Wong Jogja dadi Edan

Masih mengenai oleh-oleh dari Jogja, kali ini soal manusianya…

Sebuah pagi yang cerah terasa semakin indah saat bersarapan bubur ditemani malaikat kecil yang cantik jelita, di sebuah pasar dekat rumah. Sebuah ritual yang beberapa bulan lalu sering saya lakukan ketika jadi pengangguran terbuka. (katanya sekarang ‘pengangguran tidak kentara’🙂 )

Suasana pasar kecil Jogja yang khas demikian kental terasa. Selain kami di warung itu berkumpul sejumlah orang yang rupanya adalah para pedagang di pasar itu. Saling bercengkerama dan bersalaman, maklum suasana lebaran. Di antara kesibukanku menikmati santapan, terdengar obrolan yang menarik perhatian. Entah awalnya mereka berbicara apa, seorang perempuan sebut saja Ibu A berkata, “Kemarin di kampungku ada orang yang sedang main digerebek!” Bapak Z bertanya, “Main apa?” “Ya main kartu”, jawab Ibu A. “Polisinya bilang kalau tidak mau ditahan ya bayar sejuta”, lanjutnya. “Wah ya mending bayar saja”, ujar Bapak X. Ibu B menimpali, “Ya kalau uangnya ada, kalo enggak?” Bapak X menjawab, “Lha ya ada, orang habis dapat bantuan, ya kan Bu?” “Iya”, jawab Ibu A. “Woo..lha dapat bantuan bukannya untuk memperbaiki rumah, malah buat main”, kata Bapak Z. (Percakapan dalam Bahasa Jawa yang saya terjemahkan khusus buat Anda🙂 ) Saya bengong keheranan, kok ya ada orang-orang seperti itu. Padahal di TV pernah ada berita tentang orang-orang yang mogok makan supaya bantuan segera dicairkan. Bahkan katanya sampai sekarang pun masih ada yang tinggal di tenda-tenda belum dapat bantuan, eee.. kok ya ada yang judi pake duit bantuan.

Jadi ingat cerita Hesti di blognya. Beberapa hari setelah gempa, ketika saya masih sibuk mencari berita tentang penanganan bencana, saya baca blognya Hesti. (Waktu gempa saya di Jogja, tapi malamnya dah balik ke Jakarta, maklum masih calon pegawai, baru lagi, masih takut bolos. Berita tentang Jogja tiap hari dibaca lewat internet) Bahwa Hesti ‘ditawar’ oleh seseorang lelaki untuk diajak kencan di hotel. Yang menurut pengakuannya, dia tidak sedang di mal, atau malam-malam keluyuran berpakaian seksi di tempat sepi, tetapi semata-mata sore-sore naik sepeda motor hendak ke rumah teman, eee.. lha kok ada yang ‘nawar’ 400 ribu di jalan. (baca selengkapnya di sini) Yang terpikir olehku saat itu, “Memangnya Jogja sudah recover ya?”, “Memangnya goncangan kemarin kurang dahsyat?”, “Memangnya rumah-rumah yang hancur sudah tegak berdiri lagi?”, “Memangnya tanah kuburan para korban sudah kering?”

Kemarin pamanku bercerita bahwa dari rumahnya ke rumahku hampir tabrakan 2 kali gara-gara orang nyelonong lampu merah. Aku sendiri, yang sudah terbiasa melihat tingkah polah para pengendara di Jakarta, masih heran dengan kelakuan orang di jalanan Jogja akhir-akhir ini. Seolah-olah jalan adalah milik sendiri, tidak ada orang lain, bahkan kadang-kadang keselamatan diri juga diabaikan. careless and ignorance…

Adakah mereka semua saat bumi bergoncang demikian hebat? Yang tembok-tembok berjatuhan bagai istana pasir tersapu ombak? Yang 57 detik itu terasa berpuluh-puluh menit? Ataukah goncangan itu sedemikian hebatnya hingga mereka gegar otak dan hilang ingatan?

DASAR WONG EDAN!!

“Maka nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan?” Ar-Rahmaan ayat 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, dan 77.

4 tanggapan untuk “Wong Jogja dadi Edan”

  1. Lha lebih asyik disini, daripada di friendster….

    Keep on blogging man…I know you have the way with the word, just a lil bit practice and evrything will go flow

  2. Lha iki lagi nyoba pindahan. Soale sering bar pindah neng blog ‘beneran’, trus ra duwe ide nulis🙂

  3. sejauh ini secara umum saya selalu punya kesan bagus tentang yogya. nggak tahu ya, mungkin karena ke sana untuk jalan2 saja. btw, cokelat itu kata teman saya adanya di toko circle k bung..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s