnya jangkauan jaringan operator “kecil” umumnya tidak seluas operator “besar”.

Cacing dan kotoran kesayangannya

Dikisahkan ada dua orang biksu yang bersahabat karib. Kemana-mana keduanya selalu bersama-sama. Namun pada siklus kehidupan berikutnya , mereka terpisah. Yang satu menjadi dewa di surga.

Sang dewa pun mencari temannya. Dicari di surga, tidak ketemu. Dicari di dunia manusia, tidak ketemu. “Tidak mungkin menjadi hewan!”, pikirnya. Tapi karena begitu cintanya pada sahabatnya itu, akhirnya dia cari juga di dunia hewan.

Singkat cerita, sang dewa menemukan temannya dilahirkan kembali menjadi seekor cacing di sebuah kotoran hewan. Karena kasihan, sang dewa pun mengajaknya untuk pergi ke surga. Namun sang cacing tidak mau, dia pengin tetap berada di kotoran hewan itu. Sang dewa pun menceritakan keadaan di surga, bahwa setiap sesuatu akan ada hanya dengan memikirkannya. Jika ingin hidangan lezat, istana megah atau pakaian indah; tinggal memikirkannya saja.

Lalu sang cacing bertanya,”Apakah di surga ada kotoran?”

“Tentu saja tidak!”, jawab sang dewa.

“Kalau begitu aku tidak mau!”, jawab sang cacing sambil membenamkan dirinya ke dalam kotoran.

Sang dewa berpikir bahwa sang cacing mungkin akan berubah pikiran jika dia sudah melihat surga. Dengan menutup hidung, sang dewa memasukkan tangan lembutnya ke dalam kotoran. Namun sang cacing tetap aja menolak dan mengelak. Sampai 108 kali (yup, sebelum cerita ini terdapat 108 cerita dalam buku yang mengajak pada kebaikan) sang dewa mencoba menariknya dari kotoran, namun sang cacing tetap saja tidak mau. Akhirnya sang dewa menyerah, dan meninggalkan cacing dalam kotoran.

Cerita tersebut ditulis oleh Ajahn Brahm, seorang wiharawan ternama. Maksud dari cerita itu adalah: kadang kita keras kepala seperti cacing. Diberitahu tentang kebaikan tetapi lebih memilih suatu kesenangan yang sebenarnya hanya sebuah “kotoran”.

Namun menurut saya ada yang kurang dari pesan moral cerita tersebut; bahwa kita kadang menjadi sang dewa yang -menurut saya- kurang bijaksana. Kadang kita merasa sudah punya kunci surga, lalu memaksa orang untuk ikut masuk ke surga kita; bahkan tanpa sengaja menjadi jumawa, merasa “menyelamatkan” orang dari neraka sengsara. Bagaimana jika kotoran itu memang “surga” bagi cacing? Mengapa kita pikir cacing butuh makanan lezat, pakaian indah dan istana megah? Atau yang dibutuhkannya memang hanya sekedar kotoran?

Bernafas lagi..

Terima kasih Tuhan… telah memberiku kesempatan untuk bernafas lagi. Di tengah himpitan pekerjaan dan badai dari para dewa (begitu istilah di kantor :D ), Kau memberiku jeda. Yah..sebuah jeda kemanusiaan agar terhindar dari kegilaan :D

Beberapa cita-cita terkabul dalam beberapa hari ini. Di antaranya pulang ketika hari masih terang :D Dan tahukah Anda apakah bahagia itu? Bahagia itu adalah membuang sampah! Ya, membuang sampah di pagi hari bersama anak. Dibonceng di depan, dia bernyanyi sepanjang jalan.

Kopi

Suatu hari saya naik kereta dari Bandung menuju Jogja. Sengaja saya memilih kereta siang agar bisa menikmati pemandangan. Di samping saya, duduk seorang Bule turis backpacker asal Spanyol. Sehabis makan siang dia memesan kopi. Dia bilang itu ritualnya setelah makan biar perutnya enak. Tidak berapa lama datanglah segelas besar kopi hitam yang dipesannya. Dia terkejut,mungkin yang diharapkan “hanya” secangkir kopi. Diminum sedikit lalu diletakkan ke meja kecil sebelah jendela.

Kemudian dia bertanya,”Kenapa di Jawa ini tidak ada budaya kopi?” Saya gelagapan. Budaya minum kopi secara umum masih kalah dengan budaya minum teh. Yang menemani sarapan dan cemilan sore hari umumnya teh. Dan saya yakin maksud pertanyaannya lebih dari itu. Kalo di sini ada yang “berbudaya minum kopi”, yang diminum capuccino atau espresso, hasil budaya Italiano. Kebanyakan orang minum kopi hitam atau kopi tubruk, yang hanya kopi diseduh air panas, biar ga pahit ditambah gula. Kok rasa-rasanya kurang nilai “budaya”-nya. Kopi susu agak rancu dengan espresso, entah siapa yang duluan. Mungkin hasil “budaya” kita malah coffemix(kopi campur – tidak bermaksud menyebut merk), campuran kopi+krimer+gula namun tidak berbusa seperti capuccino.

