Menenggak Setengah Jawa II

     

Siang berikutnya kita balik ke Jakarta. Tapi kita bersepakat untuk mampir di dua tempat, Borobudur dan Dieng. Meskipun sempat tersesat, Borobudur masih seperti yang saya kunjungi terakhir saat bersama teman-teman kuliah. Ada hal yang membuat saya agak kesal di situ. Belum lagi kita keluar dari mobil, sudah dikerubuti pedagang. Dan para pedagang itu cukup tangguh dalam menawarkan barang. Sudah 18 kali kata “Engga, terima kasih…” terucap, mereka belum menyingkir. Sungguh suatu tes kesabaran untuk tidak meninggikan nada kalimat.

Demikian pula pintu keluar kompleks candi. Anda yang sudah kepanasan dan kelelahan mengitari candi, harus ditambah pusing dengan tanda penunjuk pintu keluar. Serasa seperti jebakan. Petugas melarang Anda melewati jalan masuk, yang jaraknya lebih dekat dari candi. Alih-alih Anda akan ditunjukkan jalan yang memutar, lalu berputar-putar di labirin yang penuh pedagang di kanan kiri. Benar-benar membuat kesal. Sesungguhnya saya mengerti maksud pengelola candi untuk mengakomodasi para pedagang, namun jangan memakai jalan yang berputar-putar seperti itu. Di tambah lagi kalo sudah disediakan tempat jangan ada pedagang yang mengerumuni dan menghambat jalan pengunjung.



Setelah dari Borobudur, tujuan berikutnya adalah Dieng. Dari Magelang kita menuju Temanggung, lalu masuk Dieng melalui Wonosobo. Jalan berliku khas pegunungan, dengan pemandangan yang didominasi kebun tembakau, menghilangkan kantuk lelah perjalanan.
Beberapa kali salah jalan membuat kami masuk Dieng saat surya telah tenggelam. Udara dingin dan lampu mobil yang tidak dapat menembus kabut, mengubah suasana jadi menegangkan. Langsung terbayang sebuah adegan film, tentang seseorang yang naik kereta kuda menembus kabut di tengah hutan, dan di ujung jalan dia menemukan dunia yang lain.



Atas saran penduduk setempat kami memutuskan untuk menginap. Telepon ke teman kantor di Jakarta tapi berkampung di Banjarnegara menguatkan pilihan itu. Apalagi kami belum dapat foto-foto bagus…🙂

Pagi harinya perjalanan ke Jakarta dilanjutkan. Sambil menunggu oli dan solar mobil mencair, kami beraksi di kompleks Candi Arjuna. Sebuah pendopo yang pernah menjadi tempat peristirahatan Presiden Soeharto dan Perdana Menteri Australia Gough Whitlam, nampak menjulang di depan tempat parkir. Dari maket yang ada dalam pendopo dan peta yang terpampang di tempat parkir, terlihat bahwa kompleks candi Dieng mempunyai area yang luas. Namun sayang sekali tampak tidak terurus. Sebuah telaga yang kami kunjungi pun di penuhi sampah plastik. Sayang sekali kami tidak sempat mengunjungi kawah-kawah yang konon sangat indah itu.

Mimpi seakan berakhir, tatkala kami memandang deretan mobil macet di jalan tol. Ke Jakarta aku kan kembali…walaupun apa yang kan terjadi…

4 tanggapan untuk “Menenggak Setengah Jawa II”

  1. baru tahu kalo di borobudur sekarng juga ada penjaja model kerubutan gitu. setelah cuci mata dan menghirup udara segar, kembali lagi ke jakarta yg sumpek. bubar dunia pewayangan!😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s