Kaki Gajah

Sabtu sore pintu rumah diketuk Pak RT. Dia menyodorkan sebuah formulir sambil mengatakan bahwa sehabis Ashar ada pengobatan penyakit kaki gajah.

Saya baru tahu bahwa ada program pemberantasan penyakit kaki gajah. Bahwa penderita penyakit itu pernah saya lihat di TV, iya. Bahwa penyakit itu akibat dari cacing yang menyumbat getah bening, saya ingat. Tetapi sungguh saya baru mendengar ada program pemberantasan besar-besaran seperti ini. Imunisasi, vaksinasi anti tetanus, pemberantasan demam berdarah, semua pernah saya dengar. Dan setelah saya cermati formulirnya, di situ ada kolom mengenai efek samping, kapan berawal dan berapa lama efek samping itu. Di bawah kolom terdapat keterangan kode efek samping, 1 untuk Mual, 2 untuk Pusing, dan seterusnya bahkan sampai ke sakit limpa. Weits… bahaya ni!

Maka saya mengutus hape saya untuk bertanya kepada Paduka Google. Paduka Google menyarankan saya membaca situs ini. Dari situlah saya mengetahui beberapa hal tentang Filariasis alias penyakit kaki gajah. Benar bahwa penyakit itu akibat dari cacing Filaria, namun saya lupa bahwa yang penyebarannya melalui gigitan nyamuk. Berbeda dengan Malaria dan Demam Berdarah yang ditularkan oleh nyamuk tertentu, larva cacing Filaria bisa ditularkan oleh berbagai macam nyamuk. Tidak dijelaskan mengenai masa inkubasinya, namun di artikel tersebut tersirat bahwa gejala baru timbul pada penderita kronis/menahun. Wah, gawat juga ni! Paduka Google juga menyarankan untuk membaca berita ini, bahwa Depok endemi penyakit kaki gajah. Duh!

Kedua situs itu membuat saya memahami formulir tadi. Mengapa di kanan atas terdapat isian banyak tahun? Karena pengobatannya dilakukan setahun sekali selama lima tahun. Obat yang diberikan adalah Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) dan Albenzol, dan bonus Paracetamol untuk mencegah efek samping seperti demam. Ketiganya terdapat dalam kolom ‘Obat yang diberikan’, yang harusnya diisi petugas medis. Saya yang semula enggan lalu merasa perlu turut serta dalam ‘serangan umum’ ini.

Sayang sekali pelaksanaannya memiliki banyak kekurangan. Yang pertama, pelaksanaan yang menggunakan halaman rumah seorang warga dimanfaatkan oleh dua orang caleg untuk menyebarkan kalender bergambar foto dan lambang partai. Akibatnya sejumlah orang apatis pada politik dan orang yang memiliki aspirasi politik lain enggan mendekat. Saya lihat seorang ibu muda langsung pulang sambil mengatakan kalau dia tidak mau karena bukan dari partai itu.

Kedua, tidak ada penjelasan mengenai progam tersebut. Bahwa obat yang diberikan merupakan obat keras namun penting untuk diminum. Bahwa obat itu tidak boleh diberikan pada wanita hamil, ibu menyusui, bayi di bawah 2 tahun dan orang bertekanan darah tinggi. Semua itu saya baca di kedua artikel di atas. Mungkin saya yang datang terlambat, namun masih banyak orang yang datang setelah saya secara berangsur-angsur.

Orang-orang bergerombol mengambil obat menurut RT masing-masing. Memang ada petugas yang memeriksa tekanan darah, namun banyak yang langsung mengambil obat, karena memang tidak ada yang memberi tahu kalau harus periksa dulu. Pembagi obat bukan petugas medis, namun pengurus RT masing-masing. Obat dibagikan per keluarga berdasarkan kelompok umur yang tertera di formulir. Meski berulang kali pembagi obat menekankan agar tidak tertukar, namun bagaimana menjamin seorang ibu sampai di rumah tidak tertukar obatnya karena kedua tangannya membawa 2 kantung obat dewasa, 3 kantung obat anak, dan 1 kantung obat balita misalnya? Padahal itu obat yang ‘serius’, tidak bisa untuk main-main.

Tidak adanya penjelasan membuat program ini menjadi sia-sia, bahkan bisa jadi petaka. Saya mendengar suara di kerumunan yang mengatakan jika tidak sakit obatnya tidak perlu diminum. Padahal pengobatan secara besar-besaran yang dilakukan secara serentak dimaksudkan untuk memberantas cacing dan larvanya yang ada di masyarakat. Jangan sampai orang yang sudah terbebas kembali tertular karena ada yang tidak meminum obatnya. Obat tersebut sangat keras sehingga hanya diberikan sekali dalam setahun, namun bukan berarti setelah minum obat itu tidak akan tertular selama setahun.

Belum lagi jika obatnya tertukar. Dosis DEC sebenarnya berdasar berat badan, bukan kelompok umur. Namun mungkin agar gampang, obat dimasukkan ke kantong berdasar rata-rata berat badan kelompok umur. Dan sekali lagi karena tanpa penjelasan, saya yakin ada yang meminum obatnya satu per satu, padahal seharusnya kantong diminum sekaligus. Dan jika ada yang terkena efek sampingnya pasti dianggap kesalahan sendiri atau bahkan cobaan dari Tuhan.

8 tanggapan untuk “Kaki Gajah”

  1. halah halah kasian sekali sih masyarakat kita, apa mungkin ini salah satu cara untuk mengurangi populasi penduduk indonesia?
    Tapi lagi-lagi ini dikarenakan pendidikan masyarakat yang kurang baik, bagaimana ya solusinya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s