Pertanyaan 3-4 tahun lalu itu masih menggelitik saya sampai sekarang. Kopi sering disebut java dalam bahasa Inggris seperti kata china untuk keramik. Mungkin bayangan Bule tadi, ketika dia berada di Java dia akan berada ditengah-tengah java(kopi). Bahkan kalo kita pergi ke toko-toko, yang ada adalah Kopi Aceh, Kopi Deli, Kopi Lampung, Kopi Toraja, Kopi Manggarai dan sebagainya. Saya belum pernah ketemu Kopi Jawa. Mungkin hanya saya saja yang kurang pengetahuan. Kenapa demikian ya? Apa karena dulu yang minum para Bule Kolonial sedang nenek moyang kita hanya jadi pekerja saja?

Kabel komponen

Kabel komponenoutput komponen video

Beberapa minggu yang lalu saya membeli TV baru. Saat itu saya mendapat tips dari penjualnya bahwa alih-alih menggunakan kabel video ‘biasa’ lebih baik menggunakan kabel komponen untuk menyambungkan DVD Player ke TV. Katanya gambar jadi lebih bagus dan lebih murah daripada kabel HDMI.

Kebetulan (sialnya, lebih tepat), selesai saya setting TV itu, giliran DVD Player yang ngambek, padahal sebelumnya sehat-sehat saja. Kebetulan (lagi), anak saya lagi gemar-gemarnya nonton Upin & Ipin. Setiap kali dia melihat TV hidup, Upin & Ipin harus berada di sana. DVD Player-lah yang menyediakan kebutuhan itu. Jadilah saya harus mencari DVD Player juga keesokan harinya.

Saya teringat…

selamat ulang tahun, Nduk..

rifqa

selamat pagi Nduk…
kamu mungkin belum tahu.. mengapa hari ini spesial buatmu..
bukan hari tepatnya.. melainkan tanggal..

tanggal yang istimewa karena tepat setahun lalu kau bertemu dengan dunia..
tanggal yang sama dengan berdirinya pabrik tempat bapakmu jadi kuli..

dan mungkin kamu heran..
mengapa bapakmu malah menghadiri perayaan ulang tahun di tempat yang sering membuatnya tergopoh-gopoh dan terlihat bodoh..
daripada mendatangi senyum manis dan ocehan lucumu..

tempat yang membuat bapakmu hanya mengunjungimu sekali-kali lalu pergi lagi..

selamat ulang tahun Nduk..
jadilah teman yang menyenangkan buat ibumu..

selamat ulang tahun Nduk..
semoga tumbuh menjadi gadis cantik, pinter dan menentramkan…

Penentuan Awal Bulan Qamariah

Penentuan awal bulan tahun qamariah (lunar year), apalagi jika dikaitkan dengan dua bulan penting dalam sistem penanggalan Islam -Ramadhan dan Syawal- selalu menjadi peristiwa yang penuh hiruk-pikuk. Setidaknya di Indonesia, dimana terjadi dualisme sistem penanggalan. Bagi yang terbiasa dengan tahun syamsiah (solar year), sistem qamariah membingungkan dan penuh ketidakpastian. Apalagi sekarang, ketika banyak orang mengganggap sumber daya bernama waktu itu semakin lama semakin berkurang. Jadwal-jadwal tersusun mungkin tidak hanya untuk beberapa hari namun juga bulan ke depan. Termasuk bagi saya, jadwal antri tiket mudik :)

Periode bulan mengitari bumi yang sekitar 29,5 hari membuat bulan dalam sistem qamariah dapat 29 atau 30 hari. Waktu 29,5 ini pun tidak persis sehingga tidak dapat ditentukan, katakanlah bulan pertama 30 hari, bulan kedua 29 hari, bulan ketiga 30 hari, dan seterusnya.

Hisab vs Rukyat

Ada dua metode yang dipakai untuk menentukan awal bulan, yaitu menghitung (hisab) dan melihat langsung (rukyat).

Rukyat, selain kuat dari segi hukum (syariat) agama, juga kuat karena melihat langsung. Sedangkan kelemahannya adalah tidak terduga. Penentuan awal bulan ditentukan saat matahari mulai tenggelam. Dapat dibayangkan betapa repotnya jika Idul Fitri baru dapat ditentukan pada malam sebelumnya. Demikian pula sholat tarawih pertama mungkin tidak dapat dilakukan tepat setelah sholat isya’ karena harus menunggu penetapan. Pada masa lalu hal ini mungkin tidak masalah, namun kondisi masyarakat sekarang berbeda. Belum lagi jika langit tertutup awan sehingga ufuk (horizon) tak dapat diamati.

