Lumpuh di Yogya

Lumpuh, begitulah kira-kira kata yang tepat untuk menggambarkan keadaanku di Yogya. Karena motor dibawa ke Jakarta, mobilitasku di kota tercinta menjadi sangat terbatas. Maka akhirnya kujalanilah sebuah sisi kehidupan yang sudah lama tidak aku sentuh, kehidupan di atas bus kota Yogya.

Transportasi umum di kota tercinta ini memang sangat susah. Ketika ada teman dari kota lain yang berkunjung, lalu menanyakan bagaimana ia bisa pergi ke suatu tempat, maka jawaban yang sering kukatakan adalah naik becak atau taksi, sebuah pilihan transportasi yang mahal. Bukan karena tidak ada bus kota, cuma Anda harus menunggunya berpuluh-puluh menit dan tidak semua tempat atau jalan, bahkan tempat atau jalan yang terkenal, dilewati oleh bus kota. Ini tentu berbeda dengan Jakarta yang bisa dikatakan hampir semua tempat bisa dikunjungi dengan transportasi umum, ataupun Bandung dimana teman saya bercerita dengan bangganya bahwa angkot masuk ke gang-gang kecil.

Ketika kemarin saya harus pergi ke suatu tempat dengan bus kota, maka yang pertama-tama yang saya lakukan adalah mencari tahu adakah bus kota melewati daerah itu. Saya mendapatkan jawaban ada, tetapi harus ke terminal dulu. Tidak jadi masalah pikir saya, karena di Jakarta harus berpindah bus tiga atau empat kali adalah biasa. Lalu saya berjalan keluar gang menuju ke sebuah jalan di sebelah utara kampung yang menurut ukuran Yogya adalah jalan besar. Setelah menunggu hampir 15 menit di situ, saya memutuskan untuk berjalan beberapa ratus meter untuk menuju ke perempatan Gading yang saya lihat lebih banyak bus kota yang lewat. Toh saya menuju terminal, tempat akhir dari semua rute bus kota. Sebenarnya jalan besar di utara kampung juga dilewati bus kota, tetapi saya tidak cukup sabar menunggu. Di perempatan Gading, bus yang saya tunggu datang 15 menit kemudian. Di dalam bus saya adalah penumpang keempat, yang setelah tiga perempatan berikutnya, saya adalah satu-satunya penumpang di bus dengan kapasitas 25 tempat duduk itu. Lalu kernet bertanya apakah saya menuju ke terminal. Ketika saya menjawab iya, dia lalu memberitahu sopir sehingga sang sopir membelokkan bus keluar dari rute sebenarnya, melalui jalan pintas, untuk menghemat waktu dan bahan bakar. Waktu perjalanan ke terminal cuma sekitar 10 menit.

Di terminal saya lihat sopir membayar uang retribusi di pintu masuk yang sayangnya tidak saya ketahui jumlahnya. Di dalam terminal saya menunggu bus jalur lain yang akan mengantarkan saya sampai tujuan. Berkali-kali saya harus menolak calo penumpang, yang menurut saya lebih cocok dipanggil ’preman terminal’ karena peran mereka yang kecil dalam mendapatkan penumpang, penumpang umumnya sudah tahu mau naik jalur berapa.

Di bus kedua saya mendapati beberapa kenyataan. Sopir mengemudikan bus dengan serampangan. Belum lagi si kernet me-’malak’ penumpang dengan minta ongkos 3 ribu memakai alasan ’Lebaran’, padahal seharusnya 2 ribu. Untung saya tidak ikut dipalak, entah karena bertampang miskin atau preman🙂 .

Semua itu membuat saya berkesimpulan, angkutan kota Yogya dalam keadaan sekarat dan menuju kematian. Ada sebuah lingkaran setan yang sukar dipecahkan. Semakin sedikitnya penumpang membuat kru angkot stres dan bertindak sembarangan. Tiap hari harus mengejar setoran, belum ditambah bayar retribusi, calo penumpang dan timer (dua kata lain dari ’preman’) . Memalak penumpang, memotong rute perjalanan dan kebut-kebutan lalu sering dilakukan. Akibat kelakuan tersebut, penumpang justru semakin sedikit. Bagi saya yang asli Yogya dan pernah bertahun-tahun bergantungan di bus kota, pengalaman kemarin cukup mencemaskan, apalagi buat para pelancong.

Entah solusi apa yang harus dilakukan, yang jelas bus kota menuju kematian. Bagi penumpang seperti saya, menunggu bus kota berlama-lama, dan coverage sempitnya adalah masalah. Belum was-was digerayangi copet. Kredit sepeda motor tanpa uang muka tentu lebih menggiurkan, walau sebenarnya kata ’tanpa uang muka’ cuma kata pemasaran belaka, karena harus bayar cicilan pertama. Terbesit pikiran untuk mengganti bus-bus besar itu dengan angkot yang lebih kecil, sehingga jumlah bisa diperbanyak dan jalur diperluas hingga ke jalan-jalan yang lebih kecil. Tetapi jika Anda tinggal di Depok – Jawa Barat, mungkin Anda yang pertama kali tidak setuju karena angkot seperti itu adalah penyebab kesemrawutan. Atau mungkin busway atau monorail sekalian🙂 , yang di Jakarta saja masih jadi kontroversi. Yang jelas angkutan umum massal adalah penting, sebelum jalan-jalan kota penuh sesak dijejali kendaraan pribadi.

3 tanggapan untuk “Lumpuh di Yogya”

  1. Mas-e sebenarnya mau kemana darimana je?
    Ndak mesti harus ke terminal dulu loh biasanya (kalo apal).
    Yang agak susah itu biasanya kalo ke pinggiran (daerah di luar ring road).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s