Mas, motornya masuk Otomotif…

Melanggar jalur busway TransJakarta

Kemarin pagi saat saya mengisi bensin, tiba-tiba ada seorang laki-laki pengendara sepeda motor, berhenti di samping lalu berkata,“Mas, motornya masuk Otomotif lho…kejepret saat masuk jalur busway..” Sejuta topan badai!!!, kata saya dalam hati. Tapi dengan sabar saya tersenyum dan berkata,”Oya? Terima kasih, nanti saya lihat…”

Ucapan tadi jelas menggangguku. Jalur busway yang saya kenal cuma sepenggal di depan gang dan saya tak pernah lama beriringan dengannya. Di sebagian besar kasus, adanya jalur khusus untuk TransJakarta membuat kemacetan semakin parah. Meskipun begitu, saya termasuk penghujat para pengendara mobil dan motor yang masuk jalur TransJakarta, dan juga para petugas yang membiarkan, bahkan menganjurkan masuk jalur dengan alasan kemacetan. Bagi saya toleransi terhadap pelanggaran adalah ketidakadilan terhadap kebenaran. Mosok orang melanggar dapat hadiah berupa kelancaran, sedangkan para orang taat diganjar kemacetan?

Tapi jika orang itu tadi begitu yakin dan mantap menuduh saya melakukan pelanggaran, berarti gambar di tabloid itu cukup mencolok dan gampang diingat. Demikian pula dengan motor saya, berarti motor saya terlalu mudah diingat. Wah… fungsinya sebagai alat tugas kedetektifan bisa berakhir. Saya jadi James Bond, agen rahasia tapi di mana-mana memperkenalkan nama.

Saya serasa telanjang di jalanan. Seolah-olah setiap orang mengenali saya dan motor saya. Seolah-olah setiap orang pakai HP memiliki 3gp bugil saya. Tapi kan saya orang taat. Saya tidak mungkin melakukannya. Atau jangan-jangan saat saya jalan-jalan sabtu minggu… Sungguh saya ingin segera sampai kantor untuk membeli tabloid itu.

Dan ketika tabloid ada di tangan, tak sabar saya membuka halaman demi halamannya. Dan…. nah ini dia….sebuah kolom kecil di halaman 6 Tabloid Otomotif tanggal 20 Agustus 2007.

Lega bercampur dongkol… Lega karena itu bukan motor saya. Dongkol karena motornya memang berpelat AB. Apalagi baca komentar di bawahnya, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Motor boleh berpelat AB(Yogyakarta), tapi seharusnya menghormati aturan lalu lintas di DKI Jakarta. …”

Well, bagi mas yang punya motor berpelat AB 5124 NH, terima kasih Anda telah merusak nama orang-orang Ras Yogyakarta. Buktinya, satu-satunya kesamaan motor saya dengan sampeyan cuma berpelat AB. Jenis motor berbeda. Nomor seri pelat, not even close.

Buat mas yang memberi tahu saya di pom bensin, nice shot but you missed. Latihan lagi yang banyak ya mas…

Buat penjual tabloid depan kantor, this is your lucky day… :)

Buat Dinas Pendapatan Daerah DKI Jakarta, saya mohon maaf. Saya lewat jalan Jakarta, tapi pajak ke Yogyakarta. Soalnya ganti STNK kan butuh KTP, lha bikin KTP di Jakarta susah dan tidak murah. Tapi nanti kalau tempat tinggal saya sudah settle, saya akan urus KTP kok. Nah baru habis itu, Anda boleh memiliki sebagian uang saya.

6 tanggapan untuk “Mas, motornya masuk Otomotif…”

  1. Kali ini sampean yang kliru. Apa susahnya beli motor di Jakarta daripada ribet nenteng motor plat AB ?

    ————-
    repot di dompet bos… :p

  2. ho oh ho oh…
    memang gak betul itu sedulur dari AB tuh.
    aku ya jengkel setengah mati kalo liat orang masup2 jalur busway. dan tuhan pun sayang pada saya sehingga saya tidak dijadikan sopir busway,, kalo iya, saya tabrak orang itu semuanya nya nya.

    “Mosok orang melanggar dapat hadiah berupa kelancaran, sedangkan para orang taat diganjar kemacetan?”
    Amiiin, 1000% setuju!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s