Sarapan

Mengisi bahan bakar merupakan ritual wajib pengendara bermotor. Segala jenis kendaraan bermotor (bermesin?) secara rutin mengunjungi SPBU. Tak heran biarpun harga minyak bumi dunia melangit dan cadangan minyak bumi dalam negeri habis, SPBU tetap saja bermunculan. Bahkan produsen minyak luar negeripun ingin merasakan ‘uang recehan’ rakyat negeri miskin berpenduduk banyak ini.

Ritual itu pula yang saya lakukan pada hari Jumat minggu lalu. Meskipun tangki bensin sudah ‘keroncongan’ sejak malam hari, sengaja saya isi pagi hari bersamaan berangkat ke kantor. Dalih saya sebagai pemalas malam itu, SPBU terdekat berseberangan arah dengan arah menuju kontrakan, dan menyeberang kini bukan lagi pekerjaan sepele.

Antrian sepeda motor mengapit sebuah pompa di kedua sisi. Masing-masing dilayani seorang petugas, laki-laki dan perempuan. Tiba-tiba ketika antrian telah mencapai tiga motor di depan saya, petugas meletakkan ujung selang pada tempatnya lalu pergi begitu saja, dengan meninggalkan kebingungan bagi pengendara terdepan. Awalnya mungkin dikira akan mengambil sesuatu, tapi setelah beberapa saat, para pengendara dibuat ‘clingak-clinguk’ dalam kecemasan. Pasalnya sang petugas pergi tanpa berkata apapun, seolah-olah tidak ada orang. Kemudian petugas perempuan dari sisi yang lain melayani. Dia harus bolak-balik dari sisi ke sisi. Tentu pergerakan antrian tidak selancar tadi.

Ketika tiba pada giliran saya, saya bertanya,”Mbak, petugas yang di sini tadi kok pergi begitu saja?”. Petugas perempuan itu  menjawab,”Sarapan Pak”. Saya bertanya dalam hati, apa sarapannya tidak bisa ditunda nanti? Ini kan lagi jam sibuk. Masak laki-laki gagah perkasa seperti itu meninggalkan seorang perempuan untuk melayani bolak-balik di kedua sisi?

Ah tapi itu mungkin prasangka konsumen kesal saja. Apalagi saya terbiasa tidak sarapan, jadi kurang bisa menghayati pentingnya sarapan.  Mungkin petugas itu berpenyakit maag sehingga harus taat jadwal dalam urusan makan. Mungkin juga sudah berjaga semalaman sehingga harus segera istirahat. Mungkin kalau tidak disempatkan makan akan mati kelaparan karena konsumen tidak terputus 24 jam. Atau mungkin karena saya saja yang aneh, sering menunda makan kalau pekerjaan belum selesai. Bukankah kepentingan sendiri harus diselamatkan lebih dulu? Kalau bukan kita yang mengurus diri kita dan kepentingan kita, lalu siapa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s