Pengalaman di Rumah Sakit

Sebenarnya kejadian ini sudah lama, namun berhubung di milis ada yang memforward tentang masalah ini, saya juga mau cerita.

Sebenarnya tidak terlalu dramatis, sekedar penyakit pelayanan umum di negara ini.
Waktu itu mengantar istri berobat karena sudah tiga hari terkena batuk yang sangat parah, ditambah riwayat radang tenggorokan.

Maka hari pertama istriku harus melakukan serangkaian tes di beberapa lab di RS itu. Anehnya di setiap loket dari pendaftaran sampai lab terakhir selalu ditanya apakah peserta Askes. Di situ saya melihat berkas pasien Askes selalu disendirikan. Melihat seperti itu sejak awal aku bilang bukan peserta Askes meskipun sebenarnya istriku memiliki kartu Askes komersial. Kami harus kembali keesokan harinya karena jam 2 siang klinik-klinik dan lab sudah tutup. Sebetulnya loket-loket sudah terlihat ditinggalkan petugasnya sejak jam makan siang.

Hari kedua kami datang sebelum jam 8 supaya cepat tanpa antri banyak. Sampai di RS ternyata sudah banyak pasien di sana. Cita-cita kami untuk segera cepat menyelesaikan pemeriksaan ini tidak terkabul karena petugasnya belum ada yang datang. Sekitar pukul 8.30 satu per satu petugasnya muncul. Itupun tidak langsung bekerja. Dengan santainya petugas-petugas itu berjalan membawa beberapa berkas dan tabloid. Lalu ngobrol dengan petugas lain yang ditemui di lorong. Sangat asyik seolah sudah beberapa bulan tidak bertemu. Mungkin bagi mereka buat apa cepat2 toh dokternya belum datang.

Setelah petugas siap kami mendaftar, lalu menunggu dokternya datang. Baru sekitar pukul 9.30 dokter datang. Saya berpikir, enak sekali ya, datang setengah 10 lalu istirahat jam 12. Kalo pasien terlihat sepi bisa langsung cabut, paling lama sampai jam 2 siang.

Saat diperiksa dokter, dokternya langsung bilang,”Makanya kalo sakit langsung berobat, ini sudah batuk 3 bulan baru periksa.” Wow, rupanya dokter ini sekolah sama Ki Joko Bodho. Kami baru sekali itu ketemu dan tanpa bertanya dokter itu langsung memvonis. Hari sebelumnya istriku diperiksa oleh dokter lain yang langsung menyuruhnya periksa ke lab. Jadi belum pernah istriku ditanya sejak kapan sakit.

Hebatnya lagi, si dokter bahkan tidak menyentuh istri saya. Periksa denyut jantung dan tekanan darah dilakukan oleh asistennya, mahasiswa kedokteran yang sedang PKL. Lalu sang dokter menawarkan obat satu suntikan seharga Rp 27.000,-. Bayarnya di situ, bukan lewat loket pembayaran.

Singkat cerita kami tidak percaya dengan analisis dokter tersebut. Dan seminggu kemudian istri saya sembuh setelah 2 kali pijat tradisional.

Namun di RS itu tak semuanya buruk. Sebelumnya saya pernah periksa kesehatan di pavilion VIP di RS yang sama. Yang berada di dalam dekat lapangan golf, tempat orang melakukan general checkup. Ruang dan tempat duduk teratur rapi seperti kantor-kantor modern. Bahkan ada tempat khusus buat anak2 bermain. Jadi, masalah uangkah?

Kesimpulan saya, kartu Askes paling sakti adalah yang berlogo Bank Indonesia dan ditandatangani gubernurnya🙂

27 tanggapan untuk “Pengalaman di Rumah Sakit”

  1. biuh,…rumah sakit endonesa emang kacrut…
    ikut prihatin…
    keluarga saya juga pernah dapat pelayanan buruk dari rumahsakit.
    semoga sampeyan dan keluarga sehat dan waras teyus

    1. baru aja aku telp ke rs fatmawaty…mau nanya dokter mata….eh jawabnya nga sopan katanya tlp lagi aja dokternya juga blm ada dan lgs ditutup telp nya …padahal saya mau ke griya husada yg katanya elit itu loh…tapi tetep aja kampungan…

  2. kebetulan gw uda beberapa hari batuk dan lagi mempertimbangkan apa mo ke fatmawati (deket dari kos) ato ke RSPP (deket dari kantor). sepertinya gw akan mempertimbangkan berkali-kali buat ke fatmawati deh kalo gitu. makasyi mas..

