Mengemudi maksimal 4 jam

Ada suatu pengalaman unik waktu saya melakukan perjalanan darat dari Paris ke Amsterdam menggunakan bus umum. Sewaktu akan berjalan, pilot sopir mengingatkan penumpang untuk menggunakan sabuk pengaman melalui loudspeaker. Ya, sabuk pengaman yang di Indonesia baru diwajibkan untuk pengendara dan penumpang mobil yang duduk disamping sopir, di sana diwajibkan untuk seluruh penumpang bus umum jarak jauh, tidak hanya mobil pribadi.

Perjalanan kami seharusnya selama 8 jam, berangkat pukul 10.00 dan dijadwalkan tiba pukul 18.00. Sebuah perjalanan melalui 3 negara yang dapat ditempuh kurang dari waktu perjalanan naik bus Jakarta-Jogja :D . Etape pertama perjalanan dilalui cukup lancar. Meski mendung tebal selalu mengiringi perjalanan dengan sekali2 hujan lumayan deras. Jalan yang dilalui mirip jalan tol, tapi setau saya tidak membayar. Ada teman lain yang pernah melalui jalan benar-benar tol alias membayar, tapi setahu saya tidak dengan yang saya lalui. Di Belanda, jalan antar kota juga seperti jalan tol. Yang namanya jalan antar kota tidak bersimpangan dengan jalan dalam kota. Maksud saya seperti tol Jakarta-Cikampek, kalau mau ke Bekasi ada pintu keluarnya, tapi jalan tol tidak bersimpangan sejajar dengan jalan non tol. Wuih, teknis sekali bahasanya. Ya, tinggal gantikan kata “tol” dengan “jalan antar kota” dan “non tol” dengan “jalan dalam kota” pada kalimat tersebut. Heran juga saya, negara yang tidak terlalu besar itu bisa mencari lahan untuk jalan antar kotanya sehingga tidak melalui langsung kota2nya, tidak seperti di sini yang jalan antar kotanya merupakan penghubung antar kota. Bedanya dimana? Kalau dari Jakarta ke Surabaya, ibaratnya kita tidak perlu masuk ke kota-kota di antaranya, sehingga ketemu kemacetan dalam kota, pasar tumpah, banyak traffic light, dan sebagainya. Nanti kita akan begitu sih, tapi menggunakan tol.

Pukul 14.00 lebih sedikit, kita sampai di sebuah tempat. Saya lupa apakah itu masih di Perancis atau sudah masuk Belgia. Maklum, sesama anggota Uni Eropa itu borderless. Tidak ada yang namanya portal atau apapun untuk pemeriksaan paspor, barang bawaan atau apapun di batas negara. Batas negaranya saja ga jelas, ga pake gapura selamat datang seperti kalau kita masuk suatu kabupaten di sini. Di tempat tersebut, sopir diganti. Sopir berpakaian rapi seperti pilot lengkap dengan tas koper beroda. Ya, setelah 4 jam sopir diganti.

Di paruh perjalanan kedua, cuaca memburuk. Bus berjalan lebih pelan karena derasnya hujan yang menutup pandangan. Akibatnya pukul 18.00 kita belum sampai Amsterdam. Sopir lalu berbicara melalui speaker. Pertama dia meminta maaf karena masalah cuaca yang menyebabkan keterlambatan. Kedua, dia mengumumkan bahwa dia harus beristirahat selama 45 menit sesuai dengan peraturan. Dia juga mengumumkan bahwa jarak tempat itu dengan Amsterdam sekitar 30 menit. Ya, jika di sini sopir mungkin akan meneruskan perjalanannya. Toh tinggal 30 menit lagi, habis itu dia bisa bebas istirahat sampai besok pagi. Tapi ini tidak, menurut peraturan lama maksimum berkendara adalah 4 jam dan sopir mematuhi. Seandainya dia ‘bandel’ pukul 18.30 sudah sampai Amsterdam, sedangkan kalo ikut peraturan pukul 19.15 baru sampai. Tetapi dia memilih untuk ikut peraturan sehingga kemudian mencari semacam SPBU terdekat untuk beristirahat. Jangan dikira semua penumpang memaklumi. Banyak juga yang nggrundel dan komplain tapi sopir berkata bahwa dia ga bisa apa-apa karena peraturannya begitu. Saya dan teman saya yang penasaran, apakah memang tempat itu tinggal setengah jam dari Amsterdam atau sebenarnya masih agak jauh, menanyakan pada pelayan minimarket di area SPBU. Dan dijawab, jaraknya sekitar 25 sampai 35 menit ke Amsterdam :D

Prosesor, RAM dan media penyimpanan

Banyak yang bingung antara fungsi prosesor, RAM dan media penyimpanan (harddisk, SSD, Memory Card), sehingga ketika akan melakukan upgrade bingung mana yang lebih diutamakan untuk diupgrade.

