Domain

domain himpunan
domain himpunan

Di pelajaran matematika, khususnya ketika berbicara mengenai himpunan, domain sering disebut semesta pembicaraan. Anggota himpunan harus di dalam semesta pembicaraan. Jika ada sebuah himpunan yang syarat keanggotaannya semua berada di luar semesta pembicaraan, maka himpunan itu tidak memiliki anggota alias himpunan kosong.

Segala sesuatu mempunyai domainnya masing-masing. Demikian pula dengan pernikahan. Ada pernikahan yang berada dalam domain agama. Agama umumnya memiliki aturan ketat tentang kehidupan manusia, terutama hubungan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan nilai dan filosofi dasar dalam masing-masing agama, membuatnya berbeda dalam mengatur pernikahan. Mulai dari tata cara sampai dalam memandang ‘lembaga’ pernikahan itu sendiri.

Demikian pula dengan aturan yang mempunyai ruang lingkup lebih kecil seperti adat. Adat, seperti halnya aturan lain, diciptakan untuk membuat keteraturan dalam lingkup masyarakat tertentu. Pun demikian dengan negara. Negara mempunyai aturan di lingkup negara atau warga negaranya.

Jika ada orang berbeda agama ingin menikah, tentu bingung mencari domain untuk menaungi pernikahannya. Entah karena kedua agama tidak mau atau mereka sendiri yang tidak mau memasuki domain agama. Hukum negara sok religius pun sangat menghormati kalau tidak mau dikatakan berdasar pada hukum agama. Lalu menikah di negara lain? Apakah itu bukan sekedar menghibur diri? Agar bisa menjawab bahwa telah menikah berdasar hukum negara antah berantah? Padahal bukan warga negara, bahkan hanya berada di negara tersebut sebentar saja? Apakah tidak seperti bermain sepak bola di stadion utama tapi memakai aturan bola basket?

4 tanggapan untuk “Domain”

  1. berteman saja sekuatnya😛 hehehe, becanda ding.. kalo menyangkut agama, sifatnya pribadi dan sensitif banget sih.. tergantung mereka yg jalanin aja.. udah berani kawin, mestinya udah pada dewasa yak😀

  2. @emyou:
    ini melintas kepala waktu artis idolamu itu muncul di infotaintment…hahaha…😆

    @mpokb:
    iya mpok, kalo soal agama sih terserah…
    saya lagi memikirkan tentang domain penikahan, apa yang membuat seseorang dinyatakan telah resmi menikah?
    kalo ada sepasang manusia menyatakan bahwa mereka telah menikah menurut tradisi zebra di padang savana Afrika, boleh ndak?

  3. Yahhh…. demi cinta bud😀
    – Anak manusia bisa memaki orang tuanya
    – Seorang miskin bisa menjadi pura-pura kaya
    – Si waras menjadi gila

    Demi cinta, atas nama kebebasan berprinsip karena sudah dewasa itu tadi, sehingga apa-apa yang tampaknya logis, menjadi di-kabur-kan.

    Cinta emang perlu logika? perlu! kalo tidak itu namanya emosi cinta semata. Terjaganya keseimbangan antara logika dan emosi tadi akan berdampak pada kehidupan yang harmonis.

    Beuh, mudah-mudahan gak nglantur..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s