Penentuan Awal Bulan Qamariah

Penentuan awal bulan tahun qamariah (lunar year), apalagi jika dikaitkan dengan dua bulan penting dalam sistem penanggalan Islam -Ramadhan dan Syawal- selalu menjadi peristiwa yang penuh hiruk-pikuk. Setidaknya di Indonesia, dimana terjadi dualisme sistem penanggalan. Bagi yang terbiasa dengan tahun syamsiah (solar year), sistem qamariah membingungkan dan penuh ketidakpastian. Apalagi sekarang, ketika banyak orang mengganggap sumber daya bernama waktu itu semakin lama semakin berkurang. Jadwal-jadwal tersusun mungkin tidak hanya untuk beberapa hari namun juga bulan ke depan. Termasuk bagi saya, jadwal antri tiket mudik :)

Periode bulan mengitari bumi yang sekitar 29,5 hari membuat bulan dalam sistem qamariah dapat 29 atau 30 hari. Waktu 29,5 ini pun tidak persis sehingga tidak dapat ditentukan, katakanlah bulan pertama 30 hari, bulan kedua 29 hari, bulan ketiga 30 hari, dan seterusnya.

Hisab vs Rukyat

Ada dua metode yang dipakai untuk menentukan awal bulan, yaitu menghitung (hisab) dan melihat langsung (rukyat).

Rukyat, selain kuat dari segi hukum (syariat) agama, juga kuat karena melihat langsung. Sedangkan kelemahannya adalah tidak terduga. Penentuan awal bulan ditentukan saat matahari mulai tenggelam. Dapat dibayangkan betapa repotnya jika Idul Fitri baru dapat ditentukan pada malam sebelumnya. Demikian pula sholat tarawih pertama mungkin tidak dapat dilakukan tepat setelah sholat isya’ karena harus menunggu penetapan. Pada masa lalu hal ini mungkin tidak masalah, namun kondisi masyarakat sekarang berbeda. Belum lagi jika langit tertutup awan sehingga ufuk (horizon) tak dapat diamati.

Hisab dapat menentukan awal bulan jauh sebelumnya, bahkan 10-20 tahun ke depan dapat dihitung sekarang. Tidak ada cuaca yang menghalangi. Namun hisab memiliki kelemahan di hukum dan kemungkinan kesalahan karena yang dihitung bukan angka yang pas, perlu dilakukan kalibrasi secara berkala.

Kenapa di jaman serba komputer sekarang ini, masih saja terjadi perbedaan perhitungan awal bulan? Atau lihat saja pakai teleskop canggih?
Kenapa pada saat penentuan waktu shalat tidak ada yang berselisih tapi jika awal bulan sering berselisih?

Benar sekali, sekarang ini hisab memang mendominasi. Mungkin sekarang sudah tidak ada lagi yang menggunakan jam matahari (jangan dikacaukan dengan tahun berdasar matahari). Mungkin para muadzin tidak lagi tahu bahwa cara menentukan sudah masuk waktu subuh adalah dengan membedakan benang putih dan benang hitam di kegelapan malam. Namun bagi yang memegang teguh aspek legalitas tentu tidak dapat meninggalkan rukyat.

Toh masalah perselisihan itu bukan pada perbedaan hisab dan rukyat. Bukan pula pada perbedaan perhitungan, melainkan pada persepsi tentang ‘awal bulan’ atau ‘bulan baru’. Bagi penganut hisab haqiqi wujudul hilal (seperti Muhammadiyah), jika secara perhitungan hilal (bulan mati/baru) sudah terbentuk di atas ufuk, berapapun derajatnya (asal positif), berarti telah masuk awal bulan, persis seperti definisi fisika.

Namun ulama yang lain berpendapat lain, bahwa secara perhitungan hilal tidak mungkin terlihat jika terbentuk di bawah 2 derajat, sedangkan Nabi menyuruh ‘melihat’, bukan ‘menghitung’. Jadi bagi mereka selain terbentuk di atas ufuk juga harus lebih dari 2 derajat. Bahkan ada ulama yang mensyaratkan 4 derajat. (Angka-angka tersebut berdasar yang saya ingat, jika ada yang mengoreksi tentu saya berterima kasih)

Di sinilah letak permasalahannya, yang jelas tidak bisa diselesaikan dengan komputer atau teleskop secanggih apapun. Jika hilal terbentuk di bawah 2 derajat, kemungkinan besar terjadi perbedaan penentuan awal bulan. Jika lebih dari 2 derajat, kemungkinan besar akan bersamaan.

