Menghirup atau berlumur racun?

Berurusan dengan nyamuk di daerah bekas rawa tidaklah mudah. Air tergenang dimana-mana mematuhi hukum alam. Hingga nyamuk tak usah saling bunuh berebut lahan perumahan.

Di kota bekas rawa ini sesungguhnya manusialah yang menjajah. Manusia membentuk koloni-koloni mendesak para inlander. Tak heran nyamuk-nyamuk ekstrimis tak henti-hentinya bergerilya menusukkan ‘moncong runcing’-nya. Dan saya yakin mereka itu terpaksa, karena demi sesedot darah mereka rela bertaruh nyawa. Persis seperti TKI yang siap dipukul, disetrika, dan dilempar dari apartemen majikannya.

Gerakan 3 M tidak semudah yang diiklankan. Apalagi untuk pemalas rajin berdalih seperti saya. Kemacetan yang menguras waktu dan tenaga tiap hari, membuat akhir minggu selalu penuh agenda. Dan saya curiga siklus dari telur sampai bisa terbang kurang dari tujuh hari. Jadi terpaksa kita lebih berperikemanusiaan, menghadapi mereka tatkala mereka sudah dewasa.

Pemalas frustasi lalu lari ke obat. Bermacam-macam jenisnya tetapi bisa dikategorikan jadi dua, dimasukkan tubuh atau dilumurkan di luar. Yang dilumurkan di luar adalah berbagai macam lotion yang ngetrend belakangan. Praktis dan mudah. Anda tinggal melumuri diri Anda dengan racun ke sekujur tubuh. Meskipun baunya disamarkan menjadi wangi, racun ini masih efektif melindungi kulit Anda. Sebagian daripadanya juga masuk ke tubuh Anda melalui pori-pori.

Memangnya ada obat nyamuk yang dimasukkan ke dalam tubuh? Tentu saja ada, dan tentunya selain yang masuk lewat pori-pori. Jenisnya banyak dan telah ada lebih dulu. Ada yang dibakar, pakai api atau pemanas listrik. Ada yang disemprot. Asap yang kelihatan maupun tidak, juga partikel-partikel racun memenuhi ruangan Anda untuk Anda hirup, dengan harapan para nyamuk tidak kuat menahan napas. Jangan dikira racun-racun itu tidak efektif. Buktinya ada merk obat nyamuk yang sampai sekarang jadi minuman favorit orang putus asa. Dan jangan pikir diri Anda bodoh. Anda sama hebatnya dengan para pilot kamikaze.

Ada obat istimewa bernama abate. Dia bisa menjadi keduanya. Jika Anda masukkan ke tampungan air minum, maka dia calon racun internal. Kalau Anda tebarkan pada bak mandi, dia jadi racun eksternal.

Tentu ada cara lain selain obat, tetapi lebih repot. Yakni mengeksekusi nyamuk dengan raket listrik. Eksekusilah mereka dihadapan rekan sejawat dan sanak saudara mereka. Lalu tulisi raket Anda dengan kalimat, “Barang siapa melawan manusia, maka beginilah kesudahannya.” Mungkin mereka akan jera.

Atau Anda suka berjudi dengan nasib dan adu ketangkasan? Kalau begitu gunakan cara-cara lama. Tepuk pakai tangan atau sapu lidi. Sensasi penasaran apakah nyamuk yang tewas atau tubuh yang tertampar ada di setiap layangan tangan.

Pemalas seperti saya akan membiarkan diri jadi dermawan dengan resiko tertular penyakit. Malaria dan demam berdarah sudah terbukti menular lewat nyamuk. Lalu bagaimana dengan penyakit yang menular lewat darah dan keringat seperti AIDS dan Hepatitis? Sudah ada yang meneliti atau belum ya?

Maka saya tutup tulisan tanpa solusi dan konklusi ini dengan sebuah guyon garing tetangga pemilik warung. Kalau ada yang bertanya, “Pak, ada obat nyamuk?”. Dia akan balik bertanya, “Memang nyamuknya sakit apa?”

3 tanggapan untuk “Menghirup atau berlumur racun?”

  1. kalo obatnya disemprotin gak mempan, diminumin aja 3 kali sehari ke nyamuknya….sepertinya lebih manjur. *tambah garink*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s