Kebijakan Busway

Kebijakan mungkin kata yang kurang tepat untuk menterjemahkan ‘policy’. Betapa banyak kebijakan yang tidak bijak di negeri ini.

Lagi-lagi soal Trans Jakarta. Tentu bukan karena saya ingin bernostalgia tentang tuduhan keji itu. Tetapi lebih karena keprihatinan saya selaku pendatang haram warga di ibukota.

Saya merasa kebijakan soal Trans Jakarta membingungkan. Dengan alasan kemacetan, polisi sering mempersilakan pengendara motor dan mobil untuk memasuki jalur busway. Padahal di setiap ujung jalur selalu ada rambu larangan yang pasti dimahfumi polisi. Saya dulu berpikir bahwa kebijakan ini merupakan inisiatif aparat secara perseorangan. Namun ketika kebijakan ini muncul di berbagai tempat oleh oknum aparat yang berbeda, saya rasa hal tersebut sudah menjadi kebijakan umum kepolisian.

Tapi jika merupakan kebijakan umum kenapa tidak konsisten? Anda yang sudah merasa aman melakukan pelanggaran, jangan terkejut jika ditilang di ujung jalan. Kapan kita boleh masuk jalus busway atau jalur mana saja yang boleh, hanya Tuhan dan polisi yang tahu. Atau sengaja dirahasiakan agar jadi jebakan?

Antara Polisi dan aparat Dinas Perhubungan DKI juga sering tidak kompak. Mungkin karena Dishub berkepentingan proyek busway lancar, sedang polisi berkepentingan membuat arus lalu lintas lancar. Saking gemasnya, beberapa waktu lalu aparat Dishub melakukan tilang kepada pelanggar jalur busway. Tentu yang ditilang berontak sambil berujar tadi disilakan polisi.

Kalau saat macet boleh masuk jalur busway, lalu apa gunanya jalur itu? Kenapa tidak dibongkar saja sekalian? Para pengguna Trans Jakarta lama kelamaan akan berhenti naik Trans Jakarta. Buat apa bayar lebih mahal, nunggu bus lama, berdesak-desakan di halte dan di dalam bus, jauh lebih sesak daripada Metromini atau Kopaja, tetapi jalurnya masih kena macet juga? Kebijakan busway pasti akan gembos, digembosi aparat sendiri.

Padahal sistem transportasi umum sangat penting untuk menghindari kemacetan. Jangan sampai kota ini terjebak lingkaran setan kematian transportasi umum. Kemacetan dan ketidaknyamanan angkutan umum membuat orang lebih suka memakai mobil pribadi atau motor. Padahal bertambahnya mobil dan motor menambah kemacetan. Sopir angkot semakin lama ngetem dan ugal-ugalan karena frustasi kekurangan penumpang. Penumpang yang tersisa semakin ketakutan lalu kredit motor. Sopir angkot semakin meradang dan seterusnya. Celakalah orang-orang yang seperti saya saat di Jogja.

Orang-orang yang terambil jalur jalannya berdalih, busway sumber kemacetan baru. Di dunia ini hanya Jakarta dan Bogota yang memakai sistem busway, sehingga sistem ini belum teruji kehandalannya. Lalu apa solusinya? Jangan berbicara dulu tentang monorail yang butuh modal besar untuk membangun prasarananya. Belum lagi merusak pemandangan dan kolongnya jadi hunian. Apalagi subway, yang diatas tanah saja kebanjiran apalagi bawah tanah. Maka seorang pemimpi seperti saya membayangkan, bagaimana jika jalur busway digunakan oleh semua bus. Tidak ada lagi angkot ngetem dan berhenti mendadak. Tidak ada lagi orang terserempet motor saat keluar bus. Konsorsium Trans Jakarta jangan cuma dimiliki pebisnis transportasi kaya, tapi juga oleh koperasi angkutan kota. Tidak perlu merekrut sopir baru. Sopir angkot yang belasan tahun bertarung di jalan raya tentu lebih mudah memakai sistem busway. Kegarangan akan sirna seiring hilangnya kejaran setoran dan rengekan anak istri. Satu jalur busway dilewati oleh beberapa koridor. Jalur Warung Buncit misalnya, dilewati bus Trans Jakarta menuju Kuningan (sekarang disebut Koridor VI), juga dilewati bus Trans Jakarta pengganti Metromini 75 dan pengganti Kopaja 20. Tentu saja masing-masing akan berbelok sesuai trayeknya. Bus Trans Jakarta pengganti Metromini 75 tentu akan berbelok di Mampang masuk jalur busway (yang sekarang belum ada🙂 ) di Tendean. Jalan-jalan yang tidak memungkinkan dibuat jalur tersendiri, maka jalurnya menyatu dengan jalur umum. Tetapi dibuat halte-halte yang sesuai dengan ketinggian bus dan halte tidak selalu di tengah jalan. Sehingga haram bagi orang-orang memberhentikan bus di luar halte dan tidak ada bus di Jakarta kecuali bus Trans Jakarta.

