Cacing dan kotoran kesayangannya

Dikisahkan ada dua orang biksu yang bersahabat karib. Kemana-mana keduanya selalu bersama-sama. Namun pada siklus kehidupan berikutnya , mereka terpisah. Yang satu menjadi dewa di surga.

Sang dewa pun mencari temannya. Dicari di surga, tidak ketemu. Dicari di dunia manusia, tidak ketemu. “Tidak mungkin menjadi hewan!”, pikirnya. Tapi karena begitu cintanya pada sahabatnya itu, akhirnya dia cari juga di dunia hewan.

Singkat cerita, sang dewa menemukan temannya dilahirkan kembali menjadi seekor cacing di sebuah kotoran hewan. Karena kasihan, sang dewa pun mengajaknya untuk pergi ke surga. Namun sang cacing tidak mau, dia pengin tetap berada di kotoran hewan itu. Sang dewa pun menceritakan keadaan di surga, bahwa setiap sesuatu akan ada hanya dengan memikirkannya. Jika ingin hidangan lezat, istana megah atau pakaian indah; tinggal memikirkannya saja.

Lalu sang cacing bertanya,”Apakah di surga ada kotoran?”

“Tentu saja tidak!”, jawab sang dewa.

“Kalau begitu aku tidak mau!”, jawab sang cacing sambil membenamkan dirinya ke dalam kotoran.

Sang dewa berpikir bahwa sang cacing mungkin akan berubah pikiran jika dia sudah melihat surga. Dengan menutup hidung, sang dewa memasukkan tangan lembutnya ke dalam kotoran. Namun sang cacing tetap aja menolak dan mengelak. Sampai 108 kali (yup, sebelum cerita ini terdapat 108 cerita dalam buku yang mengajak pada kebaikan) sang dewa mencoba menariknya dari kotoran, namun sang cacing tetap saja tidak mau. Akhirnya sang dewa menyerah, dan meninggalkan cacing dalam kotoran.

Cerita tersebut ditulis oleh Ajahn Brahm, seorang wiharawan ternama. Maksud dari cerita itu adalah: kadang kita keras kepala seperti cacing. Diberitahu tentang kebaikan tetapi lebih memilih suatu kesenangan yang sebenarnya hanya sebuah “kotoran”.

Namun menurut saya ada yang kurang dari pesan moral cerita tersebut; bahwa kita kadang menjadi sang dewa yang -menurut saya- kurang bijaksana. Kadang kita merasa sudah punya kunci surga, lalu memaksa orang untuk ikut masuk ke surga kita; bahkan tanpa sengaja menjadi jumawa, merasa “menyelamatkan” orang dari neraka sengsara. Bagaimana jika kotoran itu memang “surga” bagi cacing? Mengapa kita pikir cacing butuh makanan lezat, pakaian indah dan istana megah? Atau yang dibutuhkannya memang hanya sekedar kotoran?

2 tanggapan untuk “Cacing dan kotoran kesayangannya”

  1. Maksud dari kotoran disini adalah hal2, perbuatan2, sikap2, yang secara universal disepakati sebagai sesuatu yang tidak benar atau buruk, baik dari sisi agama manapun, norma bangsa atau suku apapun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s