Ibukota tak sekejam ibu tiri

Ternyata ibukota tidak sekejam ibu tiri. Di belantara raya ini masih tersisa orang-orang yang mau menolong orang yang tidak dikenal tanpa meminta imbalan.

Adalah hari Rabu kemarin, nampak bagi saya kemalangan menimpa secara bertubi-tubi. Sejak pagi, HP saya error, ada sebuah SMS yang tidak dapat dibaca maupun dihapus. Akibatnya selalu muncul indikator ada pesan baru masuk. Sudah saya ‘kembalikan ke pengaturan pabrik’, masalahnya tetap ada. Ya sudah biarlah, mungkin dia sudah capek. HP saya tersebut, dalam sebuah tinjauan (review) terjemahannya kurang lebih begini, ‘..jika Anda mempunyai nenek atau anak balita yang merengek minta dibelikan HP, maka tipe cocok untuk Anda, tidak mempunyai fitur apapun kecuali menelepon dan SMS’.

Malam harinya, kuda besi kesayangan yang sekarang sering manja karena usia, mendadak kuncinya macet. Tidak mau dikunci stang atau dihidupkan. Ada yang memberi ide untuk merogoh kabel lalu menyambungnya secara manual, persis seperti maling-maling mobil di film. Tapi yang memberi dan menerima ide tersebut tidak punya pengetahuan kabel mana yang harus dicopot. Maka jadilah saya mendorongnya. Toh waktu sudah jam 9 lewat dan tempat itu tidak terlalu jauh dari tempat kos saya. Dengan masih memakai ‘pakaian harian buruh lengkap’ (PHBL🙂 ) saya susuri jalanan ibukota bergandengan mesra dengan motor ngambek.

Eh, lha kok baru beberapa puluh meter, ada orang yang nawarin untuk bantu dorong. Entah karena yakin saya bukan pencuri motor (secara saya pakai PHBL🙂 ), merasa kasihan dan perasaan senasib sesama pengendara motor, atau supaya saya tidak menggangu jalur motor (secara jalanan masih sangat padat), yang jelas dia menawarkan kakinya untuk dijejakkan di pijakan kaki untuk pembonceng pada motor saya. Si motor ngambek pun meluncur tak kuasa menahan dorongan yang ditenagai Honda Mega Pro bapak tadi. Beberapa puluh meter kemudian kami berpisah di depan sebuah bengkel yang bertuliskan ‘Buka 24 Jam’. Saya tak sempat mengenal namanya ataupun mencatat nomor polisinya. Saya hanya berteriak terima kasih sambil mengacungkan ibu jari sebagai kode karena suara saya bersaing dengan belasan kendaraan yang mengepung. Kepada bapak yang menolong saya tadi malam, terima kasih banyak Pak, semoga kebaikan Anda dibalas berlipat…

2 tanggapan untuk “Ibukota tak sekejam ibu tiri”

  1. amiin…! masih banyak, banyak sekali orang baik di jakarta yg tanpa pamrih memberi bantuan meski pada orang tak dikenal. kalo aye pikir2, sikap acuh tak acuh sebetulnya terbentuk sebagai mekanisme pertahanan diri dari ‘kejamnya ibu kota’..

  2. ‘Tis sad…. Good people always seems to have it bad. Perhaps you should consider The Dark Side? Mwahahahaha….

    Halo, Pren! Long time no see! (A bit of Singaporean English there) Masih suka nulis nih? Aku suka ‘pengumuman negara dalam bahaya’-nya. Hilarious!!! Keep up the good work.

    CUWhnICU.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s