Oleh: bootdir | 23 November 2011

Kopi

Suatu hari saya naik kereta dari Bandung menuju Jogja. Sengaja saya memilih kereta siang agar bisa menikmati pemandangan. Di samping saya, duduk seorang Bule turis backpacker asal Spanyol. Sehabis makan siang dia memesan kopi. Dia bilang itu ritualnya setelah makan biar perutnya enak. Tidak berapa lama datanglah segelas besar kopi hitam yang dipesannya. Dia terkejut,mungkin yang diharapkan “hanya” secangkir kopi. Diminum sedikit lalu diletakkan ke meja kecil sebelah jendela.

Kemudian dia bertanya,”Kenapa di Jawa ini tidak ada budaya kopi?” Saya gelagapan. Budaya minum kopi secara umum masih kalah dengan budaya minum teh. Yang menemani sarapan dan cemilan sore hari umumnya teh. Dan saya yakin maksud pertanyaannya lebih dari itu. Kalo di sini ada yang “berbudaya minum kopi”, yang diminum capuccino atau espresso, hasil budaya Italiano. Kebanyakan orang minum kopi hitam atau kopi tubruk, yang hanya kopi diseduh air panas, biar ga pahit ditambah gula. Kok rasa-rasanya kurang nilai “budaya”-nya. Kopi susu agak rancu dengan espresso, entah siapa yang duluan. Mungkin hasil “budaya” kita malah coffemix(kopi campur – tidak bermaksud menyebut merk), campuran kopi+krimer+gula namun tidak berbusa seperti capuccino.

Pertanyaan 3-4 tahun lalu itu masih menggelitik saya sampai sekarang. Kopi sering disebut java dalam bahasa Inggris seperti kata china untuk keramik. Mungkin bayangan Bule tadi, ketika dia berada di Java dia akan berada ditengah-tengah java(kopi). Bahkan kalo kita pergi ke toko-toko, yang ada adalah Kopi Aceh, Kopi Deli, Kopi Lampung, Kopi Toraja, Kopi Manggarai dan sebagainya. Saya belum pernah ketemu Kopi Jawa. Mungkin hanya saya saja yang kurang pengetahuan. Kenapa demikian ya? Apa karena dulu yang minum para Bule Kolonial sedang nenek moyang kita hanya jadi pekerja saja?

Oleh: bootdir | 17 Mei 2010

Kabel komponen

Kabel komponenoutput komponen video

Beberapa minggu yang lalu saya membeli TV baru. Saat itu saya mendapat tips dari penjualnya bahwa alih-alih menggunakan kabel video ‘biasa’ lebih baik menggunakan kabel komponen untuk menyambungkan DVD Player ke TV. Katanya gambar jadi lebih bagus dan lebih murah daripada kabel HDMI.

Kebetulan (sialnya, lebih tepat), selesai saya setting TV itu, giliran DVD Player yang ngambek, padahal sebelumnya sehat-sehat saja. Kebetulan (lagi), anak saya lagi gemar-gemarnya nonton Upin & Ipin. Setiap kali dia melihat TV hidup, Upin & Ipin harus berada di sana. DVD Player-lah yang menyediakan kebutuhan itu. Jadilah saya harus mencari DVD Player juga keesokan harinya.

Saya teringat…

Oleh: bootdir | 3 Desember 2009

selamat ulang tahun, Nduk..

rifqa

selamat pagi Nduk…
kamu mungkin belum tahu.. mengapa hari ini spesial buatmu..
bukan hari tepatnya.. melainkan tanggal..

tanggal yang istimewa karena tepat setahun lalu kau bertemu dengan dunia..
tanggal yang sama dengan berdirinya pabrik tempat bapakmu jadi kuli..

dan mungkin kamu heran..
mengapa bapakmu malah menghadiri perayaan ulang tahun di tempat yang sering membuatnya tergopoh-gopoh dan terlihat bodoh..
daripada mendatangi senyum manis dan ocehan lucumu..

tempat yang membuat bapakmu hanya mengunjungimu sekali-kali lalu pergi lagi..

