Blendrong

Ketika minggu lalu menghadiri resepsi teman, saya melihat seorang kamerawan diikuti oleh seorang penggulung kabel. Kehadiran seorang penggulung kabel di situ sangat penting, supaya tamu tidak tersandung. Yang punya gawe bisa mendamprat bahkan mengusir sang kamerawan kalo tamu pentingnya sampai terjatuh gara-gara kabel.

Saya jadi ingat profesi “bléndrong”. Jaman kecil saya, anak yang lebih besar selalu mengakali anak yang lebih kecil untuk jadi bléndrong. Para ibu yang tidak tau pasti menganggap sang kakak baik hati karena mengajak sang adik main layang-layang. Padahal adiknya dipaksa jadi bléndrong, petugas penggulung benang.

Tugas bléndrong sangat penting, terutama saat terjadi “ulur” alias adu layang-layang. Si bléndrong sering jadi kambing hitam jika layang-layang putus karena uluran benang yang tidak lancar dari kaleng. Belum kalo benang jadi “bundet” dan “dobol“. Si bléndrong pasti kena marah besar. Adrenalin yang mengalir deras saat adu layangan bisa berujung pemukulan pada adik yang jadi bléndrong. Ujung-ujungnya sang kakak ketauan belangnya dan ganti dijewer ibu.

Bermain layang-layang di kota besar kini banyak tantangan. Rapatnya jarak antar rumah, tidak adanya tanah lapang, BTS dan kabel listrik ada dimana-mana. Mungkin akhirnya yang bisa main layang-layang adalah orang berduit, yang membeli layang-layang besar nan indah, masuk klub, lalu menyewa pantai untuk lomba layang-layang.

5 tanggapan untuk “Blendrong”

  1. kalo beberapa hari lalu, aku liat orang maen layangan di atas gedung mas. jadinya gak terganggu kabel yang “pating sladang” gak karuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s