Tarif seluler murah, berkah atau musibah?

Sudah sekitar seminggu terakhir ini telepon genggam saya susah ditelepon atau untuk menelepon. Apalagi kalau malam hari. Meskipun indikator sinyal penuh tetap saja tidak bisa digunakan untuk menelepon. Sesekali bunyi “tulalit-tulalit”, kadang-kadang ‘mbaknya’ bilang “Jurusan yang Anda tuju sedang sibuk, cobalah sesaat lagi, all channels are engaged, please try again”, seringkali diputus sesaat setelah menekan tombol “Call”. Saya keheranan. Di dalam atau di luar rumah sama saja.

Kemarin baru saja saya diberitahu tentang Program Mentari Sakti oleh teman. Dia melihatnya di baliho tepi jalan. Setelah saya cari di Internet, rupanya itu memang program promosi Mentari Indosat. Aneh, saya mendapati informasi itu justru dari situs2 blog dan berita. Di situs resmi Indosat malah belum ada (waktu tanggal 16 April 2008), padahal programnya dimulai tanggal 10 April. Saya juga belum pernah melihat iklannya di tv, tidak seperti Simpati, XL, bahkan ‘adiknya’ IM3.

Saya lalu berpikir bahwa itu mungkin sebabnya saya susah menelepon. Slot kanal yang ada sibuk terpakai semua karena ada beberapa atau banyak orang yang menelepon berlama-lama. Saya pernah melihatnya. Seorang perempuan ABG berpacaran lewat telepon. Bermanja-manja, berpura-pura ngambek, berbicara sedikit lalu diam 2 menit, berbicara lagi sedikit dan begitu seterusnya, selama berpuluh-puluh menit dengan telepon yang selalu tersambung. Setelah puas dia lalu menelepon temannya, menceritakan kejadian berpuluh-puluh menit itu dengan detil sambil tertawa-tawa. Mungkin itulah sifat asli bangsa Indonesia, egois. Ketika kita merasa bahwa HP dan pulsa itu kita beli pakai uang kita sendiri, kita tidak peduli dengan orang yang terganggu dengan percakapan kita, apalagi dengan barang tak nampak seperti slot kanal BTS. Bayangkan jika ada keadaan darurat sehingga seseorang harus menelepon. Atau perlu dibuat saluran khusus untuk keadaan darurat? Nasibnya pasti tidak lebih baik dari bahu jalan tol yang seharusnya hanya dipakai untuk keadaan darurat, tetapi banyak yang berdalih tidak terlambat ke kantor adalah keadaan darurat. Seperti juga di jalan umum,” saya sudah bayar pajak, kendaraan saya yang kredit sendiri, nyawa punya saya sendiri, saya berhak serampangan dong…”. Sungguh, kata bebas bertanggung jawab bukanlah kata yang dimengerti bangsa ini.

Kembali ke soal telepon, setahu saya kanal tiap menara BTS itu terbatas. Meskipun sinyal penuh, belum tentu tiap setiap HP dapat menelepon/ditelepon. Jadi meskipun biaya menelepon murah, jangan sembarang menelepon dan berlama-lama. Beri kesempatan yang lain. Takutnya pemerintah akan membuat aturan baru untuk menaikkan lagi biaya menelepon. Seperti menaikkan harga listrik dan BBM agar orang hemat dan tidak sembarangan memakainya. Huh…negeri yang aneh, mahal susah, murah susah. Konsumennya cerewet seperti saya lagi, mahal teriak, murah teriak…

4 tanggapan untuk “Tarif seluler murah, berkah atau musibah?”

  1. huahahahhaha…..

    aku juga sering susah tuh mas nghubungin temen2 kalo pas malem gituh. Jaringannya sibuk mulu. Sampe perna ada berita di detik kan (sori lupa tanggal berapa, jadinya ga bisa ngasi link) kalo ada nyawa ga tertolong gara2 pas mo telfon ambulan jaringan telfon sibuk mulu.

    siapa yang salah ya kalo uda gitu??

  2. Wah, udah ada kejadian ya?
    Aku sih sering mikir, HP satu-satunya alat komunikasi di rumah kontrakan dan di jalan, tapi susah buat komunikasi, kalo ada hal darurat gimana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s