Oleh: bootdir | 21 Agustus 2009

Penentuan Awal Bulan Qamariah

Penentuan awal bulan tahun qamariah (lunar year), apalagi jika dikaitkan dengan dua bulan penting dalam sistem penanggalan Islam -Ramadhan dan Syawal- selalu menjadi peristiwa yang penuh hiruk-pikuk. Setidaknya di Indonesia, dimana terjadi dualisme sistem penanggalan. Bagi yang terbiasa dengan tahun syamsiah (solar year), sistem qamariah membingungkan dan penuh ketidakpastian. Apalagi sekarang, ketika banyak orang mengganggap sumber daya bernama waktu itu semakin lama semakin berkurang. Jadwal-jadwal tersusun mungkin tidak hanya untuk beberapa hari namun juga bulan ke depan. Termasuk bagi saya, jadwal antri tiket mudik :)

Periode bulan mengitari bumi yang sekitar 29,5 hari membuat bulan dalam sistem qamariah dapat 29 atau 30 hari. Waktu 29,5 ini pun tidak persis sehingga tidak dapat ditentukan, katakanlah bulan pertama 30 hari, bulan kedua 29 hari, bulan ketiga 30 hari, dan seterusnya.

Hisab vs Rukyat

Ada dua metode yang dipakai untuk menentukan awal bulan, yaitu menghitung (hisab) dan melihat langsung (rukyat).

Rukyat, selain kuat dari segi hukum (syariat) agama, juga kuat karena melihat langsung. Sedangkan kelemahannya adalah tidak terduga. Penentuan awal bulan ditentukan saat matahari mulai tenggelam. Dapat dibayangkan betapa repotnya jika Idul Fitri baru dapat ditentukan pada malam sebelumnya. Demikian pula sholat tarawih pertama mungkin tidak dapat dilakukan tepat setelah sholat isya’ karena harus menunggu penetapan. Pada masa lalu hal ini mungkin tidak masalah, namun kondisi masyarakat sekarang berbeda. Belum lagi jika langit tertutup awan sehingga ufuk (horizon) tak dapat diamati.

Hisab dapat menentukan awal bulan jauh sebelumnya, bahkan 10-20 tahun ke depan dapat dihitung sekarang. Tidak ada cuaca yang menghalangi. Namun hisab memiliki kelemahan di hukum dan kemungkinan kesalahan karena yang dihitung bukan angka yang pas, perlu dilakukan kalibrasi secara berkala.

Kenapa di jaman serba komputer sekarang ini, masih saja terjadi perbedaan perhitungan awal bulan? Atau lihat saja pakai teleskop canggih?
Kenapa pada saat penentuan waktu shalat tidak ada yang berselisih tapi jika awal bulan sering berselisih?

Benar sekali, sekarang ini hisab memang mendominasi. Mungkin sekarang sudah tidak ada lagi yang menggunakan jam matahari (jangan dikacaukan dengan tahun berdasar matahari). Mungkin para muadzin tidak lagi tahu bahwa cara menentukan sudah masuk waktu subuh adalah dengan membedakan benang putih dan benang hitam di kegelapan malam. Namun bagi yang memegang teguh aspek legalitas tentu tidak dapat meninggalkan rukyat.

Toh masalah perselisihan itu bukan pada perbedaan hisab dan rukyat. Bukan pula pada perbedaan perhitungan, melainkan pada persepsi tentang ‘awal bulan’ atau ‘bulan baru’. Bagi penganut hisab haqiqi wujudul hilal (seperti Muhammadiyah), jika secara perhitungan hilal (bulan mati/baru) sudah terbentuk di atas ufuk, berapapun derajatnya (asal positif), berarti telah masuk awal bulan, persis seperti definisi fisika.

