Yogyakarta, mau kemana?

Sebuah judul berita di koran yang terbaca saat saya naik kereta dari Yogya minggu yang lalu, tak membuat saya tergerak membaca isinya. Mungkin cuma berita iseng atau berita yang heboh dijudulnya tapi isinya tidak ada. Namun ketika beberapa blogger menuliskannya dan juga ada di Antara, saya jadi tertarik untuk membahasnya.

Berita itu tentang Sri Sultan Hamengku Buwono X yang tidak mau lagi dipilih atau ditetapkan jadi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta pada periode jabatan berikutnya. Bagi pemahaman banyak orang, Yogyakarta istimewa karena pemimpin pemerintah daerahnya adalah pemimpin kultural dari Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman. Jadi bagi sebagian orang yang ikut tertempel label ‘istimewa’ karena menjadi orang Yogya, ini masalah besar. Tanpa Sultan yang jadi gubernur, Yogyakarta tak lagi istimewa.

Konon katanya ketika Republik Indonesia diproklamasikan, masih ada 2 kerajaan yang berdaulat, yaitu Kerajaan Aceh dan Kasultanan Yogyakarta. Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII kemudian mengirim surat kepada Soekarno yang menyatakan Yogyakarta bergabung dengan Republik Indonesia. Konon hal ini pula yang dijadikan dasar oleh Hasan Tiro selaku keturunan penguasa Aceh untuk mendirikan Negara Aceh. Menurutnya Kerajaan Aceh tidak pernah menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia seperti yang dilakukan Kasultanan Yogyakarta. Jadi menurutnya pengakuan Indonesia atas daerah Aceh adalah penjajahan.

Keberadaan dua kerajaan inilah yang membuat Pemerintah Indonesia menjadikannya daerah istimewa. Berbeda dengan daerah lainnya, dua daerah ini berhak mengatur pemerintahannya sendiri, bahkan memiliki sistem pemerintahan tersendiri, dimana dua daerah ini tetap memakai sistem kerajaan, sedangkan wilayah lain memakai sistem republik. Dalam perjalanan waktu, akibat dari sistem sentralistik dan penyeragaman sistem pemerintahan di seluruh wilayah Indonesia, ‘keistimewaan’ ini mulai luntur. Di Aceh sama sekali hilang sehingga tinggal menjadi nama provinsi. Di Yogyakarta hanya tertinggal sebuah simbol, gubernur dan wakil gubernur berasal dari Kasultanan dan Pakualaman, sedangkan struktur dibawahnya sama dengan daerah lain di Indonesia.

Kini dengan adanya otonomi, banyak hal yang dikembalikan seperti saat sebelum penyeragaman. Desa-desa di Sumatera Barat kembali disebut nagari. Di Jawa, Kepala Desa kembali disebut Lurah, Sekretaris Desa kembali disebut Carik, dan munculnya kembali jabatan Bayan. Lalu Aceh dan Papua mendapat otonomi khusus.

Maka ketika Sultan menyatakan tidak mau jadi gubernur lagi, banyak pertanyaan dan analisis muncul. Apakah untuk ‘mensurvei’ dukungan rakyat pada dirinya? Karena ketika krisis Gunung Merapi, orang lebih percaya Mbah Maridjan daripada dirinya. Mbah Maridjan pun menyatakan kalau mandat yang dia peroleh adalah dari HB IX bukan raja yang sekarang HB X, yang seolah-olah tidak mengakui raja yang sekarang. Ataukah untuk mendorong segera diselesaikannya Undang-undang Keistimewaan Yogyakarta yang telah lama terkatung-katung? Atau bahkan untuk mencalonkan diri menjadi presiden, karena periode gubernurnya berakhir tahun 2008 sedangkan pemilihan presiden tahun 2009?

Kerajaan Yogyakarta sekarang memang lebih condong pada nostalgia. Dalam pemerintahan praktis hanya gubernur dan wakilnya yang merupakan orang keraton. Struktur kerabat darah birunya juga semakin luntur ditengah masyarakat. Bahkan banyak yang melepas gelar dan panggilan karena risih. Kegiatan budaya keraton lebih sering jadi tontonan pariwisata daripada menjadi milik rakyat. Masa depan keratonpun penuh tanda tanya, dengan adanya potensi konflik saat suksesi raja mendatang, antara yang mempertahankan tradisi untuk mendukung adiknya menjadi raja, dengan yang ingin anak perempuannya menjadi raja (seluruh anak HB X perempuan). Tradisi Mataram tidak mengenal raja perempuan, tetapi dengan perkembangan jaman, pasti ada yang punya ide untuk merombaknya.

5 tanggapan untuk “Yogyakarta, mau kemana?”

  1. Asli aku kaget, masalahnya judul artikel diatas, persis judul artikel yang aku pernah kirim ke salah satu koran di Jogja, wah tak pikir artikelku dimuat…he he

    tulisan yang sangat bagus bud….

    tak investigasinya dulu baru komen lagi

  2. Makasih komentarnya Rud n Sur, kemarin ada berita bahwa jawaban Sultan saat ‘pisowanan ageng’ hari Rabu kemarin secara implisit menyatakan bahwa dia akan menuju ke level nasional, jadi Sultan sudah jelas mau kemana.🙂

    Rud, isi artikelmu sama dengan ini ndak? Kita ‘soulmate’ dong kalo sama. Komentarmu yang satu aku hapus karena sama ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s