Selamat Tinggal Bojong Kenyot

Kemarin satu lagi teman saya pamitan. Dia pamit kepada teman sesama imigran untuk pulang ke kampung halaman. Tentu bukan karena kalah perang di rimba perantauan, melainkan karena sebuah pilihan sadar untuk menentukan masa depan.

Rimba raya bekas rawa ini semakin susah ditinggali, apalagi jika berpikir tentang masa yang menanti. Tegakah kita meracuni anak-anak kita dengan makanan, minuman dan udara berpolusi tinggi? Belum lagi tentang lingkungan yang membentuk diri. Lalu dimanakah tempat kami membangun ‘baiti jannati’?

Di antara kami mungkin akan ada yang cukup beruntung untuk dapat membeli tanah dan rumah, tetapi itu pasti jauh dari kota. Kecuali jika di antara kami ada yang jadi selebriti atau politisi. Ya, jauh, mungkin di desa Bojong Kenyot, yang sudah melelahkan ketika dibayangkan harus berangkat kerja sesudah subuh dan sampai rumah lagi jam sepuluh malam. Uhh capeknya…

Lalu kenapa banyak yang jadi imigran untuk hanya melakukan ritual melelahkan itu? Salah satunya adalah pekerjaan dengan nominal gaji yang besar. Lalu kalau ada pekerjaan dengan nominal gaji besar tapi di kampung, Anda mau pulang? Lha iyalah..sudah jelas itu..kagak usah nunggu jawaban.. Nah temen saya dapat itu, jadi ya jelas pulang. Dengan gaji seperti itu di kampung, dia langsung naik kasta, kaya raya. Belum lagi berangkat dan pulang hanya 15 menit. Pergi ke toko habis maghrib bisa puas sampai toko tutup, tidak tua di jalan. Apa nggak enak? Jadi Anda mau bagaimana? Tetap di rimba ini? Menunggu pekerjaan seperti itu? Mencarinya? Atau membuat sendiri?

Kalau saya…saya sedang mengabdi pada negerišŸ˜›

2 tanggapan untuk “Selamat Tinggal Bojong Kenyot”

  1. kenapa saya jadi imigran?
    1. mengikuti sunah rasul untuk berhijrah (cmiiw)
    2. mencari sesuap nasi, di kampung bukan hanya susah cari kerjaan, tapi bisa dibilang tidak ada kerjaan..
    3. untuk mengembangkan diri, meningkatkan ilmu, mencari pengalamanšŸ™‚
    4. dimanapun didunia, orang2 yang hidupnya maju pesat kebanyakan imigran..karena mereka adalah pejuang yang sadar kalau tidak berjuang mereka akan mati..

    Apa akan tetap di rimba ini?
    1. tentu tidak, kalau bisa pindah ke rimba lainnya yang lebih ramah.

    Kalau ada pekerjaan dengan penghasilan besar dikampung? itulah cita-cita sebagian besar dari kamišŸ™‚

    jalan panjang menuju cita-cita, penuh dengan kegalauan dan pengorbanan.. tapi hidup adalah perjuangan..

    kami kaum pekerja, kaum pejuang..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s