Untuk Indonesia yang lebih optimis…

Musibah yang datang bertubi-tubi yang menimpa bangsa Indonesia seakan sebuah arisan bencana. Betapa tidak, dari ujung ke ujung Indonesia adalah katalog bencana. Di suatu sisi ada yang kelaparan karena kekeringan, di sisi yang lain kebanjiran. Ada yang hutannya terbakar, ada pula yang hutannya longsor. Indonesia memang sedang dalam keadaan bahaya.

Dulu ketika tsunami melanda Aceh, orang berbondong-bondong membantu materi dan tenaga. Kini setiap anak negeri merupakan bagian dari bencana. Lalu apakah itu membuat kita diam saja? Karena semua mendapat bencana lalu kita hanya mengurus diri masing-masing?

Minggu lalu saya mendapat pelatihan kepemimpinan dari Kubik. Di situ Jamil Azzaini bercerita tentang masa kecilnya yang dihadapkan pada suatu pilihan, apakah menjadi kerang rebus atau kerang mutiara. Kerang mutiara dijual ratusan mungkin ribuan kali lebih mahal dari kerang rebus. Tapi untuk jadi kerang mutiara harus tahan menderita, tahan rasa sakit, bahkan mengubah penderitaan menjadi kebaikan. Membungkus pasir yang menyakitkan itu dengan air mata sehingga menjadi mutiara. Atau Anda pasti pernah membaca tentang pot bunga cantik yang berawal dari tanah liat lengket menyebalkan, yang kemudian diputar-putar, ditekan-tekan, bahkan kemudian dibakar di suhu yang sangat tinggi sebelum menjadi pot itu.

Mudah-mudahan begitulah Indonesia kita ini. Gemah ripah telah membuat kita lemah. Derita sengsara akan membuat kita perkasa. Nyawa yang terancam tiap saat membuat kita selalu berbuat yang terbaik, siapa tahu itu perbuatan kita terakhir.

Yah walaupun kisah-kisah di atas tetap menyisakan ruang untuk orang pesimis, yang berkata bahwa kerang mutiara setelah diambil mutiaranya mungkin jadi kerang rebus juga, atau pot bunga cantik lebih mudah pecah dibanding tanah liat, tapi bukankah demikian semua di dunia, tinggal bagaimana sudut pandang kita, melihat gelas setengah isi atau setengah kosong.

Seperti yang Rudy katakan, ‘untuk Indonesia yang lebih optimis…’

4 tanggapan untuk “Untuk Indonesia yang lebih optimis…”

  1. yup…optimis!
    tetap, setiap hari berusaha lebih baik di segala bidang…mudah2an bisa jadi contoh buat orang2 sekitar…

  2. dalam berkali2 kemalangan yg terjadi itu, saya melihat orang jadi semakin mudah tergerak untuk membantu sesama. semoga solidaritas atau sikap gotong royong orang indonesia nggak habis terkikis kemajuan zaman yak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s