Gimana kalo gitu kira-kira?🙂

7 tanggapan untuk “Kebijakan Busway”

  1. aku sih mau banget mas. rela deh jalan aga jauh dikit ke or dari halte, asal tertib dan aman kan menyenangkan. tus satu lagi, orang nyebrang juga ditertibkan harus pada tempatnya, buat ngurangin kecelakaan n kemacetan.

    kapan ya jakarta bisa kayak gitu??

  2. susah juga ya mbayangin tata ulang transportasi di jakarta yg telanjur matang ini, apalagi kalau pola pikir pengambil kebijakannya jakartasentris. jakarta dan sekitarnya dibangun terus, tidak proporsional dengan pengembangan wilayah lain di indonesia yg sebegitu luasnya. kalau jumlah pemakai jalan bertambah terus, kapan jakarta bisa tidak macet?😦

  3. Susah mas, saya pakai motor, sekarang kalo lewat MT. Haryono, Gatot Subroto udah ndak lewat jalur kiri lagi.
    Jalur kiri isinya mobil sama bis😦

  4. tulisan diatas bahan kampanye PilGub kemarin ya Bud? Membenahi transportasi jakarta memang susah (begitulah kota yang terlalu banyak penduduk), solusinya mungkin bukan memindah jalur bus umum ke dalam jalur busway, tetapi yang perlu dipindah adalah ibukotanya he he (ibukota kok di daerah banjir, salah manusianya bukan?)

  5. Saya pernah dengar kemarin ada kecelakaan Busway VS sepeda motor? lho kok bisa?
    ya bisa, pengendara sepedamotor masuk di jalur busway?
    trus salah sapa?
    ada yang menyalahkan sepeda motornya karena masuk jalur busway.. ada juga pendapat yg menyalahkan salah buswaynya karena sopir seenaknya mengemudi (sudah punya jalur sendiri..)

  6. @Mpok : Dari dulu saya berpikir, sebenarnya apa yang membuat perusahaan besar selalu punya mabes di Jakarta. Dengan segala gebyarnya Jakarta akan selalu menarik orang untuk datang.

    @Sigid : Justru itu. Ide saya mengumpulkan angkutan umum dalam satu jalur, sehingga tidak mengganggu yang lain.

    @Rudy : Saya nggak kampanye, punya hak pilih aja kagak. Kalo ibukota dipindah kasihan para PNS yang sudah nyicil rumah🙂

  7. Sebelum bicara solusi, ada baiknya ditemukan musuh atau faktor utama kemacetan. Kalau sekarang banyak orang bilang mobil pribadi. Karena pemiliknya orang kaya yang gak mau hidup susah (apalagi susah di jalan), maka solusinya adalah angkutan umum yang nyaman (ber-AC, gitu) dan cepat (jalur eksklusif). Tapi saya bilang, faktor utamanya justru sepeda motor. Jakarta adalah ibukota negara berkembang. Artinya, sebanyak-banyaknya orang kaya di sini, masih lebih banyak orang yang pengen kaya, belum kaya dan kayanya kaya (baca: rata-rata miskin semua). Motor harganya rata-rata cuma Rp. 10 juta. Bisa dicicil lagi. Bentuknya kecil bikin gesit, mesinnya mungil bikin irit. Jadi semua yang dibutuhin oleh mayoritas orang Jakarta ada di motor. Satu kantor ada 60 karyawan, paling yang bermobil cuma 10%-nya. Sisanya pakai motor, dan masih ada yang terpaksa naik angkot karena belum waktunya kredit motor. Saat motor sudah menguasai semua jalan (termasuk jalan eksklusifnya Transjakarta), tidak ada pilihan lain buat orang kaya (yang pasti lebih pintar membaca situasi) selain membeli motor (tentu yang harganya lebih mahal biar gak sama ama bawahannya) dan gantung setir. Kalau begini kejadiannya nanti, solusi apakah yang layak untuk didiskusikan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s