Tondano

Perjalananku ke Manado kali ini tak semulus sebelumnya. Hujan lebat dan mendung tebal di atas kota Manado membuat pesawat Batavia Air yang aku tumpangi tak berani mendarat. Setelah berputar-putar selama kurang lebih 15 menit, pilot lalu mengalihkan pendaratan ke Balikpapan. Pesawat yang terguncang-guncang membuat seluruh penumpang merasa cemas. Untunglah pendaratan mulus meskipun Balikpapan juga sedang diliputi mendung tebal dan gerimis. Sekitar 30 menit kemudian pesawat diputuskan untuk terbang lagi menuju Manado. Tepuk tangan dan pujian kepada Tuhan mengiringi roda pesawat yang menyentuh landas pacu basah Bandara Sam Ratulangi. Pesawat yang seharusnya mendarat pukul 13.30 itu mendarat dengan selamat pukul 18.00. Namun hal itu ada hikmahnya, temanku yang pernah naik pesawat 9 jam untuk haji mengatakan bahwa dia berdoa lebih banyak saat ke Manado itu daripada saat menuju Mekah.

Keesokan paginya cuaca tak kunjung membaik. Ombak besar membuat pemilik perahu yang hendak kami sewa menuju Bunaken tak berani melaut. Terpaksa kami merubah tujuan ke Tondano yang bisa dicapai tanpa berperahu. Keterpaksaan yang menguntungkanku. Aku sudah pernah ke Bunaken tapi belum pernah ke Tondano. Maka setelah menghabiskan sepiring tinutuan dan pisang goreng, kami menuju Tondano.
Jalan meliuk-liuk mendaki bukit. Di beberapa tempat kami seharusnya bisa melihat keindahan Kota Manado dari atas, namun kabut tebal menutupi pandangan. Kabut begitu tebal seolah permukaan laut.
Tidak sampai satu jam kami sampai di Lota. Sebuah gapura bernuansa Minang dengan kaligrafi arab nampak kontras dengan bangunan sekitar yang didominasi nuansa Kristen. Sekitar 500 meter masuk gapura itu terdapat kompleks Makam Tuanku Imam Bonjol. Nampak sebuah bangunan bernuansa Minang yang terhubung ke tempat parkir dengan dua jalan berundak. Satu bangunan Minang lain ada tepat di tepi kompleks dan sebuah masjid kecil di seberang kompleks. Di bangunan utama itulah terdapat makam Imam Bonjol, sedang bangunan di tepi kompleks merupakan rumah dari keturunannya.
Kami lalu menuju ke belakang bangunan. Menuruni puluhan anak tangga menuju ke sebuah sungai. Di tepi sungai terdapat sebuah gubug yang menyimpan sebuah batu besar dengan permukaan datar. Konon dulu di atas batu itulah Tuanku Imam Bonjol sering sholat dan bermunajat. Batu itu dulu berada di tengah sungai yang oleh penduduk setempat di tarik ke tepi karena hanyut.
Sayang sekali kompleks makam ini tidak terawat. Daun-daun kering bertebaran bersama kotoran ayam di sekeliling makam. Antara kompleks makam dengan rumah penduduk setempat juga bisa dikatakan tidak ada batas yang jelas.
Ada pertanyaan besar di kepala saya, Makam Imam Bonjol adalah satu-satunya makam di tempat itu. Lalu apakah beliau hanya sendirian saja? Kalau sendirian tentu tidak akan menghasilkan keturunan, kalau tidak sendiri mana makam yang lain?
Kami lalu menuju ke makam pahlawan lainnya, yaitu Kyai Mojo. Letaknya di Tondano, sekitar 30 menit bermobil dari Lota. Kalau yang satu ini jelas punya banyak pengikut dan keturunan. Keturunannya sering disebut sebagai orang Jaton, Jawa Tondano.
Kampung Jawa, begitu orang menyebutnya. Namun suasana Melayu yang justru aku dapatkan. Model rumah panggung sangat mirip dengan rumah-rumah di dekat situs Kerajaan Sriwijaya di pedalaman Palembang. Begitu pula dengan bendi. Suasananya kampung mirip Bukittinggi Sumatera Barat.
Dan tibalah kami di kompleks makam Kyai Mojo, pengikut dan keturunannya. Letaknya di atas bukit. Ini tipikal makam darah biru Jawa yang bermula dari kepercayaan leluhur untuk menempatkan arwah orang terhormat di tempat yang tinggi.
Lalu kami pulang ke Manado, sambil menyempatkan diri untuk melihat Danau Tondano. Sawah yang luas berada di lembah di sebelah danau. Mungkin ini lumbung padi Sulawesi Utara. Bendera dari kain dan plastik yang digunakan petani untuk mengusir burung nampak indah tertiup angin. Seekor kuda putih juga menyapa di tepi jalan. Setelah itu kami balik ke kota Tomohon untuk menikmati roti bakar dan kopi. Warung kopi di Tomohon sungguh unik. Orang-orang bertopi koboi memarkir bendi di depan warung. Roti pun dibakar secara manual dengan arang.
Meski tanpa melihat Bunaken, kunjungan ke Manado kali ini tidak kalah memuaskan daripada sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s