Namun ulama yang lain berpendapat lain, bahwa secara perhitungan hilal tidak mungkin terlihat jika terbentuk di bawah 2 derajat, sedangkan Nabi menyuruh ‘melihat’, bukan ‘menghitung’. Jadi bagi mereka selain terbentuk di atas ufuk juga harus lebih dari 2 derajat. Bahkan ada ulama yang mensyaratkan 4 derajat. (Angka-angka tersebut berdasar yang saya ingat, jika ada yang mengoreksi tentu saya berterima kasih)

Di sinilah letak permasalahannya, yang jelas tidak bisa diselesaikan dengan komputer atau teleskop secanggih apapun. Jika hilal terbentuk di bawah 2 derajat, kemungkinan besar terjadi perbedaan penentuan awal bulan. Jika lebih dari 2 derajat, kemungkinan besar akan bersamaan.

Kalau saya yang penting sama dengan Mekkah..

Silakan, itu juga keyakinan. Hal ini terutama berhubungan dengan Hari Arafah, sehari sebelum Idul Adha. Ada yang berpendapat, Ramadhan dan Idul Fitri boleh beda, tapi Hari Arafah harus sama dengan orang yang beribadah haji. Tapi bukankah penentuan Hari Arafah (9 Dzulhijjah) itu juga akibat penentuan bulan baru (1 Dzulhijjah)?

Bumi itu bulat dan berotasi, sedangkan bulan mengelilingi bumi, jadi bisa saja di sini hilal belum terbentuk, tapi di Arab sudah. Lagi pula konsep ‘hari yang sama’ itu juga persepsi manusia. Kesepakatan antar manusialah yang menentukan garis (imajiner) perubahan hari/tanggal di Samudera Pasifik. Jika kita naik pesawat ke Amerika Serikat melalui Hawaii, tanpa memakai mesin waktu pun kita akan sampai di sana sehari sebelum kita berangkat.

Ilustrasi ekstrimnya, seandainya saja kesepakatan internasional garis itu jatuh membelah Jakarta, memisahkan Jakarta Pusat dengan Jakarta Timur. Maka kereta api yang berangkat dari Gambir hari Sabtu pukul 08.00 (waktu Jakarta Pusat) dan tiba di Jatinegara 10 menit kemudian, menurut waktu Jatinegara (Jakarta Timur) adalah tiba hari Jum’at pukul 08.10. Jadi bisa ‘beda hari’ meskipun hanya beda 10 menit.

Lalu mungkin Anda akan berpendapat, daripada pusing-pusing mending ikut pemerintah, ya terserah. Saya tidak mencoba untuk memaksakan keyakinan dan pendapat, saya hanya membeberkan apa yang menurut saya pahami, sehingga orang tahu duduk permasalahan tentang perselisihan penentuan hari raya. Semoga bermanfaat.

Oleh: bootdir | 13 Juni 2009

Perang Peramban

Tak lama setelah Chrome 2.0 melepas masa lajang betanya, Safari 4 pun muncul. Ini menyisakan Firefox 3.5 dan Opera 10 yang masih bertahan di beta.

Di antara keempatnya, Chrome 2.0 yang lebih dulu saya coba. Saya telah mencoba Chrome sejak masih beta, sebelum versi 1, dan langsung membuat terpana. Loading aplikasinya sangat cepat. Tampilannya minimalis sehingga browsing web terasa lebih longgar. Chrome yang lahir belakangan mencomot banyak konsep dari peramban lain. Banyak fiturnya lebih dulu saya lihat di Opera. Konsep yang menurut saya baru adalah multiprocess. Setiap Tab memiliki Process tersendiri. Jika Anda buka Task Manager Windows, Anda akan melihat banyak chrome.exe bertengger di situ. Ini yang membuat Chrome sangat cepat. Ibaratnya di sebuah playgroup, peramban lain hanya memiliki seorang pembimbing untuk satu kelas, sedangkan di Chrome masing-masing anak memiliki pembimbing dan satu penyelia yang mengawasi para pembimbing itu. Tentu saja hal ini memiliki kekurangan, Chrome menghabiskan lebih banyak memori. Dalam browsing keseharian saya dengan sekitar 6 tab, Chrome bisa memakai sekitar 350 MB RAM, sedangkan browser lain untuk keadaan yang sama ‘hanya’ sekitar 200 MB. Namun hal ini tentu bukan masalah besar untuk komputer-komputer sekarang. Toh buat apa RAM kalo tidak untuk dipakai :) . Menurut saya, komputer sekarang dengan multicore dan RAM di atas 512 MB, jalan di atas Windows XP, dan tidak sedang merender gambar 3D atau video, cukup untuk Chrome.