Hisab dapat menentukan awal bulan jauh sebelumnya, bahkan 10-20 tahun ke depan dapat dihitung sekarang. Tidak ada cuaca yang menghalangi. Namun hisab memiliki kelemahan di hukum dan kemungkinan kesalahan karena yang dihitung bukan angka yang pas, perlu dilakukan kalibrasi secara berkala.

Kenapa di jaman serba komputer sekarang ini, masih saja terjadi perbedaan perhitungan awal bulan? Atau lihat saja pakai teleskop canggih?
Kenapa pada saat penentuan waktu shalat tidak ada yang berselisih tapi jika awal bulan sering berselisih?

Benar sekali, sekarang ini hisab memang mendominasi. Mungkin sekarang sudah tidak ada lagi yang menggunakan jam matahari (jangan dikacaukan dengan tahun berdasar matahari). Mungkin para muadzin tidak lagi tahu bahwa cara menentukan sudah masuk waktu subuh adalah dengan membedakan benang putih dan benang hitam di kegelapan malam. Namun bagi yang memegang teguh aspek legalitas tentu tidak dapat meninggalkan rukyat.

Toh masalah perselisihan itu bukan pada perbedaan hisab dan rukyat. Bukan pula pada perbedaan perhitungan, melainkan pada persepsi tentang ‘awal bulan’ atau ‘bulan baru’. Bagi penganut hisab haqiqi wujudul hilal (seperti Muhammadiyah), jika secara perhitungan hilal (bulan mati/baru) sudah terbentuk di atas ufuk, berapapun derajatnya (asal positif), berarti telah masuk awal bulan, persis seperti definisi fisika.

Namun ulama yang lain berpendapat lain, bahwa secara perhitungan hilal tidak mungkin terlihat jika terbentuk di bawah 2 derajat, sedangkan Nabi menyuruh ‘melihat’, bukan ‘menghitung’. Jadi bagi mereka selain terbentuk di atas ufuk juga harus lebih dari 2 derajat. Bahkan ada ulama yang mensyaratkan 4 derajat. (Angka-angka tersebut berdasar yang saya ingat, jika ada yang mengoreksi tentu saya berterima kasih)

Di sinilah letak permasalahannya, yang jelas tidak bisa diselesaikan dengan komputer atau teleskop secanggih apapun. Jika hilal terbentuk di bawah 2 derajat, kemungkinan besar terjadi perbedaan penentuan awal bulan. Jika lebih dari 2 derajat, kemungkinan besar akan bersamaan.

Kalau saya yang penting sama dengan Mekkah..

Silakan, itu juga keyakinan. Hal ini terutama berhubungan dengan Hari Arafah, sehari sebelum Idul Adha. Ada yang berpendapat, Ramadhan dan Idul Fitri boleh beda, tapi Hari Arafah harus sama dengan orang yang beribadah haji. Tapi bukankah penentuan Hari Arafah (9 Dzulhijjah) itu juga akibat penentuan bulan baru (1 Dzulhijjah)?

Bumi itu bulat dan berotasi, sedangkan bulan mengelilingi bumi, jadi bisa saja di sini hilal belum terbentuk, tapi di Arab sudah. Lagi pula konsep ‘hari yang sama’ itu juga persepsi manusia. Kesepakatan antar manusialah yang menentukan garis (imajiner) perubahan hari/tanggal di Samudera Pasifik. Jika kita naik pesawat ke Amerika Serikat melalui Hawaii, tanpa memakai mesin waktu pun kita akan sampai di sana sehari sebelum kita berangkat.

Ilustrasi ekstrimnya, seandainya saja kesepakatan internasional garis itu jatuh membelah Jakarta, memisahkan Jakarta Pusat dengan Jakarta Timur. Maka kereta api yang berangkat dari Gambir hari Sabtu pukul 08.00 (waktu Jakarta Pusat) dan tiba di Jatinegara 10 menit kemudian, menurut waktu Jatinegara (Jakarta Timur) adalah tiba hari Jum’at pukul 08.10. Jadi bisa ‘beda hari’ meskipun hanya beda 10 menit.

Lalu mungkin Anda akan berpendapat, daripada pusing-pusing mending ikut pemerintah, ya terserah. Saya tidak mencoba untuk memaksakan keyakinan dan pendapat, saya hanya membeberkan apa yang menurut saya pahami, sehingga orang tahu duduk permasalahan tentang perselisihan penentuan hari raya. Semoga bermanfaat.