Ramadhan itu lelucon

Entah sejak kapan dan bagaimana hal itu berawal. Acara televisi bulan Ramadhan hanya dipenuhi lawak. Baik waktu sahur maupun berbuka. Tak ada lagi ustadz. Yang ada hanya guyonan dan judi SMS.

Padahal saya pernah mendengar sebuah hadits, yang tidak kuasa saya menghukumi sa’nadnya, bahwa hati mengeras saat kita tertawa dan melunak saat meneteskan air mata. Sosok membosankan yang tidak ‘gaul’ dan ‘gila’ seperti saya bahkan punya prinsip, semakin keras Anda tertawa maka semakin keras pula Anda saat harus menangis.

Tentu bukan sekadar ceramah yang saya rindukan, tapi ada sesi tanya jawab. Saya teringat acara pengajian pada sebuah radio di Jogja. Banyak teman non muslim ikut mendengarkan. Dari sekitar 45 menit acara, ustadz hanya berbicara lima menit, sisanya tanya jawab. Pertanyaan yang masuk mulai soal sholat sampai ke pertanyaan semacam,”Ustadz, kalo puasa ciuman batal ga?”. Kadang muncul pertanyaan remeh lain, namun menurut saya hal itu cukup untuk menangkal supaya orang tidak beranggapan bahwa membunuh orang secara massal adalah tindakan suci.

Mungkin dunia pertelevisian memang bukan kawan baik religi. Dunia pertelevisian bahkan menikam dengan memasukkan mistik ke dalam sinetron religi. Rating yang menjadi tolok ukur, disurvei dengan metode misterius. Penggemar teori konspirasi bahkan dapat menuduh bahwa rating merupakan konspirasi kapitalis.

Atau saya saja yang aneh. Berharap terlalu banyak pada televisi. Padahal diluar sana setiap 100 meter ada masjid. Atau lagi-lagi saya telah rapi menyusun setumpuk alasan untuk tidak ke masjid?

7 tanggapan untuk “Ramadhan itu lelucon”

  1. Ramadhan-nya ga lelucon, tapi cara menjalani bulannya yang gitu. Ibarat orang sering bilang, yang puasa bulannya, orang belum tentu😀

  2. Acaranya memang menyebalkan. Saya sependapat dengan Anda. Acara Ramadhan penuh dengan komedi dengan artis yang amburadul. tapi ada 1 perubahan Mas. Di SCTV. memang sinetron, tapi lumayan bagus. Ada pembelajaran yang masih bisa diambil, bukan hanya cerita cinta.

  3. Di bulan ramadhan setan-setan dibelenggu. Sayang sekali kita sendiri yang masih memelihara (baca: memasukkan) setan di rumah kita sendiri.

  4. apa boleh buat, tv juga cari uang dari iklan, dan belum ada yg berhasil gantikan kekuasaan rating itu. tanpa konspirasi pun si pemasang iklan otomatis rebutan pasang iklan di acara2 sensasional, meskipun isinya hiburan dangkal dan garing. konon, acara lawak seperti itu bikin orang sahur nggak ngantuk. maksudnya nggak ngantuk karena jengkel kali yak..

  5. Nggak semua lelucon kok, paling yang lelucon adalah RCTI, TransTV, Trans7. Sementara masih ada SCTV dengan sinetron PPT (sinetron Dedy Mizwar gak pernah jelek, meskipun memang harus komersil), di MetroTV ada Quraish Shihab yang materinya berat abis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s