Entah bagaimana jika di alam liar, namun itik yang diternak mempunyai cerita menarik.
Itik mempunyai badan yang kurus sehingga kurang cukup panas untuk mengerami telurnya sendiri. Sebelum ada lampu listrik, telur itik dititipkan ayam untuk dierami. Naluri binatang sering lebih toleran terhadap perbedaan. Setidaknya ayam membiarkan ada telur yang berbeda saat mengeram. Demikian pula ketika menetas, ada ‘anak’ yang berbeda dengan anak lainnya, bahkan berbeda dengan induknya. Sang itik kecilpun tetap diasuh dan diberi makan, dengan cara ayam tentunya. Diajari mematuk dan mencakar-cakar tanah.
Namun seiring waktu, keberlangsungan hidup itik tergantung pada kesadaran dan instingnya. Bahwa dia bukan ayam. Benar dia telah dierami dan dibesarkan ayam, tapi paruhnya tidak cocok untuk mematuk. Kaki selaputnya lebih cocok untuk berenang daripada mencakar-cakar tanah.
Itik tetaplah itik. Kwek-kwek tidak akan menjadi petok-petok atau bahkan kukuruyuk.
