Khusnul khatimah

Sebuah dialog utara selatan alias ngobrol ngalor ngidul dengan sesama pejuang tugas akhir berbuah pencerahan. Kami yang terlunta-lunta dalam mengerjakan tugas tersebut merasa bahwa kerja keras kami di modul-modul awal tidak berguna. Lembur jungkir balik saat mengerjakan tugas modul seakan tidak berguna. Justru kami merasa kehabisan tenaga di akhir.
Jangan-jangan hidup memang begitu. Jangan-jangan sesuatu itu memang dinilai dari akhirnya. Jangan-jangan itulah mengapa khusnul khatimah alias akhir yang baik itu dicari bahkan jadi tujuan hidup.
Teman saya lalu bercerita bahwa di desanya sering muncul berbagai macam isu saat seseorang sudah tua sakit-sakitan tapi susah meninggal dunia. Pasti banyak yang membahas bahwa si anu itu punya ”pegangan”, punya jimat yang membuatnya susah meninggal. Tapi tidak seorang pun yang membahas, jikalau pun betul, bahwa jimat itu mungkin yang memerdekakan Indonesia. Bahwa bisa saja tatkala melawan Belanda seluruh pasukannya tewas kecuali dia, lalu dia bertempur dengan gagah berani sampai kita merdeka. Maka dia telah diadili berdasar pada ‘akhirnya’ dan bukan ‘prosesnya’. 
Ujian Nasional banyak diprotes karena menyimpulkan hasil pendidikan seseorang selama bertahun-tahun dalam sebuah rangkaian tes. Bagaimana kalau saat ujian anak tersebut sedang sakit? Sia-sia sudah usahanya bertahun-tahun. Ujian tersebut jelas tidak mewakili pendidikan yang didapatnya bertahun-tahun. Padahal sebenarnya hidup memang sering seperti itu. Anda bisa kehilangan kesempatan untuk mendapat pekerjaan idaman yang Anda cita-citakan seumur hidup hanya karena mengacaukan sebuah wawancara. Latihan berbulan-bulan seorang petinju juga akan ditentukan dalam pertandingan yang hanya beberapa menit.
Kembali pada kasus studi kami, modul-modul yang ada telah membuat kami terperdaya, sibuk jungkir balik mengerjakan praktikum dan tugas berjibun. Kami lupa yang meluluskan kami adalah tugas akhir. Maka teman saya berpesan, jangan sampai kita lupa pada ‘tugas akhir’ dari hidup kita. Jangan sampai jungkir balik hanya karena modul-modul kehidupan. Dan parahnya lagi, dalam kehidupan, deadline untuk tugas akhir tidak diketahui. Ia mengintai sewaktu-waktu. Jadi ada baiknya setiap saat kita harus selalu mengerjakan tugas akhir kita.

Parenting Lessons

Sebuah percakapan dengan anakku yang berumur 5 tahun di depan meja yang penuh toples untuk Lebaran :
Rifqa: “Papi dulu waktu kecil suka dimarahin ya?”
Saya: “Hah, kenapa kamu bilang begitu?”
R: “Iya, kelihatan sekarang takut mau makan makanan di toples, apalagi yang belum dibuka”
S: “…..”
Percakapan 2 hari sebelumnya :
S: “Wafernya jangan dihabisin ya.. Buat nanti Lebaran..”
R: “Papi dulu hanya makan ini waktu Lebaran ya?”
S: “Hah?”
R: “Iya, jadinya sekarang khawatir tidak bisa makan ini waktu Lebaran”
S: “…..”
Dua kali dihakimi, saya pun membalas:
S: “Rifqa dari kecil suka marah-marah ya?”
“Tidak! Papi salah!! “, katanya sambil melotot.

Dondong apa salak..

Diinspirasi oleh paparan dari Chandra Malik.

Salah satu lagu anak-anak di Jawa yang sekarang sudah jarang dinyanyikan adalah Dondong apa salak.
“Dondong apa salak.. duku cilik-cilik..
Ngandong apa mbecak.. mlaku thimik-thimik”

Mau pilih kedondong yang halus di luar tapi dalamnya kasar..
atau salak yang luarnya kasar tapi dalamnya halus..
Pilihlah duku yang halus di luar maupun dalam, meskipun kecil-kecil..

Mau pilih naik andong yang mempekerjakan kuda di depan..
atau naik becak yang mempekerjakan orang di belakang..
Pilihlah berjalan bersama-sama, meskipun itu pelan-pelan..

Ridho Allah

“Jangan sampai surga membelokkan jalanmu menuju Allah” – Cak Nun

Sebenarnya kehidupan kita itu hanya mencari ridho Allah. Berbuat apa saja semata-mata agar Allah ridho. Terserah Allah mau masuk neraka atau surga, toh kalau Dia berkehendak, tidak ada yang bisa menghalangi.

Berlomba-lomba mencari pahala agar dapat ke surga justru bisa menjatuhkan kita ke kesombongan. Atas dalil apa pahala kita mampu membeli surga? Padahal hidup, waktu, kesempatan dan segala yang kita gunakan untuk mendapat pahala itu dari nikmat Allah, lalu pantaskah kita mengklaim bahwa pahala itu milik kita? Sombong sekali kita. Ingatlah bahwa iblis dilaknat ‘hanya’ karena sombong, itupun sombongnya kepada makhluk bernama manusia, bukan kepada Sang Khalik.

Lalu banyak orang berharap ridho Allah, namun dirinya tidak ridho kepada Allah. Ketika akan belajar pun kita berdoa didahului dengan pernyataan bahwa kita ridho kapada Allah, agamaNya, dan RasulNya, supaya diberi ilmu dan pemahaman. Tapi apakah kita sudah benar-benar ridho kepada Allah? Sudahkah kita rela dengan apa-apa yang telah terjadi pada diri kita? Sudahkah kita ridho dengan apa-apa yang sudah diberikan kepada kita?

Sepuluh aturan jadi manusia

Diambil dari status facebook Alfathri Adlin, dari sebuah kitab Sanskrit

1. Kamu akan menerima jasad. Kau boleh menyukainya atau tidak, tapi kau akan hidup di dalamnya selama waktu pembelajaran.

2. Kamu akan menjalani berbagai proses pembelajaran.

3. Kamu tidak akan pernah ada dalam situasi yang keliru. Sekali lagi, kamu hanya akan menjalani proses pembelajaran.

4. Sebuah pembelajaran akan terus diulangi sampai kamu memahaminya.

5. Proses pembelajaran tidak akan pernah berhenti.

6. ‘Di sana’ tidak akan pernah lebih baik dari di mana kamu berada. Semua yang kamu perlukan untuk belajar akan disediakan untukmu di tempat di mana kamu berada.

7. Orang lain hanya cermin bagi kamu untuk memahami inti pembelajaran-pembelajaranmu.

8. Untuk apa waktu pembelajaran digunakan, adalah terserah kepadamu. Usia jasadmu diberi batas, dan kamu hanya bisa belajar melalui jasadmu.

9. Semua jawaban atas pertanyaanmu ada dalam dirimu. Membukanya satu per satu hanya bisa melalui proses pembelajaran yang khusus untukmu.

10. Ketika kamu lahir ke dunia, kamu akan lupa aturan ini untuk sementara waktu.