    1. Saya sudah 5 tahun jadi pasien rutin RS Fatmawati, RS Griya Husada dan RSPP. Memang ada perbedaan diantara mereka. Dua yang pertama adalah RS Pemerintah dan yang terakhir adalah RS Swasta. Yang kedua adalah RS Pemerintah yang dipaksakan menjadi RS seperti Swasta. Atitudenya sama saja seperti attitude PNS, jadi ya musti sabar2 saja. Contohnya saya musti rontgen di RSGH, menurut jadwal loket rontgen buka jam 14.00, tapi ternyata baru buka jam 14:30, itupun petugas rontgennya belum datang, baru 15 menit kemudian bener-2 buka. Attitude sedemikian belum pernah saya alami di RS yang ketiga diatas, semuanya serba cepat dan tepat … he he he … semoga Anda sehat2 saja ya …

    1. haaaaaaaaaaiiiiii……………..?
      pripun kabare le?
      sae-saE ke mawon tho? hehehe…
      undang,…undang yaah..heheh..

  3. Kayaknya yang begitu itu cuma di RS negeri deh, tapi kalo ditarik talinya? yah itu berarti memang karena masalah duit? duit … dan duit …

  4. Bhueheuheuehue.. sekedar sharing.. kenapa petugas administrasi santai2 saja? karena cepat2 juga dokter2nya jg blum pada datang.. kenapa dokter2nya blum pada datang? ya klo pagi buka ‘warung’ pribadi dulu, anter anak sekolah, ke salon dsb.. sampai RS udah pada ngantri tuh fans-fans dia (pasien maksudnya)..mesti nanti pas beraksi ndak ada jedanya antara priksa satu pasien dengan berikutnya. Jadi dia pikir dia efektif gitu lho😛.

    Kalo Anda mampu ke pelayanan VIP, jelas pelayanan regular tidak cocok untuk Anda. Berjuta masyarakat berebut pelayanan kesehatan murah di RS Pemerintah

    PS. Btw, kalo di Yogya sini, tarif pelayanan VIP RS Pemerintah lebih murah daripada pelayanan poli di RS swasta (JIH misalnya).

  5. @Dedi:

    Waktu itu mo cari surat kesehatan, diforward ke VIP karena termasuk golongan general checkup, meskipun tidak lengkap. Jadilah mencicipi layanan VIP.🙂

  6. resiko kalau memilih RS pemerintah ya kayak gitu, tp RS swasta juga ga semuanya bagus pelayanannya…
    kemaren anakku operasi tulang belakang di fatmawati pakai askes komersial, alhamdulillah berjalan sesuai jalur & ga susah ngurusnya.

  7. Yah … namanya RS Umum ya begitu bok … banyak yang butuh pelayanan, fasilitasnya kurang. Memang pelayanannya harus ditingkatkan.

    Saya rasa sekarang setelah menyandang ISO, pelayanannya menjadi lebih baik kok …

    Saya sudah lebih dari 3.5 tahun rutin seminggu dua kali cuci darah di RS Fatmawati sebagai pasien ASKES … pelayanannya wow … first class … bok … mana gratis … tis … tis … setelah SBY/JK memerintah. Sebelumnya musti bayar cost sharing 350 rb, terus turun ke 150 rb dan sekarang gratis … makanya aku takut kalau ganti pemerintahan nanti musti bayar lagi … mana sanggup …. belum lagi banyak pasien GAKIN/JAMKESMAS yang dapat pelayanan gratis pula …

    Semoga RS Fatmawati makin maju dan profesional.

    Wassalam,
    AbuDhani

  8. Sebetulnya kalau mau dapat pelayanan yang lebih baik datang saja ke RS Griya Husada (RSGH), diparkiran belakang RS Fatmawati. Disana tempatnya lebih convenient walaupun belakangan ini pasiennya makin banyak saja. Cuma yang kurang promosinya … Mungkin karena kebiasaan menjadi RS pemerintah …

    Saya sejak harus antri seharian di POLI sampai teler, sekarang lebih suka di RSGH. Kalau terpaksa tiduran disediakan tempat tidur, walaupun letaknya di gang, dilihat banyak orang yang lalu lalang.

    Cuma nunggunya … selesai cuci darah jam 11 terus nunggu sambil tiduran sampai jam 18, karena males pulang.

    Tariffnya juga nggak terlalu mahal ketimbang di RS swasta lainnya. Fasilitasnya lengkap, karena bisa sharing fasilitas RS Fatma lainnya.

    Semoga bermanfaat.

    1. Boleh tau ngga berapa jauh beda harga antara Poli Griya Husada sama Poli Fatmawati.. Maklum, pasien umum.. alias biaya sendiri.. Thx info nya boss..

      1. Wah nggak tahu ya … soalnya saya pasien ASKES Sosial sih … tapi yang jelas lebih murah dari tarif RS Swasta, karena dokter-dokternya dokter RS situ juga … Tapi yang jelas nggak usah ngantri panjang2 seperti di Poli Umum.