Salah satu kekurangan Chrome adalah instalasinya yang membutuhkan koneksi internet. Mungkin lucu bagi orang-orang Google, mau instal peramban kok tidak punya koneksi internet. Mungkin mereka tidak tahu ada orang seperti saya yang pengin instal Chrome di laptop yang tidak terhubung internet dan berharap ketika dapat WiFi gratisan langsung bisa menggunakan Chrome. Di masa-masa awal, Chrome memiliki banyak isu kompatibilitas dengan beberapa situs web, namun di versi 2.0 ini telah diperbaiki.

Saya mengenal Opera sudah lama, bahkan sebelum Firefox lahir. Seingat saya, fitur Tab Browsing saya kenal pertama kali di Opera. Namun dia terlupakan sejak saya kenal Firefox. Saya baru menggunakan Opera lagi sejak menginstal Opera Mini di handphone saya. Menurut saya Opera Mini merupakan aplikasi wajib instal di HP yang hanya mendukung Java. Opera Minilah yang membuat HP saya sanggup menyaingi smartphone untuk urusan browsing :) . Opera Mini memiliki konsep yang bagus. Alih-alih mengakses situs web secara langsung, Opera Mini menggunakan proxy server. Ketika Anda mengetikkan sebuah alamat situs di Opera Mini, katakanlah Yahoo, maka Opera Mini menghubungi proxy server. Proxy inilah yang kemudian menghubungi Yahoo. Lalu halaman Yahoo dimampatkan dan diformat untuk tampilan mungil layar HP. Ini sangat bermanfaat karena koneksi internet melalui HP sering dihitung harganya per KB, sehingga cara ini selain cepat juga lebih murah. Konsep ini yang kemudian diterapkan di platform lain dengan nama Opera Turbo.

Opera Turbo merupakan salah satu fitur menonjol Opera 10. Sayangnya saya tidak suka Opera Turbo. Konsep memampatkan halaman situs web melalui proxy server itu membuat kualitas gambar menurun drastis. Di handphone mungkin tidak masalah karena layarnya mungil, tapi di desktop sangat mengganggu. Kecepatan yang dihasilkan dari pemampatan inipun tidak signifikan. Saya coba fitur Turbo ini di laptop yang menggunakan koneksi internet melalui GPRS. Saya berharap dapat menghemat, namun kenyataannya tidak berhasil. Saya baru bisa membuka halaman web ketika Opera Turbo dimatikan.

Satu hal lagi, Opera adalah contoh tragis. Opera sering mempunyai gagasan dan konsep hebat yang kemudian dipakai peramban lain. Namun pemakai Opera sendiri tidak banyak. Para pembuat halaman web sering tidak ‘memandang’ Opera, akibatnya Opera sering mengalami isu kompatibilitas. Opera sering terblokir di situs yang tidak mampu mengenali fitur Opera. Contohnya jika Anda mengakses Bing.com melalui Opera, Anda akan diforward ke halaman Beta, sedangkan peramban lain masuk ke halaman yang full-featured. Saya susah masuk ke Google Account (Gmail, Reader, etc) menggunakan Opera 10.

Saya juga mencoba Safari 4. Sayangnya saya telah lebih dulu kenal dengan Chrome, meskipun sebenarnya Safari lebih dulu ada dan Chrome yang mencomot engine-nya. Saya jadi tidak tertarik menggunakan Safari karena rasanya sama dengan Chrome. Pun demikian dengan Firefox 3.5, saya tidak merasa ada yang berbeda dengan Firefox 3.0. Mungkin setelah lepas dari masa beta akan terasa bedanya. Bagaimana dengan IE 8? Saya belum punya niat untuk mencoba.

