Dondong apa salak..

Diinspirasi oleh paparan dari Chandra Malik.

Salah satu lagu anak-anak di Jawa yang sekarang sudah jarang dinyanyikan adalah Dondong apa salak.
“Dondong apa salak.. duku cilik-cilik..
Ngandong apa mbecak.. mlaku thimik-thimik”

Mau pilih kedondong yang halus di luar tapi dalamnya kasar..
atau salak yang luarnya kasar tapi dalamnya halus..
Pilihlah duku yang halus di luar maupun dalam, meskipun kecil-kecil..

Mau pilih naik andong yang mempekerjakan kuda di depan..
atau naik becak yang mempekerjakan orang di belakang..
Pilihlah berjalan bersama-sama, meskipun itu pelan-pelan..

Ridho Allah

“Jangan sampai surga membelokkan jalanmu menuju Allah” – Cak Nun

Sebenarnya kehidupan kita itu hanya mencari ridho Allah. Berbuat apa saja semata-mata agar Allah ridho. Terserah Allah mau masuk neraka atau surga, toh kalau Dia berkehendak, tidak ada yang bisa menghalangi.

Berlomba-lomba mencari pahala agar dapat ke surga justru bisa menjatuhkan kita ke kesombongan. Atas dalil apa pahala kita mampu membeli surga? Padahal hidup, waktu, kesempatan dan segala yang kita gunakan untuk mendapat pahala itu dari nikmat Allah, lalu pantaskah kita mengklaim bahwa pahala itu milik kita? Sombong sekali kita. Ingatlah bahwa iblis dilaknat ‘hanya’ karena sombong, itupun sombongnya kepada makhluk bernama manusia, bukan kepada Sang Khalik.

Lalu banyak orang berharap ridho Allah, namun dirinya tidak ridho kepada Allah. Ketika akan belajar pun kita berdoa didahului dengan pernyataan bahwa kita ridho kapada Allah, agamaNya, dan RasulNya, supaya diberi ilmu dan pemahaman. Tapi apakah kita sudah benar-benar ridho kepada Allah? Sudahkah kita rela dengan apa-apa yang telah terjadi pada diri kita? Sudahkah kita ridho dengan apa-apa yang sudah diberikan kepada kita?

Sepuluh aturan jadi manusia

Diambil dari status facebook Alfathri Adlin, dari sebuah kitab Sanskrit

1. Kamu akan menerima jasad. Kau boleh menyukainya atau tidak, tapi kau akan hidup di dalamnya selama waktu pembelajaran.

2. Kamu akan menjalani berbagai proses pembelajaran.

3. Kamu tidak akan pernah ada dalam situasi yang keliru. Sekali lagi, kamu hanya akan menjalani proses pembelajaran.

4. Sebuah pembelajaran akan terus diulangi sampai kamu memahaminya.

5. Proses pembelajaran tidak akan pernah berhenti.

6. ‘Di sana’ tidak akan pernah lebih baik dari di mana kamu berada. Semua yang kamu perlukan untuk belajar akan disediakan untukmu di tempat di mana kamu berada.

7. Orang lain hanya cermin bagi kamu untuk memahami inti pembelajaran-pembelajaranmu.

8. Untuk apa waktu pembelajaran digunakan, adalah terserah kepadamu. Usia jasadmu diberi batas, dan kamu hanya bisa belajar melalui jasadmu.

9. Semua jawaban atas pertanyaanmu ada dalam dirimu. Membukanya satu per satu hanya bisa melalui proses pembelajaran yang khusus untukmu.

10. Ketika kamu lahir ke dunia, kamu akan lupa aturan ini untuk sementara waktu.

Mengemudi maksimal 4 jam

Ada suatu pengalaman unik waktu saya melakukan perjalanan darat dari Paris ke Amsterdam menggunakan bus umum. Sewaktu akan berjalan, pilot sopir mengingatkan penumpang untuk menggunakan sabuk pengaman melalui loudspeaker. Ya, sabuk pengaman yang di Indonesia baru diwajibkan untuk pengendara dan penumpang mobil yang duduk disamping sopir, di sana diwajibkan untuk seluruh penumpang bus umum jarak jauh, tidak hanya mobil pribadi.