selamat ulang tahun Nduk..
jadilah teman yang menyenangkan buat ibumu..

selamat ulang tahun Nduk..
semoga tumbuh menjadi gadis cantik, pinter dan menentramkan…

Oleh: bootdir | 21 Agustus 2009

Penentuan Awal Bulan Qamariah

Penentuan awal bulan tahun qamariah (lunar year), apalagi jika dikaitkan dengan dua bulan penting dalam sistem penanggalan Islam -Ramadhan dan Syawal- selalu menjadi peristiwa yang penuh hiruk-pikuk. Setidaknya di Indonesia, dimana terjadi dualisme sistem penanggalan. Bagi yang terbiasa dengan tahun syamsiah (solar year), sistem qamariah membingungkan dan penuh ketidakpastian. Apalagi sekarang, ketika banyak orang mengganggap sumber daya bernama waktu itu semakin lama semakin berkurang. Jadwal-jadwal tersusun mungkin tidak hanya untuk beberapa hari namun juga bulan ke depan. Termasuk bagi saya, jadwal antri tiket mudik :)

Periode bulan mengitari bumi yang sekitar 29,5 hari membuat bulan dalam sistem qamariah dapat 29 atau 30 hari. Waktu 29,5 ini pun tidak persis sehingga tidak dapat ditentukan, katakanlah bulan pertama 30 hari, bulan kedua 29 hari, bulan ketiga 30 hari, dan seterusnya.

Hisab vs Rukyat

Ada dua metode yang dipakai untuk menentukan awal bulan, yaitu menghitung (hisab) dan melihat langsung (rukyat).

Rukyat, selain kuat dari segi hukum (syariat) agama, juga kuat karena melihat langsung. Sedangkan kelemahannya adalah tidak terduga. Penentuan awal bulan ditentukan saat matahari mulai tenggelam. Dapat dibayangkan betapa repotnya jika Idul Fitri baru dapat ditentukan pada malam sebelumnya. Demikian pula sholat tarawih pertama mungkin tidak dapat dilakukan tepat setelah sholat isya’ karena harus menunggu penetapan. Pada masa lalu hal ini mungkin tidak masalah, namun kondisi masyarakat sekarang berbeda. Belum lagi jika langit tertutup awan sehingga ufuk (horizon) tak dapat diamati.

Hisab dapat menentukan awal bulan jauh sebelumnya, bahkan 10-20 tahun ke depan dapat dihitung sekarang. Tidak ada cuaca yang menghalangi. Namun hisab memiliki kelemahan di hukum dan kemungkinan kesalahan karena yang dihitung bukan angka yang pas, perlu dilakukan kalibrasi secara berkala.

Kenapa di jaman serba komputer sekarang ini, masih saja terjadi perbedaan perhitungan awal bulan? Atau lihat saja pakai teleskop canggih?
Kenapa pada saat penentuan waktu shalat tidak ada yang berselisih tapi jika awal bulan sering berselisih?

Benar sekali, sekarang ini hisab memang mendominasi. Mungkin sekarang sudah tidak ada lagi yang menggunakan jam matahari (jangan dikacaukan dengan tahun berdasar matahari). Mungkin para muadzin tidak lagi tahu bahwa cara menentukan sudah masuk waktu subuh adalah dengan membedakan benang putih dan benang hitam di kegelapan malam. Namun bagi yang memegang teguh aspek legalitas tentu tidak dapat meninggalkan rukyat.

Toh masalah perselisihan itu bukan pada perbedaan hisab dan rukyat. Bukan pula pada perbedaan perhitungan, melainkan pada persepsi tentang ‘awal bulan’ atau ‘bulan baru’. Bagi penganut hisab haqiqi wujudul hilal (seperti Muhammadiyah), jika secara perhitungan hilal (bulan mati/baru) sudah terbentuk di atas ufuk, berapapun derajatnya (asal positif), berarti telah masuk awal bulan, persis seperti definisi fisika.

