Kebebasan berpendapat, sampai mana?

Tahukah Anda bahwa blog yang membuat geger kemarin karena memuat komik nabi ditutup bukan karena masalah ‘penghinaan’? Bukan karena laporan banyak orang? Bukan pula karena pemerintah yang ‘katanya’ melaporkan juga? Bahwa blog itu sekarang ditutup karena melanggar Terms of Service (ToS) sudah jelas. Tapi ToS manakah yang dilanggar? Dari blog ini, saya membaca bahwa ToS yang dilanggarnya adalah karena memasang iklan.

WordPress.com memang melarang pemasangan iklan di blognya. Sudah numpang gratis kok masih jualan, mungkin begitu kata orang WordPress.com (Harap dibedakan antara WordPress.com dan WordPress itu sendiri). Nah ToS WordPress.com itu sangat menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. Pendapat, pikiran, dan ide seseorang, menurut orang-orang di WordPress.com tidak bisa dilarang. Badan bisa dipenjara, tapi tidak dengan pikiran. Kalo Anda mengikuti kampanye Presiden AS, tentu Anda bisa melihat ‘kebrutalan’ kebebasan itu. Bayangkan ada segelintir orang menyebarkan pamflet Partai Republik di dalam gedung di tengah ribuan peserta konvensi Partai Demokrat. Kalo di sini saya yakin tidak sampai 5 menit bertahan sebelum babak belur dihajar massa.

Eits, jangan dulu emosi. Dunia ini sangat beragam dan penuh pertentangan. Tentu dapat dimaklumi jika WordPress.com akan sangat kerepotan jika harus mengurus semuanya. Belum lagi subyektivitas benar-salah. Bingung..

Kebebasan ada batasnya. Tapi batasnya apa? Sungguh sangat subyektif. Jika dikatakan batasnya tidak menyinggung orang lain, itupun subyektif, karena ada orang yang mudah tersinggung. Apapun yang Anda katakan tentang ‘lawan’ Anda bisa membuatnya tersinggung.

Bagaimana jika Pemerintah yang melaporkan? Bukannya itu sumber terpercaya? Pemerintah memang seharusnya berada di atas semua golongan, tapi bagaimana jika Pemerintah melaporkan setiap orang yang mengkritisinya?

Menurut Anda, kebebasan berpendapat itu bagaimana? Ada batasnya tidak? Kalo ada, batasnya dimana?

8 tanggapan untuk “Kebebasan berpendapat, sampai mana?”

  1. mungkin batasnya juga subyektif Bud, tergantung darimana sudut pandangnya kekeke sama aja kagak ada batesnya yah😉 . Atau mungkin batasnya norma masyarakat yang nggak tertulis yah🙂

  2. Tidak ada batasnya.
    Wordpress.com saja membatasi hanya karena TOS bikinannya sendiri gitu kok.
    Tapi, ‘sanksi sosial’ dr blogger lain perlu disepakati.
    Blog2 sensasional ditinggalkan, tidak usah dilihat.
    sekali ada posting di blog itu yg semata cari sensasi belaka; segera jangan kunjungi lagi blog itu.🙂

    *(Bgmn dg blog saya ya?)*😆

  3. batasnya al-quran dan al-hadits pakde😉 makanya harus selalu terus belajar biar semakin memahaminya dan gak sasar susur. imo..^^

  4. rasanya sudah cukup banyak rambu2 yang membatasi kebebasan. mau definisi apa lagi yak? memang sih, kalo menyangkut kepentingan orang lain apalagi SARA, lebih baik mikir dua kali sebelum bicara. soal blog pengejar traffic, saya yakin lama2 orang juga paham bahwa tidak semua pemilik blog bikin posting untuk dibaca oleh manusia, melainkan mesin pencari😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s