Perjalanan kami seharusnya selama 8 jam, berangkat pukul 10.00 dan dijadwalkan tiba pukul 18.00. Sebuah perjalanan melalui 3 negara yang dapat ditempuh kurang dari waktu perjalanan naik bus Jakarta-Jogja :D . Etape pertama perjalanan dilalui cukup lancar. Meski mendung tebal selalu mengiringi perjalanan dengan sekali2 hujan lumayan deras. Jalan yang dilalui mirip jalan tol, tapi setau saya tidak membayar. Ada teman lain yang pernah melalui jalan benar-benar tol alias membayar, tapi setahu saya tidak dengan yang saya lalui. Di Belanda, jalan antar kota juga seperti jalan tol. Yang namanya jalan antar kota tidak bersimpangan dengan jalan dalam kota. Maksud saya seperti tol Jakarta-Cikampek, kalau mau ke Bekasi ada pintu keluarnya, tapi jalan tol tidak bersimpangan sejajar dengan jalan non tol. Wuih, teknis sekali bahasanya. Ya, tinggal gantikan kata “tol” dengan “jalan antar kota” dan “non tol” dengan “jalan dalam kota” pada kalimat tersebut. Heran juga saya, negara yang tidak terlalu besar itu bisa mencari lahan untuk jalan antar kotanya sehingga tidak melalui langsung kota2nya, tidak seperti di sini yang jalan antar kotanya merupakan penghubung antar kota. Bedanya dimana? Kalau dari Jakarta ke Surabaya, ibaratnya kita tidak perlu masuk ke kota-kota di antaranya, sehingga ketemu kemacetan dalam kota, pasar tumpah, banyak traffic light, dan sebagainya. Nanti kita akan begitu sih, tapi menggunakan tol.

Pukul 14.00 lebih sedikit, kita sampai di sebuah tempat. Saya lupa apakah itu masih di Perancis atau sudah masuk Belgia. Maklum, sesama anggota Uni Eropa itu borderless. Tidak ada yang namanya portal atau apapun untuk pemeriksaan paspor, barang bawaan atau apapun di batas negara. Batas negaranya saja ga jelas, ga pake gapura selamat datang seperti kalau kita masuk suatu kabupaten di sini. Di tempat tersebut, sopir diganti. Sopir berpakaian rapi seperti pilot lengkap dengan tas koper beroda. Ya, setelah 4 jam sopir diganti.

Di paruh perjalanan kedua, cuaca memburuk. Bus berjalan lebih pelan karena derasnya hujan yang menutup pandangan. Akibatnya pukul 18.00 kita belum sampai Amsterdam. Sopir lalu berbicara melalui speaker. Pertama dia meminta maaf karena masalah cuaca yang menyebabkan keterlambatan. Kedua, dia mengumumkan bahwa dia harus beristirahat selama 45 menit sesuai dengan peraturan. Dia juga mengumumkan bahwa jarak tempat itu dengan Amsterdam sekitar 30 menit. Ya, jika di sini sopir mungkin akan meneruskan perjalanannya. Toh tinggal 30 menit lagi, habis itu dia bisa bebas istirahat sampai besok pagi. Tapi ini tidak, menurut peraturan lama maksimum berkendara adalah 4 jam dan sopir mematuhi. Seandainya dia ‘bandel’ pukul 18.30 sudah sampai Amsterdam, sedangkan kalo ikut peraturan pukul 19.15 baru sampai. Tetapi dia memilih untuk ikut peraturan sehingga kemudian mencari semacam SPBU terdekat untuk beristirahat. Jangan dikira semua penumpang memaklumi. Banyak juga yang nggrundel dan komplain tapi sopir berkata bahwa dia ga bisa apa-apa karena peraturannya begitu. Saya dan teman saya yang penasaran, apakah memang tempat itu tinggal setengah jam dari Amsterdam atau sebenarnya masih agak jauh, menanyakan pada pelayan minimarket di area SPBU. Dan dijawab, jaraknya sekitar 25 sampai 35 menit ke Amsterdam :D

Prosesor, RAM dan media penyimpanan

Banyak yang bingung antara fungsi prosesor, RAM dan media penyimpanan (harddisk, SSD, Memory Card), sehingga ketika akan melakukan upgrade bingung mana yang lebih diutamakan untuk diupgrade.

Fungsi ketiganya dapat diumpamakan seperti ini:
Bayangkan Anda mempunyai meja kerja dan lemari berkas. Anda harus mengerjakan pekerjaan di meja kerja, sehingga harus mencari berkas di lemari, lalu dibawa ke meja Anda. Karena besar meja Anda terbatas, maka selesai mengerjakan suatu berkas, Anda harus mengembalikan ke lemari lalu mengambil berkas yang lain untuk dikerjakan di meja kerja. Semakin besar lemari, semakin banyak berkas yang bisa Anda tampung. Kalau meja kerja Anda besar, mungkin bisa mengambil dua atau tiga berkas sekaligus. Setelah selesai dikerjakan semua baru dikembalikan ke lemari berkas sehingga menghemat waktu dan tenaga bolak-balik ke lemari berkas.

Di komputer (juga handphone), Anda adalah prosesor, meja Anda adalah RAM, dan lemari berkas adalah media penyimpanan (storage). Kecepatan mengerjakan tentu tergantung pada Anda, tapi kalau harus bolak-balik ke lemari (karena meja Anda kecil) tentu akan lama juga. Belum lagi kalau ternyata di lemari tidak ada berkasnya :D

Dengan analogi itu, Anda dapat membayangkan bagian mana yang perlu Anda upgrade untuk mempercepat komputer Anda.