Mencatatlah…

Tiga minggu yang lalu saya dipindahkan ke bagian yang pekerjaannya tidak berhubungan sama sekali dengan yang telah saya jalani selama 2 tahun ini. Celakanya sebuah tanggung jawab besar langsung ditimpakan kepada saya. Saya tidak bisa berkelit bahwa saya masih ‘baru’. Saya memang bukan pekerja baru meskipun dalam pekerjaan itu saya memang ‘baru’. Rupanya pekerja lama yang selama ini bertanggung jawab pada hal itu pindah ke tempat lain.

Sebuah program pengolahan data diwariskan kepada saya, dan seperti banyak hal di negeri ini, tanpa dokumentasi yang memadai. Program itu sendiri memang memiliki buku panduan, dan dengan beberapa kali eksplorasi hal itu tidak terlalu masalah. Masalah yang sesungguhnya adalah bahwa tanggung jawab saya adalah termasuk menyediakan data langsung melalui query ke basis data. Bagaimana saya bisa mengambil data jika saya tidak tahu apa yang disimpan dan dimana?

Saya kemudian menyesal. Menyesal mengapa saya juga tidak meninggalkan ‘jejak’ di tempat kerja lama. Padahal query di sana lebih sederhana, sebagian besar hanya berkutat pada satu tabel utama. Mungkin jika saya menuliskan cara membuat query untuk permintaan data tertentu, pekerjaan itu bisa dilakukan oleh pekerja lain yang tidak berlatar belakang pendidikan komputer.

Standard Operating Procedure (SOP) bukanlah barang baru, sudah sering kita dengar. Cuma masalahnya seringkali SOP dibuat sekedar untuk memenuhi kewajiban persyaratan ‘good (corporate) governance‘. Itupun yang membuat konsultan yang berasal dari luar institusi, bukan pekerja yang sehari-hari menangani, sehingga hanya bagus untuk laporan dan presentasi. Padahal yang lebih kita butuhkan adalah sesuai dengan filosofi ‘write what you do, do what you write‘. Tulislah apa yang kamu kerjakan, lalu kerjakan sesuatu sesuai dengan apa yang telah ditulis, sehingga terdapat sebuah prosedur baku dalam melakukan sesuatu.

Saya teringat cerita seorang bekas pimpinan suatu proyek di Sulawesi Selatan. Proyek tersebut menggunakan pinjaman dari Jepang. Institusi Jepang yang melakukan supervisi selalu mengirimkan orang yang berbeda tiap tahun. Hebatnya setiap orang baru tersebut memiliki pengetahuan orang-orang yang dikirim sebelumnya. Sang pimpinan proyek (pimpro) seolah-olah berbicara dengan orang yang sama dengan yang pertama kali datang. Bahkan sang pimpro pernah terkejut saat melakukan survei lapangan, orang Jepang yang baru datang dari negaranya sudah tahu akan menemukan 3 rumah setelah rombongan tersebut melewati sebuah sungai. Itu di saat Google Earth dan Google Maps belum lahir, pun perangkat GPS belum populer. Rupanya orang Jepang tersebut telah membaca catatan dari pendahulunya.

Soal catat mencatat juga mengawali perkembangan perusahaan raksasa elektronik Sony. Saat itu sejumlah kecil orang Jepang berkunjung ke Texas Instrument. Texas Instrument memiliki teknologi yang menjadi loncatan besar industri elektronik yaitu transistor. Selama tur di pabrik, orang Jepang tersebut dilarang merekam apapun yang ada di situ. Namun secara cerdik (atau culas?πŸ™‚ ) mereka membuat catatan di penginapan. Mereka menulis dan menggambar apa saja yang mereka lihat seharian. Catatan-catatan ini kemudian dikirim ke Jepang untuk dianalisa di sana. Ahli-ahli di Sony kemudian melakukan riset sendiri membuat transistor berdasar catatan tersebut. Cara perekaman tidak langsung ini justru kemudian melepaskan Sony dari pelanggaran hak paten karena pembuatan transistornya berbeda dengan Texas Instrument. Hal ini terjadi saat mereka salah mengintepretasikan catatan yang dikirim. Hal sebaliknya terjadi jika mereka menggunakan kamera tersembunyi beserta rekaman penjelasan dari pemandu tur. Dari pembuatan radio transistor inilah kerajaan bisnis Sony berawal. *)

Kembali ke permasalahan saya tadi, mungkin itulah yang membuat bangsa ini tidak pernah maju. Selama tiga tahun terakhir, pekerjaan yang saya lakoni sekarang dipegang oleh tiga orang yang berbeda. Tiap-tiap orang mengawalinya selalu dari nol. Seandainya terdapat catatan yang baik, pengetahuan dan pengalaman orang sebelumnya dapat terpindahkan ke orang sesudahnya, sehingga alih-alih belajar dari nol dapat belajar yang lain yang lebih maju. *Ah yang benar? Bukannya ini pembelaan karena sekarang malas belajar?πŸ™‚ *

Jadi ingat tagline Ilmukomputer.Org, ikatlah ilmu dengan menuliskannya.

*) Sumber dari tayangan TV NHK yang diputar oleh TVRI

7 tanggapan untuk “Mencatatlah…”

  1. setuju…. kayaknya emang perlu yah “pelajaran mencatat” dari semua pekerjaan kita. biar penerus kita lebih mudah meneruskannya….

  2. Wuahahaha Mas Bud curcol niy (curhat colongan)…. Aku jadi inget ada rule di company lama aku gini: NOT DOCUMENTED NOT DONE. Hmmm….cukup efektif kok ninggalin ‘jejak’. Masalahnya di diri aku ini orangnya lebih suka nginget2 di dalem kepala daripada nyatet, dengan alesan (ngeles juga siy) berusaha mengurangi penggunaan kertas. Saia kan pendukung gerakan menuju pekerjaan yang paperless wuehehehe. Solusinya, nulis dalem bentuk soft copy ajaπŸ™‚

  3. @nanda:
    Ayo Bu Guru, pelajarannya sekarang menulis didikte…sudah capek nulis halus ni…πŸ˜†

    @wina:
    Yang saya maksud catatan adalah dokumentasi, bukan berarti harus di atas kertas. Memang bangsa kita lebih suka mengingat dan bercerita daripada menulis. Masalahnya isi kepala sulit ditransfer dan pengetahuan/pengalaman bisa hilang karena lupa.

  4. Dokumentasi yang bagus, itu yang susah ditemukan ditempat kerjaku, seperti kamu juga Bud, aku terdampar disuatu posisi yang asing dengan pengetahuan yang nolπŸ™‚ akhirnya memang dokumentasi itu perlu, based on my exp, suatu vendor yang terkenal mahal pun (bagus sih belum tentu)πŸ™‚ tidak punya dokumentasi yang bagus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s