Perubahan perilaku dan pola makan

Lagi-lagi terinspirasi oleh milis. Ada sebuah email berantai mengenai bahaya minuman isotonik. Seperti halnya ‘energy drink’ dan multivitamin dosis tinggi, minuman isotonik diiklankan seolah-olah dapat diminum oleh setiap orang dan setiap saat. Jika pada kemasan multivitamin dosis tinggi diberi peringatan bahwa maksimal hanya sekali sehari, minuman isotonik tidak memiliki peringatan apapun.

Pada dasarnya yang disebut minuman isotonik adalah larutan garam. Ion yang dikatakan oleh produsen terkandung dalam minuman itu bukanlah ‘magic’ atau produk hi-tech. Buku teks pelajaran kimia menjelaskan dengan gamblang bahwa garam yang dilarutkan akan terpolarisasi menjadi ion positif dan negatif.

Pun saya memiliki pengalaman pribadi dengan minuman ini. Suatu ketika saya menderita diare. Cukup parah sehingga hampir tiap 15 menit harus ke toilet. Sejak SD sudah tertanam di otak, kalo diare minum oralit. Kalau tidak ada oralit, buatlah larutan garam dan gula. Begitulah kata iklan layanan masyarakat yang dibuat pemerintah waktu itu.

Demi alasan praktis, saya membeli minuman isotonik. Larutan garam plus sedikit gula tentu memenuhi syarat sebagai oralit. Tak perlu repot. Tiap kali sehabis ke toilet minum seteguk dua teguk. Namun apa yang terjadi saat saya periksa ke dokter? Tekanan darah saya naik drastis, ke level yang membahayakan. Sang dokter pun segera menebak bahwa saya telah minum minuman isotonik. Rupanya bukan hanya saya saja yang demikian. Dokter berkata seandainya mau minum minuman isotonik, jangan lebih dari sebotol sehari. Lebih baik banyak minum air putih, katanya.

Sebenarnya garam penting untuk tubuh. Salah satunya karena garam mempunyai efek mendinginkan. Itulah pula kenapa penjual es krim tradisional menyelimuti termos esnya dengan garam. Garam mendinginkan tubuh dengan keluar bersama keringat.

Secara tradisi makanan kita banyak mengandung garam. Tanpa penelitian ilmiah nenek moyang kita mempunyai insting untuk bertahan. Seorang yang seharian di tengah sawah di bawah terik matahari akan pingsan jika tidak memiliki cukup garam. Tetapi garam juga meningkatkan tekanan darah. Lalu mengapa jika dulu tekanan darah tinggi hanya di derita orang-orang tua tetapi kini banyak di derita oleh orang-orang yang lebih muda?

Jawabannya adalah karena telah terjadi perubahan perilaku kegiatan orang, sementara pola makannya tetap. Banyak orang kini jarang berkeringat. Rumah, mobil dan kantor semuanya ber-AC. Olahraga sedikit di akhir minggu, itupun lalu minum 2 botol minuman isotonik. Makanan ala Eropa pun banyak di-‘lidah Indonesia’-kan dengan bertabur garam.

Lalu mengapa banyak orang bermasalah dengan gorengan dan santan sementara nenek moyang kita tidak? Minyak goreng dan santan adalah cara nenek moyang kita mendapatkan lemak. Namun mereka tidak minum susu dan makan produk turunannya. Setidaknya tidak seperti kita. Nenek moyang kita juga tidak terlalu banyak makan telur dan daging. Sebaliknya, orang yang tinggal di daerah dingin memerlukan banyak lemak tapi hanya sedikit garam. Kekacauan terjadi ketika kita mencampur aduk semuanya.

Maka kebiasaan orang Italia yang minum sedikitnya 2 cangkir kopi sehari, tidak serta merta dapat dijadikan acuan di sini.๐Ÿ™‚

5 tanggapan untuk “Perubahan perilaku dan pola makan”

  1. “Maka kebiasaan orang Italia yang minum sedikitnya 2 cangkir kopi sehari, tidak serta merta dapat dijadikan acuan di sini.”

    merasa tersindir nih. itu kan batasan konsumsi kafein yang aku terapkan buat diri sendiri (unsure)

  2. @emyou:
    Kebanyakan caucasian itu darah rendah. Mungkin karena makanan/minuman serba hambar mereka. Itu jawaban dari seorang Spanyol yang harus minum kopi tiap kali makan sesuatu atau perutnya tidak dapat mencerna dengan baik, saat aku tanya soal darah tinggi.๐Ÿ™‚

  3. @wina:
    Kalo soal ngantukan mungkin bawaan orok๐Ÿ˜†

    @trisun:
    Boleh, asal nyebut sumber. Tetapi sebenarnya lebih bagus jika Anda menulis sendiri soal itu lalu pingback ke sini. Terima kasih๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s