Uang Transport

Suatu siang saya dan seorang saudara seburuh saya diperintah oleh Mandor IV untuk membetulkan laptop Mandor II yang meradang karena virus. Entah bagaimana banyak orang maklum buruh-buruh Mandor IV kami dikenal tidak buta TI. Bagi Mandor III dan IV kami, perintah dari Mandor II ini bukan sembarang perintah, karena didalamnya mengandung amanat kepercayaan. Laptop yang mungkin sekali berisi data sangat rahasia itu dipercayakan pada mandor kami, bukan mandor-mandor III atau IV yang lain.

Ternyata tidak banyak yang bisa kami lakukan. Laptop itu terlalu canggih dan virusnya terlalu tangguh. Berbagai cara yang kami lakukan untuk masuk Windows selalu gagal. Virus malah mengaktifkan sistem password dengan sidik jari yang merupakan fitur istimewa laptop itu. Belasan jari telah kami goreskan pada sensornya, siapa tahu ada celah yang bisa dimasuki, tetapi nihil. Segel garansi yang terbalut di sana-sini, yang tidak direlakan pemiliknya untuk dilepas, mempersempit gerak kami. Akhirnya kami melaporkan bahwa ini harus dibawa ke pusat layanan resmi plus kemungkinan hilangnya data-data, dan Mandor II pun dengan gaya khas para mandor menjawab “Silakan, saya tahunya beres”.

Tidak banyak yang bisa diceritakan di tempat servis. Mereka melakukan apa yang sebenarnya bisa kami lakukan, yaitu menginstal ulang sistem operasi. Cuma bedanya mereka punya segala peralatan. Mulai obeng kecil, kabel data khusus harddisk laptop, image sistem operasi beserta seluruh driver untuk segala seri, sampai stiker segel yang sangat sakti itu. Tidak sampai satu jam selesai.

Berangkat dan pulang kami naik taksi. Kapan lagi buruh bisa gaya, toh tadi diberi uang transport untuk itu. Ongkos naik taksi waktu pulang Rp 37.000,00. Teman saya memberi Rp 50.000,00 dan membiarkan sopir menyimpan kembalian. Mungkin karena tidak menyangka akan mendapat tips dari buruh-buruh seperti kami, sopir itu menunjukkan rasa terima kasih dan hormat yang mendalam. Sambil masuk gedung, teman saya tersenyum dan berkata “Dudu dhuwite dadine loma” (Bukan uang sendiri jadinya dermawan).

Tapi loh… Bukannya kita semua begitu? Bukankah apa yang kita sebut uang kita, milik kita, hasil kerja keras kita, itu adalah ‘uang transport’ yang diberikan Allah agar kita sampai pada tujuan, sesuai dengan tugas kehidupan kita? Lalu kenapa kita tidak setiap saat jadi dermawan? Toh itu bukan duit kita…

4 tanggapan untuk “Uang Transport”

  1. Mangsalahnya, sebagian besar orang merasa (jelas hanya perasaan orang tersebut) bahwa dalam perjalanan hidup, untuk sampe tujuan bakal butuh ongkos taksi Rp.500.000,00- sementara duit yang ada di kantong baru Rp.37.000,00-🙂

  2. waaaa…ternyata ada yang gitu yak? kalo saya selagi masi mungkin naek bis ato transjakarta mendin menghindari taxi. biar sisa ongkos transportnya bisa jadi “ongkos transport” saya buat menyambung hidup sebagai anak kost di jakarta. gitu boleh ndak sih pak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s