Sepotong senja di tepi Musi..

Sore telah menghampiri Palembang ketika kuselesaikan tugasku hari itu. Kulongok jendela kamar. Nampak mentari tengah tersenyum dengan bibirnya yang merah merekah, seolah berkata,”Hari ini telah aku selesaikan tugasku dengan baik, mudah-mudahan esok juga begitu. Sampai jumpa esok hari…”


Segera setelah malam merengkuh, kuarahkan langkah ke sebuah jembatan yang menjadi ikon kota ini. Jembatan berwarna merah yang sempat kulihat dari balik jendela lantai tujuh tempat acara berlangsung siang tadi. Tidak tampak istimewa. Tidak jauh berbeda dengan julangan pabrik Pupuk Sriwijaya yang nampak renta di belahan lain kota itu. Namun konon jembatan itu punya banyak arti. Jembatan yang pernah bisa naik-turun di bagian tengahnya itu konon merupakan bukti kemampuan engineering putra-putri Indonesia. Sejajar dengan kemampuan negara-negara bekas penjajah. Yah… Bung Karno memang sedang getol mendongkrak kepercayaan diri bangsa kita saat itu.

Jembatan itu pun jadi saksi pergolakan politik tanah air. Jembatan yang pernah bernama Jembatan Bung Karno berganti menjadi Jembatan Ampera karena suasana politik yang berganti. Pernah berwarna kuning lalu berwarna merah sesuai dengan partai yang berkuasa.(kompas)


Dari penduduk setempat aku mendapatkan keterangan, jembatan itu indah dinikmati dari depan Benteng Kuto Besak. Benteng era Kasultanan Palembang yang berdiri kokoh mengawasi Musi. Dan memang benar.. Jembatan Ampera nampak indah dihiasi lampu. Sayang sekali lampu hias di badan jembatan yang konon didatangkan dari Cina senilai 2 milyar rupiah malam itu tidak menyala. Hanya ada lampu di tali jembatan. Namun itu hanya sedikit berpengaruh pada romantisme yang terasa. Nampak sebuah perahu bertuliskan ‘Puskesmas Keliling’ bersandar di dermaga. Terbayang eksotisme para dokter yang bertugas di sana, berperahu menyusuri Musi mengunjungi desa-desa terpencil untuk menyelamatkan nyawa.

Tampak pula sebuah warung kopi apung yang tak jauh bersandar dari situ. Warung kopi biasa, tempat berkumpul dan bercanda, hanya saja berada di atas perahu. Lalu pandangan mata terantuk pada sebuah restoran terapung di seberang sungai.

Geliat kehidupan malam di atas Musi baru saja dimulai.
Dan di sini aku berdiri…menikmati sepotong senja di tepi Musi…

6 tanggapan untuk “Sepotong senja di tepi Musi..”

  1. tengkyu sudah dikasih liat fotonya.. bagus bung bootdir! jadi penasaran, apa rasanya ngupi di warung terapung kayak gitu? kalo di ciliwung, jelas nggak mungkin la yauuw..πŸ˜€

  2. Ehmm wah wah…postingan ala Seno Gumira nih…
    duh keduluan, padahal aku baru saja mau buat postingan Capucinno dengan Rembulan terapung diatasnnya…

    Nice pictures bud…
    angle ok, komposisi nya lumayan, cuma perlu ada cuplikan wajah2 aja he he

  3. fotonya baguuuuuuuuuuuuuuuussssssssss………

    duh kapan ya bisa nengok palembang??

    next week ke bandung kan mas?? bareng dooonnggg….

  4. sampeyan iku kerjo neng perusahaan opo to bos? penak yo iso muter-muter endonesa, pengen aku rek..
    komentare wong-wong kok gak tau dibalesi to..

  5. Salam kenal bung didut!

    Lha biasanya yang komentar itu teman2 saya je…jadi respon biasanya disampaikan langsung ato lewat YM dan di blog mereka masing2…πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s