Fungsi ketiganya dapat diumpamakan seperti ini:
Bayangkan Anda mempunyai meja kerja dan lemari berkas. Anda harus mengerjakan pekerjaan di meja kerja, sehingga harus mencari berkas di lemari, lalu dibawa ke meja Anda. Karena besar meja Anda terbatas, maka selesai mengerjakan suatu berkas, Anda harus mengembalikan ke lemari lalu mengambil berkas yang lain untuk dikerjakan di meja kerja. Semakin besar lemari, semakin banyak berkas yang bisa Anda tampung. Kalau meja kerja Anda besar, mungkin bisa mengambil dua atau tiga berkas sekaligus. Setelah selesai dikerjakan semua baru dikembalikan ke lemari berkas sehingga menghemat waktu dan tenaga bolak-balik ke lemari berkas.

Di komputer (juga handphone), Anda adalah prosesor, meja Anda adalah RAM, dan lemari berkas adalah media penyimpanan (storage). Kecepatan mengerjakan tentu tergantung pada Anda, tapi kalau harus bolak-balik ke lemari (karena meja Anda kecil) tentu akan lama juga. Belum lagi kalau ternyata di lemari tidak ada berkasnya :D

Dengan analogi itu, Anda dapat membayangkan bagian mana yang perlu Anda upgrade untuk mempercepat komputer Anda.

Price tag

Di Indonesia, produsen sering ‘menipu’ konsumen dengan menggunakan packaging yang tidak standar. Misalnya sabun cair refill Produk A terlihat lebih murah, padahal isinya 400 ml, sedangkan yang lain 450 ml, sehingga sebenarnya Produk A lebih mahal per ml. Demikian pula tissue merk B, terlihat lebih murah padahal isinya hanya 200 sheets, sedangkan yang lain 250 sheets.

Nah, di Belanda hal ini tidak terjadi. Setidaknya saya menemukan di beberapa mini market bahwa di setiap price tag dicantumkan juga harga per satuan terendahnya. Jadi misal untuk kasus di atas, tertulis pula harga per ml atau per sheet, sehingga konsumen akan lebih mudah membandingkan. Hal ini tentu lebih fair sehingga produsen perlu mengedepankan kualitas daripada menipu kuantitas. Saya tidak tahu ini kebijakan mini market atau ada peraturan dari negara.

Zebra Cross

Sesungguhnya saya mulai lupa fungsi dari Zebra Cross. Iya, saya paham bahwa zebra cross adalah tempat menyeberang, akan tetapi saya mulai lupa akan esensi dari zebra cross.

Di Indonesia, zebra cross sering ditaruh di persimpangan, di depan lampu lalu-lintas. Akibatnya, meskipun melewati zebra cross, pejalan kaki harus tetap berhati-hati dan melihat lampu lalu-lintas. Jika lampu lalu-lintas hijau, maka pejalan kaki harus mengalah pada kendaraan, sehingga sebenarnya zebra cross tidak berfungsi apa-apa. Tanpa zebra cross pun pejalan kaki bisa menyeberang kalo harus menunggu lalu-lintas berhenti. Demikian pula zebra cross yang tidak di persimpangan, pejalan kaki harus tetap tengok kanan kiri menunggu lalu-lintas dapat diseberangi. Tak ada kendaraan yang sudi berhenti, paling lewat depan atau belakang penyeberang. Jadi buat apa ada zebra cross?

Di negeri Barat itulah saya kembali diingatkan soal fungsi zebra cross. Di situ, kendaraan akan berhenti mempersilakan penyeberang lewat. Pejalan kaki memiliki kasta tertinggi, lalu kemudian pesepeda, baru kemudian pengemudi mobil. Pengendara motor? Jarang sekali ada pengendara motor di sana :D

Oh iya, meskipun lampu lalu-lintas hijau, mobil pribadi harus mengalah pada bus umum agar lewat lebih dulu. DI Indonesia, kereta api yang punya jalan sendiri saja masih sering diserobot, apalagi TransJakarta :D

Sholatlah seperti itu adalah sholat terakhirmu

Negeri Barat mungkin adalah tempat terakhir di mana saya berharap mendapatkan pelajaran agama. Namun menjadi minoritas dalam komunitas internasional nyata-nyata memberi saya beberapa pelajaran dalam beragama.

Tentang sholat misalnya, apabila di Indonesia para sesepuh bersusah payah dalam berjamaah, apalagi jamaah sholat Tarawih yang menargetkan selesai jam 8 – tidak perduli berapa lama ceramah :), di sini diberi kursi. Sangat jamak dijumpai kursi-kursi berada di antara shaf-shaf sholat.

Saat sholat Jum’at, seseorang bisa ditegur dengan keras apabila tertidur saat ada khutbah, sedangkan di Indonesia, masih tergiang doktrin guru agama saya bahwa jika saya berkata “Sssst..” maka pahala saya akan rusak, termasuk saat mengingatkan orang atau anak kecil yang bikin keributan.

Lalu, jika di Indonesia para imam mengingatkan supaya jamaah merapikan shaf sebelum sholat dimulai, maka di sana ada imam yang berpesan “sholu sholatan wada’ ” (Pray, as if it is your last pray) yang memaksa saya untuk khusyu’.