  9. fatmawati belum merasakan,tapi rscm udah,yah sy agak kecewa dgn pelayanannya pdhal ortuku askes pns yg notabene semua obat paten & pemeriksaan penunjang qt bayar sendiri,disisi lain rscm plg lenkaaaaap kap px penunjangya dibdgkan rs lain,yaaah kembali lagi mugkn krn rs pemerintah,byk pasien dilayani(sekrg Mamaku da tiada begt jg Papa,mohon maaf disaat hidup uangku tipis sehgga tdk bisa dirawat di kls vip rs swasta)….aq hy berdoa mudah2an jgn sampai masuk rs disaat ag sakit.(wlpun aq jg berprofesi perawat)

  10. Fatmawati sekarang sedang berusaha kok untuk jadi RS Negri yang lebih baik dari pelayanannya n fasilitasnya, kita tunggu terus kritik dan sarannya mudah2an RSF bisa benar2 menjadi RS nya masyarakat..

  11. baru aja aku telp ke rs fatmawaty…mau nanya dokter mata….eh jawabnya nga sopan katanya tlp lagi aja dokternya juga blm ada dan lgs ditutup telp nya …padahal saya mau ke griya husada yg katanya elit itu loh…tapi tetep aja kampungan…

    1. Serupa deh … aku telpon RSUP Fatma malah nggak diangkat sama operatornya … mustinya tinggalin saja pesan kalau mau hubungi RS Griya Husada tekan nomor berapa kek … Lab no berapa kek … dstnya.

  12. Namanya juga manusia..pasti ada salahnya..,gak papa lahh sesama rakyat indonesia harap dimaklum-ken,abis kebanyakan disini emang gitu…sehh yaa
    bukan di RS aja,di semua bidang kok..!,jgn2x bootdir juga gitoo di profesinya..wkwkkwkwk,(becanda broo..!)-“bisnis is bisnis”,ada duit abang sayang gak ada duit nyawa melayang..hehehheh
    karena emang di indo hal seperti ini bukan rahasia lagi ,boleh dibilang udah jadi seni budaya yaaa.harap di maklum ken..

    atu lagi sekedar info:
    klo beli apa-apa apalagi obat jgn beli dilingkungan RS tsb..kenapa…sistemnya maen getok harga,mengambil kesempatan didalam kesulitan/kesusahan orang lain

    1. Kalau urusan getok harga sih di RS2 lain sama saja … buktinya obat yang sama di RS Swasta getoknya lebih berat daripada di RSUP Fatma … biasanya resep yg paten nggak kutebus di apotek RS, tapi di apotek Kawi Jaya di psr Majestik, jauh lebih murah. Tapi sejak pasar tsb di renovasi, apotiknya pindah … wah kehilangan deh aku … pindah kemana ya …

  13. tampilan salah satu bagian pendaftaran ( COWO ) Griya Husada RS fatmawati, pada hari sabtu, kok kya mau k mall/hang out????katanya PNS

  14. aslm …
    semua rumah sakit itu intinya cari duit…..
    banyak puisi yang menyindir rumah sakit….
    dan menurut gue periksa yang penting jangan lihat fisiknya rumah sakit ..
    tapi si dokter yang menanganinya….
    jangan cepat2 ambil langkah periksa di rumah sakit yang bertaraf international..
    karena itu cuma namanya yang cakep … tapi dalemnya belum tentu cakep..
    bisa searshing aja di mbah google mengenai pelayanan buruk di rumah sakit international baik di kota jogja, bandung, jakarta, disitu banyak sekali info keburukan pelayanan rumah sakit international….
    moga manfaat ya…

  15. Tidak tahu ya… Di RS internasional Yogyakarta pun bobrok kok dalemnya…. Gedungnya aja kayak plaza tapi sarana presarananya buruk… Manajemen jelek… Merekamembayar karyawan aja tidak manusiawi padahal biaya perawatan mahal… Entah uangnya pada kemana….
    Saya pernah lumayan lama kerja disana. Masuk sebagai wiyata bakti… Waktu pengangkatan kontrak tidak jelas kualifikasinya… Pengumumannya hanya lewat sms bukan selebaran resmi…. Sebagai wiyata bakti gaji saya hanya 400 ribu…. Karyawan sana (perawat) tidak sampai 1,5 juta udah total semua… Tidak ada jasa medis…. Gaji 2 juta itu untuk perawat yg udah 5 tahun kerja atau lebih…. BOBROK banget… Jadi untuk Anda yang punya keponakan, tetangga atau saudara yang pewrawat… RS itu TIDAK DIREKOMENDASIKAN sbg tempat bekerja….. SEBARKAN berita ini…. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s