Otomatis, amankah?

Pagi ini saya melihat sebuah mobil nyungsep di halaman rumah setelah menjebol pagar. Beruntung selain harga diri pemilik mobil dan naiknya tekanan darah pemilik rumah, tidak ada korban jiwa. Tentu ini bukan sebuah kesengajaan apalagi adegan sinetron. Belum pernah saya melihat adegan sinetron atau film Indonesia yang sampai betul-betul merusak mobil baru. Dari yang saya dengar, mobil otomatis tersebut tidak terkendalikan saat menuruni jalan menjelang pertigaan itu. Tampaknya akhir-akhir ini banyak mobil otomatis mengalami kecelakaan. Kecelakaan di sini bukan kecelakaan lalu-lintas biasa akibat kecerobohan, melainkan kecelakaan tunggal akibat mobil nyelonong. Konon tiga mobil yang jatuh dari gedung parkir juga golongan otomatis. Saya tidak paham mesin mobil. Yang saya pahami mobil otomatis tidak memiliki ‘engine break’. Dia bergantung semata-mata pada kepakeman rem.

Mari berbicara tentang sepeda motor, alat transportasi yang lebih terjangkau bagi saya sehingga saya bisa ikut bercerita. Secara sepihak saya membagi sepeda motor menjadi 3 golongan. Golongan pertama, sepeda motor manual. Kopling dan gigi manual. Motor touring dan racing biasanya masuk golongan ini. Yang kedua, semi otomatis. Kopling otomatis tapi gigi masih manual. Sebagian besar motor bebek masuk golongan ini. Nah yang ketiga otomatis penuh. Kopling dan gigi otomatis. Emm… sepertinya tidak memakai gigi. Motor skutik yang belakangan populer termasuk golongan ini.

Memakai kopling manual bagi saya adalah siksaan. Apalagi kalo sepanjang jalan macet. Pegal rasanya tangan menarik kopling. Saya sering bertanya, sebenarnya apa manfaat kopling manual selain untuk bergaya dan nostalgia, menepuk dada sambil berkata, “Beginilah cara naik sepeda motor yang original. Cara yang sebenarnya…”. Kalo alasan kesigapan mengatur percepatan, motor-motor berkopling otomatis yang ada saat ini tidak kalah gesit.

Sifat lalu lintas kota (Jakarta) yang penuh kemacetan namun harus bergegas saat menemukan celah menjadi habitat yang cocok untuk para skutik. Produsen yang semula hanya membidik pasar perempuan, mengusung jargon motor yang mudah dan aman, kini mengubah desain karena tuntutan. Motor-motor skutik diubah menjadi pelahap lalu lintas “stop and go”, dimana dengan cepat dia bisa melaju kencang, berhenti lalu melaju lagi. Percepatannya tidak tertandingi oleh motor-motor yang harus berganti gigi.

Seolah-olah hanya konsumsi bensin yang menjadi alasan untuk tidak memilih motor jenis ini. Konsumsi bahan bakar yang rata-rata 1 liter untuk 20 kilometer tentu sangat jauh dengan kebanyakan motor bebek yang mampu mencapai 1 liter untuk 40 kilometer bahkan lebih. Apalagi kalo konsumsi bahan bakar bersubsidi akan dijatah. Namun seperti halnya mobil otomatis, tidak ada yang menghambat kelajuannya kecuali rem. Kecepatan tidak segera menurun meskipun Anda telah melepas tarikan gas. Motor ini bahkan tidak memiliki posisi gigi netral. Artinya setiap kali mesin hidup, dia berpotensi untuk melaju. Itulah mengapa motor otomatis tidak dapat dihidupkan mesinnya tanpa direm.

Saya tidak tahu, apakah produsen telah melakukan riset keselamatan, atau sekedar takut ketinggalan momentum penjualan. Setahu saya, motor jenis itu diseluruh dunia, tidak didesain untuk kecepatan.

2 tanggapan untuk “Otomatis, amankah?”

  1. dari bincang2 dengan beberapa teman, yang paling penting jika naik motor otomatis, usahakan tidak membonceng anak didepan…

    ada dua orang teman, yang satu anaknya iseng menyentak gas (mungkin karena bosan) dan hasilnya menabrak tembok… satu lagi anaknya turun melalui sisi motor yang salah (turun ke kanan) dan menabrak tangan ayahnya yang sedang memegang setang tempat kendali gas, hasilnya menabrak beberapa motor yang sedang parkir…

  2. @weathertop:
    Kamu yang pernah ke Eropa mungkin lebih tau. Setauku, di Eropa sana motor-motor seperti itu kecepatannya rendah. Sama kayak Bajaj yang merupakan modifikasi Scooter.

    Cuma kalo disini, ga kenceng ya ga laku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s