Berakhirnya masa kejayaan sepeda motor (saya)

Saya tidak sedang membicarakan penggantian, apalagi pemberhentian atau pemecatan. Kuda besi yang diboyong dari Yogya itu masih setia memberikan pelayanan. Kata ‘berakhir’ disini merujuk pada ‘masa keemasannya’, bukan habis dari aktivitas pelayanan.

Dengan sedikit mengorbankan kenyamanan, sepeda motor adalah alat transportasi yang efektif, meskipun mungkin menyebalkan bagi pengguna jalan yang lain (baca di sini). Namun ada beberapa hal yang menyebabkan berakhirnya masa keemasan sepeda motor. Paling tidak untuk motor saya.

Datangnya musim hujan, yang sebenarnya juga saya harapkan untuk menyejukkan udara, telah mendatangkan kesusahan. Motor saya sering ‘pilek’ kalo kena hujan. Dan kalo dia sudah sulit bernapas, dia akan susah dibujuk untuk jalan. Lebih repot lagi karena ngambeknya suka mendadak. Masih beruntung kalo cuma diteriaki kendaraan lain, lha kalo disosor dari belakang? (Naudzu billah..) Apalagi di rimba raya seperti ini. Herannya belum ada dokter motor yang bisa mengatasi flu tersebut. Belum ada klinik yang bersedia merekonstruksi kejadian mensimulasikan proses kehujanan. Bagaimana ketemu penyakitnya kalo pas diperikasa sedang sehat wal afiat? Kebanyakan cuma berspekulasi dengan maksud onderdilnya saya beli. Maka yang saya lakukan adalah juga berspekulasi. Dari sekian kali percobaan, memberi selimut adalah yang paling besar tingkat keberhasilannya. Jangan heran jika Anda menemukan saya memakai ponco seperti orang-orangan sawah. Bukan sedang bernostalgia atau bergaya dengan tren busana lama, melainkan karena model inilah yang bisa saya gunakan untuk menyelimuti motor. Belahan depan dapat saya kembangkan hingga menutupi dashboard, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh mantel berbentuk jaket dan celana. Cara ini bukan tanpa kerepotan. Selain kegesitan yang berkurang drastis, saya juga harus membuang muatan air yang tertampung di antara dua lengan. Tetapi kegiatan tersebut tidak memberi manfaat apapun untuk mencegah motor tersedak kubangan. Jalur motor yang berada paling kiri merupakan bagian dari jalan yang paling tinggi genangan airnya. Topografi jalan membuatnya demikian.

Peraturan baru di Jakarta bahwa sepeda motor harus menyalakan lampu siang malam juga menambah kesuraman. Peraturan yang telah diberlakukan di Surabaya lebih dari satu tahun lalu ini, sebenarnya bermanfaat. Paling tidak di kaca spion saya dapat melihat lampu-lampu itu secara mencolok. Entah jika nanti mata saya sudah biasa melihat ‘kejadian aneh’ tersebut. Karena sesungguhnya demikian itulah yang dimaksudkan supaya mobil dapat memperhatikan motor-motor yang menyalip dari sebelah kiri.

Namun motor saya menceritakan kisah sengsaranya sendiri. Accu motor yang baru berumur tiga minggu sudah parau ketika membunyikan klakson. Dia tidak lagi mendapat asupan listrik dari dinamo renta yang mengalirkan listriknya siang malam untuk sang lampu. Secara getir dinamo berdalih bahwa dia tak lagi seperkasa yang muda dalam menghasilkan tenaga. Accu pun meradang, dia harus selalu memberikan tenaganya untuk lampu belakang yang hidup karena pedal rem yang terus diinjak di kemacetan. Belum lagi lampu sign yang sesekali juga pengin ditenagai. Semula saya tidak begitu memperdulikan lampu-lampu selain lampu depan, namun rimba raya telah mengajarkan pentingnya mereka semua, terutama jika Anda adalah orang yang memperhatikan keselamatan.

Solusi sementara adalah mencuri kesempatan. Di jalan yang tidak begitu ramai kendaraan lampu kumatikan. Memang hasil belum memuaskan dan berpotensi di tilang di masa datang. Tapi begitulah…

“Oh motorku sayang… sing tak kudang-kudang…”

Satu tanggapan untuk “Berakhirnya masa kejayaan sepeda motor (saya)”

  1. Wah jadi ingat motorku…..motor satu itu saksi sejarah waktu kuliah dulu…kemarin rumah remuk kena gempa, Alhamdulillah motorku slamet….klo punya barang dirawat yang baik bud, klo aku dah rasan-rasan mau ganti barang…biasanya barang yang aku pakai jd tambah rewel (mungkin setan itu suka orang yang konsumtif ya…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s