Namun ulama yang lain berpendapat lain, bahwa secara perhitungan hilal tidak mungkin terlihat jika terbentuk di bawah 2 derajat, sedangkan Nabi menyuruh ‘melihat’, bukan ‘menghitung’. Jadi bagi mereka selain terbentuk di atas ufuk juga harus lebih dari 2 derajat. Bahkan ada ulama yang mensyaratkan 4 derajat. (Angka-angka tersebut berdasar yang saya ingat, jika ada yang mengoreksi tentu saya berterima kasih)

Di sinilah letak permasalahannya, yang jelas tidak bisa diselesaikan dengan komputer atau teleskop secanggih apapun. Jika hilal terbentuk di bawah 2 derajat, kemungkinan besar terjadi perbedaan penentuan awal bulan. Jika lebih dari 2 derajat, kemungkinan besar akan bersamaan.

Kalau saya yang penting sama dengan Mekkah..

Silakan, itu juga keyakinan. Hal ini terutama berhubungan dengan Hari Arafah, sehari sebelum Idul Adha. Ada yang berpendapat, Ramadhan dan Idul Fitri boleh beda, tapi Hari Arafah harus sama dengan orang yang beribadah haji. Tapi bukankah penentuan Hari Arafah (9 Dzulhijjah) itu juga akibat penentuan bulan baru (1 Dzulhijjah)?

Bumi itu bulat dan berotasi, sedangkan bulan mengelilingi bumi, jadi bisa saja di sini hilal belum terbentuk, tapi di Arab sudah. Lagi pula konsep ‘hari yang sama’ itu juga persepsi manusia. Kesepakatan antar manusialah yang menentukan garis (imajiner) perubahan hari/tanggal di Samudera Pasifik. Jika kita naik pesawat ke Amerika Serikat melalui Hawaii, tanpa memakai mesin waktu pun kita akan sampai di sana sehari sebelum kita berangkat.

Ilustrasi ekstrimnya, seandainya saja kesepakatan internasional garis itu jatuh membelah Jakarta, memisahkan Jakarta Pusat dengan Jakarta Timur. Maka kereta api yang berangkat dari Gambir hari Sabtu pukul 08.00 (waktu Jakarta Pusat) dan tiba di Jatinegara 10 menit kemudian, menurut waktu Jatinegara (Jakarta Timur) adalah tiba hari Jum’at pukul 08.10. Jadi bisa ‘beda hari’ meskipun hanya beda 10 menit.

Lalu mungkin Anda akan berpendapat, daripada pusing-pusing mending ikut pemerintah, ya terserah. Saya tidak mencoba untuk memaksakan keyakinan dan pendapat, saya hanya membeberkan apa yang menurut saya pahami, sehingga orang tahu duduk permasalahan tentang perselisihan penentuan hari raya. Semoga bermanfaat.

Oleh: bootdir | 13 Juni 2009

Perang Peramban

Tak lama setelah Chrome 2.0 melepas masa lajang betanya, Safari 4 pun muncul. Ini menyisakan Firefox 3.5 dan Opera 10 yang masih bertahan di beta.

Di antara keempatnya, Chrome 2.0 yang lebih dulu saya coba. Saya telah mencoba Chrome sejak masih beta, sebelum versi 1, dan langsung membuat terpana. Loading aplikasinya sangat cepat. Tampilannya minimalis sehingga browsing web terasa lebih longgar. Chrome yang lahir belakangan mencomot banyak konsep dari peramban lain. Banyak fiturnya lebih dulu saya lihat di Opera. Konsep yang menurut saya baru adalah multiprocess. Setiap Tab memiliki Process tersendiri. Jika Anda buka Task Manager Windows, Anda akan melihat banyak chrome.exe bertengger di situ. Ini yang membuat Chrome sangat cepat. Ibaratnya di sebuah playgroup, peramban lain hanya memiliki seorang pembimbing untuk satu kelas, sedangkan di Chrome masing-masing anak memiliki pembimbing dan satu penyelia yang mengawasi para pembimbing itu. Tentu saja hal ini memiliki kekurangan, Chrome menghabiskan lebih banyak memori. Dalam browsing keseharian saya dengan sekitar 6 tab, Chrome bisa memakai sekitar 350 MB RAM, sedangkan browser lain untuk keadaan yang sama ‘hanya’ sekitar 200 MB. Namun hal ini tentu bukan masalah besar untuk komputer-komputer sekarang. Toh buat apa RAM kalo tidak untuk dipakai :) . Menurut saya, komputer sekarang dengan multicore dan RAM di atas 512 MB, jalan di atas Windows XP, dan tidak sedang merender gambar 3D atau video, cukup untuk Chrome.