Kalau saya yang penting sama dengan Mekkah..

Silakan, itu juga keyakinan. Hal ini terutama berhubungan dengan Hari Arafah, sehari sebelum Idul Adha. Ada yang berpendapat, Ramadhan dan Idul Fitri boleh beda, tapi Hari Arafah harus sama dengan orang yang beribadah haji. Tapi bukankah penentuan Hari Arafah (9 Dzulhijjah) itu juga akibat penentuan bulan baru (1 Dzulhijjah)?

Bumi itu bulat dan berotasi, sedangkan bulan mengelilingi bumi, jadi bisa saja di sini hilal belum terbentuk, tapi di Arab sudah. Lagi pula konsep ‘hari yang sama’ itu juga persepsi manusia. Kesepakatan antar manusialah yang menentukan garis (imajiner) perubahan hari/tanggal di Samudera Pasifik. Jika kita naik pesawat ke Amerika Serikat melalui Hawaii, tanpa memakai mesin waktu pun kita akan sampai di sana sehari sebelum kita berangkat.

Ilustrasi ekstrimnya, seandainya saja kesepakatan internasional garis itu jatuh membelah Jakarta, memisahkan Jakarta Pusat dengan Jakarta Timur. Maka kereta api yang berangkat dari Gambir hari Sabtu pukul 08.00 (waktu Jakarta Pusat) dan tiba di Jatinegara 10 menit kemudian, menurut waktu Jatinegara (Jakarta Timur) adalah tiba hari Jum’at pukul 08.10. Jadi bisa ‘beda hari’ meskipun hanya beda 10 menit.

Lalu mungkin Anda akan berpendapat, daripada pusing-pusing mending ikut pemerintah, ya terserah. Saya tidak mencoba untuk memaksakan keyakinan dan pendapat, saya hanya membeberkan apa yang menurut saya pahami, sehingga orang tahu duduk permasalahan tentang perselisihan penentuan hari raya. Semoga bermanfaat.

3 pemikiran pada “Penentuan Awal Bulan Qamariah

  1. temenku awal puasa kemarin debat sama orang turki di masjidnya karena masjid turki mulai puasa sehari sebelum. si turki bilang harus nurut keputusan masjid turki karena memang kaum islam turki mayoritas disini, tapi temenku tetep ikut keputusan dari KBRI, alesannya karena itu keputusan dari pemimpin yang dipilih dan dipercayainya :) btw kok kayaknya taun ini bareng ya mas mulainya? lebarannya juga ndak?

    1. Kalo menurutku harus sesuai dengan keputusan ulama setempat, lagi-lagi karena bumi bulat. Lha kalo di Belanda? Ya ga tau siapa hehehe… ,tapi mestinya ada otoritas/badan/lembaga yg menentukan waktu sholat di situ kan? Entah orang turki atau orang mana.

      Awalnya bersamaan tapi sepertinya Idul Fitri enggak. Kalender Pemerintah tanggal 21 September, Muhammadiyah tanggal 20. Meskipun banyak yang (secara resmi) bukan anggota Muhammadiyah, tapi banyak yg ngaku hanya akan puasa 29 Hari. :D

  2. Kalau saya pakai datanya USNO-NASA. Seperti lebaran yang lalu, tanggal 29 Agustus 2011 saya minta data mereka. Saya masukkan koordinat kota Surabaya (112 derajat 44 menit BT, 7 derajat 14 menit LS) pada tanggal itu saya klik komputer memberi data bahwa sudah terjadi conjuction/new moon/ijtima’ pada pukul 10.04, matahari terbenam pk 17.29 dan bulan terbenam pk 17.37. Karena new moon sudah terjadi dan matahari terbenam 8 menit lebih dulu sebelum bulan maka maghrib tanggal 29 Agustus 2011 sudah tanggal 1 Syawal.

    Pernah terjadi pada tahun 2008 conjuction/new moon pukul 16.20, matahari terbenam belakangan dibanding terbenamnya bulan, maka mghrib hari itu belum tanggal 1 dzul hijjah. Maghrib besoknya baru tanggal 1. Tapi ternyata Saudi sudah menentukan itu tgl 1 dzul hijjah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s