Apa hubungannya kampanye pemilihan presiden dengan Liga Champion?

Liga Champions telah selesai, kampanye presiden baru akan dimulai.

Wah, Saudara ini mau melawak ya? Itu namanya perbedaan bukan hubungan!

Loh, perbedaan atau persamaan kan merupakan suatu hubungan. :)

Begini Saudara, sesungguhnya keduanya memiliki banyak persamaan. Misalnya, keduanya merupakan sebuah kompetisi, yang pada akhirnya harus ada yang menang dan ada yang kalah. Ini yang harus disadari oleh pihak yang berkompetisi, berusaha untuk yang terbaik dan bersiap untuk yang terburuk.

Nah kita, sebagai penonton juga harus menyadari ini. Seperti halnya orang-orang yang memutuskan untuk berjudi pada malam final itu, hidup itu pilihan dan pilihan yang salah itu menyakitkan. :D Tidak usah terlalu fanatik pada tim dan pemain. Toh belum tentu Eto’o, Messi dan Henry masih di Barca musim depan, apalagi musim depannya lagi. Kalau sudah begitu, Saudara milih tim atau pemainnya? Pun politisi juga begitu, Saudara bela mati-matian ternyata besok pindah partai. Atau agama partai yang Saudara anut ternyata berkoalisi dengan pasangan yang tidak Saudara sukai.

Saudara benar. Apalagi sekarang, belum apa-apa sudah saling tuduh dan menjelek-jelekkan. Sungguh bukan sikap negarawan yang patut dicontoh!

Woh, itu tuduhan serius! Menuduh politisi sebagai negarawan adalah tindakan subversif!

Saudara harus bisa membedakan. Itu adalah salah satu tugas politisi. Saudara tentu tidak akan melaporkan Chris John ke polisi karena memukul lawannya saat bertanding di atas ring, bukan? Jadi nikmati saja pertandingan seru itu. Tidak usah terlalu dipikirkan apalagi dirasakan. Itu adalah hiburan di tengah hidup yang kian runyam. Kecuali jika Saudara ingin bekerja sebagai politisi? Atau seperti saya, mengaku apolitik tapi sering berkomentar? Latah jadi pakar telematika pengamat politik padahal takut kalah berjudi?

Oleh: bootdir | 12 Maret 2009

Liku-liku menginstal LG PC Suite

Beberapa bulan yang lalu, saya membelikan Hp LG KU380 buat istri. Hp yang murah meriah namun sudah 3G.

Mang kenapa kalo 3G? Biar gagah?

Sama sekali bukan. Waktu itu istri terpisah jauh, jadi sebagai obat kangen ya pakai video call. Lagi pula operator yang saya pakai tidak membedakan tarif voice atau video call, sehingga meskipun memakai video call tetap saja terkena tarif promo.

Saya tidak akan menceritakan kehidupan berbangsa dan bernegara LDR saya, tapi tentang LG PC Suite. Ketika akan saya instal di laptop, muncul pesan kesalahan ’CRC Redundancy Error’. Begitupun ketika saya mencoba mengcopy filenya. Sempat marah juga, masak CD bawaan pabrik yang belum pernah dipakai error. Apa LG tidak mengecek produknya?

Klik di sini jika Anda tertarik membaca lanjutannya..

Oleh: bootdir | 8 Februari 2009

Oh…surat suara..

Barusan dikirimi MMS oleh istri tersayang. Isinya dua buah gambar tentang sosialisasi pemilu 2009 di Yogya. Begini isi MMSnya:

Surat suara segedhe gaban

Hore, surat suaranya bisa dibikin baju :)


p08-02-09_1431

Duh, mau nyontreng yang mana ya? Bukanya aja sulit

Sebagai informasi, adik ipar saya (gambar atas) tingginya sekitar 170 cm. Jadi jika tidak ingin berdosa di pemilu yang akan datang, siapkan kacamata baca dan bolpen yang lancar. Selamat mencoblos mencontreng!!

Tulisan Sebelumnya »

Kategori