Salah satu kekurangan Chrome adalah instalasinya yang membutuhkan koneksi internet. Mungkin lucu bagi orang-orang Google, mau instal peramban kok tidak punya koneksi internet. Mungkin mereka tidak tahu ada orang seperti saya yang pengin instal Chrome di laptop yang tidak terhubung internet dan berharap ketika dapat WiFi gratisan langsung bisa menggunakan Chrome. Di masa-masa awal, Chrome memiliki banyak isu kompatibilitas dengan beberapa situs web, namun di versi 2.0 ini telah diperbaiki.

Saya mengenal Opera sudah lama, bahkan sebelum Firefox lahir. Seingat saya, fitur Tab Browsing saya kenal pertama kali di Opera. Namun dia terlupakan sejak saya kenal Firefox. Saya baru menggunakan Opera lagi sejak menginstal Opera Mini di handphone saya. Menurut saya Opera Mini merupakan aplikasi wajib instal di HP yang hanya mendukung Java. Opera Minilah yang membuat HP saya sanggup menyaingi smartphone untuk urusan browsing :) . Opera Mini memiliki konsep yang bagus. Alih-alih mengakses situs web secara langsung, Opera Mini menggunakan proxy server. Ketika Anda mengetikkan sebuah alamat situs di Opera Mini, katakanlah Yahoo, maka Opera Mini menghubungi proxy server. Proxy inilah yang kemudian menghubungi Yahoo. Lalu halaman Yahoo dimampatkan dan diformat untuk tampilan mungil layar HP. Ini sangat bermanfaat karena koneksi internet melalui HP sering dihitung harganya per KB, sehingga cara ini selain cepat juga lebih murah. Konsep ini yang kemudian diterapkan di platform lain dengan nama Opera Turbo.

Opera Turbo merupakan salah satu fitur menonjol Opera 10. Sayangnya saya tidak suka Opera Turbo. Konsep memampatkan halaman situs web melalui proxy server itu membuat kualitas gambar menurun drastis. Di handphone mungkin tidak masalah karena layarnya mungil, tapi di desktop sangat mengganggu. Kecepatan yang dihasilkan dari pemampatan inipun tidak signifikan. Saya coba fitur Turbo ini di laptop yang menggunakan koneksi internet melalui GPRS. Saya berharap dapat menghemat, namun kenyataannya tidak berhasil. Saya baru bisa membuka halaman web ketika Opera Turbo dimatikan.

Satu hal lagi, Opera adalah contoh tragis. Opera sering mempunyai gagasan dan konsep hebat yang kemudian dipakai peramban lain. Namun pemakai Opera sendiri tidak banyak. Para pembuat halaman web sering tidak ‘memandang’ Opera, akibatnya Opera sering mengalami isu kompatibilitas. Opera sering terblokir di situs yang tidak mampu mengenali fitur Opera. Contohnya jika Anda mengakses Bing.com melalui Opera, Anda akan diforward ke halaman Beta, sedangkan peramban lain masuk ke halaman yang full-featured. Saya susah masuk ke Google Account (Gmail, Reader, etc) menggunakan Opera 10.

Saya juga mencoba Safari 4. Sayangnya saya telah lebih dulu kenal dengan Chrome, meskipun sebenarnya Safari lebih dulu ada dan Chrome yang mencomot engine-nya. Saya jadi tidak tertarik menggunakan Safari karena rasanya sama dengan Chrome. Pun demikian dengan Firefox 3.5, saya tidak merasa ada yang berbeda dengan Firefox 3.0. Mungkin setelah lepas dari masa beta akan terasa bedanya. Bagaimana dengan IE 8? Saya belum punya niat untuk mencoba.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.