Ternyata keberadaan 16 stasiun tv, vcd player hadiah kredit sepeda motor beserta vcd/dvd bajakan, dan paket “nonton hemat” di bioskop, tak juga membunuh minat orang untuk nonton layar tancap. Yah, barang gratis apa sih yang kita lewatkan?
Kemarin malam seorang tetangga yang menikahkan anaknya menyediakan tontonan langka itu. Ini pertama kalinya bagi saya melihat layar tancap sejak belasan tahun lalu. Layar tancap terakhir yang saya ingat adalah yang diputar oleh Departemen Penerangan, yang disela film diisi penerangan Keluarga Berencana. Dan mendapatinya di masa kini, di batas ibukota, cukup mencengangkan saya. Meskipun saya pernah melihat liputan tv tentang bisnis layar tancap ini, yang pernah jaya seperti Wayang Orang Bharata dan bioskop daerah gambir.
Menonton layar tancap tentu tak senyaman bioskop atau di rumah, tetapi dia bisa menjadi jembatan anatara keduanya. Anda tetap dapat merokok, makan dan minum apa yang Anda sukai, nonton dalam posisi sesuka Anda asal tidak menghalangi yang lain, dan dengan gambar yang besar dan suara yang menggelegar.

saya suka layar tancap…mantab
Oleh: Hedi on 24 Maret 2008
at 10:50
Jadi inget sewaktu Kuliah Kerja Nyata, untuk perpisahan, kami semua patungan untuk menyelenggarakan layar tancep di desa tersebut, filmnya pun jadul-jadul, kayak brama kumbara + india, mantab degh….
Oleh: Klanjabrik on 31 Maret 2008
at 09:39
niat juga tetangganya. kirain orang sekarang kenduri pake orgen tunggal aja. bootdir nontonnya bawa autan atau sarung yak?
Oleh: mpokb on 2 April 2008
at 11:16
@Hedi : Kayak infak komen…:)
@Klanjabrik : Kemarin filmnya macem-macem, dari film Indonesia sampe Mandarin, tapi semuanya jadul.
@Mpok : Malam berikutnya bikin panggung dangdutan Mpok. Pokoknya dua hari ga bisa tidur nyenyak deh..
Oleh: bootdir on 4 April 2008
at 10:05
Bisnis layar tancap saat ini cukup potensial,karna hemat,Konsumen g perlu panggung en tenda,lagian modalnya g sgede OT/OM
Oleh: Ewin on 21 September 2009
at 18:46