Menenggak Setengah Jawa I

Perjalanan panjang kali ini diawali dengan menuju kota Bandung. Baraya Travel jadi pilihan karena selain pool dekat kantor juga terutama karena murah. Dengan Rp 35.000,- kita dapat sampai kota Bandung, meskipun kaki harus sedikit terlipat.

Paris van Java begitu julukan orang kepada Bandung. Gedung-gedung tua tampak bertebaran di kota ini. Konon pemerintah kolonial berencana memindahkan ibukota dari Batavia ke kota ini, setelah banjir besar melanda Batavia akibat pembukaan lahan perkebunan di Puncak. Namun rencana itu buyar setelah Perang Dunia I dan II yang mengakibatkan pemindahan kekuasaan.

Sayang, kesibukan sebagai buruh membuat saya tidak mampu menikmati kota ini seutuhnya. Namun apa daya, bukankah status buruh itu yang membuat saya sampai di sini?

Hanya sebuah malam di tebing Lembang, bersama empat orang kawan minum kopi, yang dapat saya nikmati. Ditambah satu malam lagi bertemu kawan lama masa kuliah. Mudah-mudahan akan ada lain kali, saya bisa nikmati gedung-gedung tua sekitar Gedung Bank Indonesia dan Jalan Braga.

Perjalanan berlanjut ke kampung halaman, Yogyakarta tercinta. Saya putuskan untuk naik kereta pagi hari agar bisa menikmati pemandangan indah di sekitar Bandung. Ini memang rute baru buat saya. Saya terlampau sering naik kereta jurusan Jakarta-Cirebon-Purwokerto-Yogya. Gerbong Lodaya jadi saksi indahnya pemandangan dan hangatnya obrolan saya dengan seorang bule backpacker asal Spanyol. Mungkin obrolan akan lebih seru jika saya peminat sepakbola.

Di Yogyakarta saya mendapat tambahan tugas sebagai pemandu. Kebetulan ada rekan sejawat yang rela membawa mobil kantor dari Jakarta. Mulai dari menjemput mandor di bandara, antar ke kantor setempat, antar beli oleh-oleh dan makanan, sampai antar pulang ke bandara lagi. Setiap mobil keluar hotel harus bersama saya. Untunglah saya tidak bisa nyopir, jadi cuma duduk manis sambil ngoceh tiga kata “kanan…kiri..lurus…”

Para mandor selalu punya kesibukan. Umumnya mereka hanya menginap semalam, lalu kembali Jakarta. Nah, setelah para mandor pulang inilah kesempatan saya mengajak teman-teman menikmati Yogya. Minum teh poci di tempat Lik Min, masuk di antara dua beringin (masangin), dan duduk-duduk di kilometer nol. Tentu tak lupa menyambangi Beringharjo dan Pathuk untuk memuaskan para pengirim SMS yang pesan oleh-oleh. (bersambung)

2 tanggapan untuk “Menenggak Setengah Jawa I”

  1. Sayang foto empat kawan yang nemeni minum kopi di the Valley itu ga ditongolin. Loh..disebutin ga siy kalo ngupinya di the Valley?? hehehe…

    ———-
    Dah tuh fotonya aku pasang…
    Puas? Puas? :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s